| Obama dan Dunia Islam I |
|
|
|
| Thursday, 18 June 2009 | |
|
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Hubungan kedua kekuatan itu semakin di perparah oleh munculnya kelompok minoritas, yang memanfaatkan kondisi yang penuh ketegangan untuk menangguk di air keruh. Tetapi, Obama tidak menyinggung bahwa pemicu ketidakstabilan global ini justru datang dari kaum neo-kon (neo-konservatif) Amerika dengan kepala sukunya Presiden George W Bush, seorang fundamentalis kristen yang bekerja sama dengan kaum Zionis yang mencitrakan Islam sebagai neo-fasis. Mantan Dubes Amerika untuk Indonesia, Paul D Wolfowitz, yang kebetulan saya kenal, adalah salah seorang arsitek utama yang memperburuk hubungan Islam dengan Barat, khususnya dengan Amerika Serikat. Obama memang sangat harti – hati untuk tidak menyebut nama para petualang ini dalam pidatonya di Kairo, sebab resiko buruknya amatlah besar bagi dirinya sebagai Presiden kulit hitam pertama di negeri yang didominasi kulit putih itu. Dengan demikian, umat Islam dunia jangan terlalu berharap bahwa Obama akan memuaskan mereka yang sudah sekian lama menderita sakit hati, akibat politik neo-Imperialis Amerika yang pongah itu. Sebuah pidato di Kairo yang berterus terang menyebut penderitaan palestina akibat kezaliman Israel, menunjukkan bahwa Obama ingin menegakkan keadilan, tetapi tidak dengan menafikkan eksistensi Israel. Keadilan itu hanyalah mungkin jika Palestina segera memiliki sebuah negara merdeka berdampingan dengan Israel, sebuah opsi yang ditentang kaum Zionis sejak puluhan tahun yang lalu. Perdana menteri Benjamin Netanyahu yang dikenal sebagai seorang Zionis kepala batu, akan menjadi penghalang utama bagi Obama dalam mencapai cita-cita perdamaiannya di dunia Arab. Melihat situasi yang sarat dilema ini, negara-negara Arab semestinya memainkan kartu diplomasi canggih dalam dalam menyikapi tawaran-tawaran Obama seperti yang terbaca dalam pidato Kairo itu. Tetapi, kitapun sadar bahwa dunia Arab yang kaya minyak itu telah lama lumpuh karena perpecahan sesama mereka. Sebagian bahkan tidak ikhlas dalam membela kemerdekaan Palestina. Sementara itu. Iran di bawah Presiden Ahmadinejad yang sangat vokal ingin mengubur Israel, justru dicurigai oleh sebagian besar negara Arab sebagai kekuatan yangingin merajai kawasan teluk. Bagi saya, selama kaum Muslimin masih saja memberhalakan sunnisme dan syi’isme di atas Alquran,selama itu pulalah apa yang dirindukan persaudaraan universal Islam tidak akan pernah menjadi kenyataan. Selama pertimbangan kekuasaan dan kekayaan duniawi yang lebih berkuasa dalam otak dan hati umat Islam, waktu masih akan cukup lama untuk melihat terwujudnya sebuah Islam yang berwibawa secara global, sekalipun bukan sesuatu yang mustahil. Ke arah cita-cita besar dan mulia inilah seharusnya bola peradaban Islam digulirkan, bukan kearah kepentingan sesaat dan pragmatis yang dapat membutakan hati dan nalar sehat. Karena Obama telah membuka cakrawala baru dalam konstelasi hubungan Islam dan Barat. Peluang ini jangan disia-siakan oleh semua pihak untuk di realisasikan dalam tempo dekat ini. Barat tidak mungkin lagi terus menipu umat Islam dengan segala slogan palsu. Era kolonialisme telah berakhir. Sebaliknya, umat Islam harus lebih mengenal Barat melalui pengembangan studi oksidentalisme (kajian akademik tentang perdaban Barat) di perguruan tinggi mereka, sesuatu yang sangat perlu, tetapi yang belum ada wujudnya hampir pada semua negeri Muslim. Untuk memahami tawaran Obama, Barat harus menghentikan arogansi ilmu dan teknologinya dengan cara memandang Islam sebelah mata. Sumbangan besar peradaban Islam masa lalu terhadap dunia yang di singggung Obama dalam Pidatonya bukan sesuatu yang dibuat-buat, tetapi sepenuhnya berdasarkan bukti-bukti sejarah yang kuat dan benar. Sumber : Republika versi cetak, Selasa 16 Juni 2009 ( halaman 6 |
|
| Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 18 June 2009 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|






















