| Obama dan Dunia Islam (II) |
|
|
|
| Friday, 26 June 2009 | |
|
oleh : Ahmad Syafii Maarif
Di Timur, Cinta menjadi basis kehidupan. Melalui Cinta, Intelek tumbuh berkenalan dengan Realitas, Dan Intelek memberikan stabilitas kepada kerja Cinta, Bangkitlah dan letakkan fondasi sebuah dunia baru, Melalui perkawinan Intelek dengan Cinta. Bait ini pernah dikutip Hakim Agung Amerika Willaim O. Douglas dalam kata pangantar terhadap karya editing Hafeez Malik, Iqbal: Poet-Philosopher of Pakistani (1971). Jika kita mau berfikir positif, sebenarnya Amerika di bawah Obama telah menunjukkan sinyal ke arah perubahan mendasar dan perdamaian dunia yang telah lama redup, baik oleh situasi Perang Dingin sebelumnya, maupun oleh kerakusan Amerika dan Inggris untuk menguasai ladang-ladang minyak di dunia Arab. Menurut saya nalar positif inilah yang harus dikembangkan oleh dunia Islam dalam menyambut tawaran-tawaran Obama. Bahwa Obama ingin memoles citra politik luar negeri Amerika yang babak belur akibat kelakuan neo-kon yang tuna-nalar, saya rasa sah-sah saja, sesuatu yang memang wajib dilakukannya. Barangkali dari sisi pertimbangan inilah Hillary Clinton, saingan utama Obama dalam konvensi Partai Demokrat, justru diangkat menjadi menteri luar negeri dalam kabinetnya. Dalam struktur politik Amerika, kedudukan menlu berada dalam ranking tiga setelah presiden dan wakil presiden. Dengan cara ini, Obama ingin menunjukkan bahwa mantan “musuh” dapat dijinakkan, demi meraih tujuan yang lebih besar. Pendekatan serupa ini pulalah yang kini sedang dirintis Obama dalam "menjinakkan" Iran terkait dengan program nuklirnya yang menghebohkan itu. Semestnya, jika nanti posisi dalam negeri sudah cukup kuat, Obama tidak perlu ragu-ragu lagi untuk menekan keras Israel, biang kerok utama kekacauan dunia, sehingga bertekuk lutut untuk bersedia menjadi bagian dari kemanusiaan sejagat, untuk meminjam ungkapan Gilad Atzmon, pemusik dan mantan Zionis itu. Selanjutnya dalam pidato Kairo itu, Obama mengemukakan tujuh butir masalah penting umat manusia yang harus mendapat perhatian sungguh-sungguh dalam membangun sebuah peradaban yang lebih adil dan cerah. Karena Republika telah mengulas butir-butir ini, saya hanya menyinggung selintas saja lagi. Pertama, masalah ekstremisme politik-agama yang harus dicarikan penyelesaian segera; kedua, konflik Palestina-Israel yang tidak boleh dibiarkan terkatung-katung. Sebuah Palestina merdeka harus secepatnya menjadi kenyataan; Ketiga, pebangunan nuklir yang harus diawasi, terutama ditujukan kepada Iran yang harus didekati secara lebih arif, tidak seperti rezim Amerika sebelumnya; Keempat, cita-cita demokrasi yang sedang menjadi gelombang besar peradaban, tetapi tidak dipaksakan kepada bangsa yang belum siap untuk itu; Kelima, perlunya kemerdekaan agama dijamin secara penuh; Keenam, hak-hak perempuan yang mesti ditegakkan dan dihormati; Ketujuh, pembangunan ekonomi dan peluang yang terbuka bagi semua bangsa, sekalipun globalisasi bagi banyak bangsa telah memunculkan suasana saling bertentangan. Dalam pidato Kairo, Obama tidak lupa mengutip terjemahan bagian surat al-Hujurat: 13: "Wahai manusia! Kami telah menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan; dan telah Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain." Juga ayat-ayat Kitab Talmud dan Bible telah pula dikutip tentang mustahaknya terciptanya perdamaian dunia yang abadi. Saya harap para pembaca juga menyimak pidato Kairo ini secara utuh dengan sikap kritikal. Dengan sikap ini, kita akan terbebas dari prasangka yang tidak perlu. Sumber : http://www.republika.co.id/koran/28/57847/Obama_dan_Dunia_Islam_II |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 03 July 2009 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|















Dengan mengembangkan studi oksidentalisme yang berkualitas tinggi,
dunia Islam akan mampu belajar dari unsur-unsur peradaban Barat yang
dinilai positif dan menyingkirkan semua yang buruk dan busuk. Bukankah
menurut al-Qur’an, baik Timur maupun Barat adalah milik Allah belaka?
(Lih. surat al-Baqarah: 142). Mengapa kemudian orang masih saja
menempatkan Barat dan Timur dalam sebuah dikotomi yang tak
terjembatani, seperti hipoteis mendiang Samuel P. Huntington dalam
karya The Clash of Civilizations (cetakan pertama tahun1996) yang sarat
kontroversi itu? Sebenarnya Iqbal jauh lebih visioner dalam menatap
hubungan Tiumur-Barat. Cobalah baca bait berikut ini: