|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Beberapa waktu yang
lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang haramnya
pluralisme agama di samping sekularisme dan liberalisme. Fatwa itu
telah memicu gelombang prokon (pro-kontra) dengan argumen
masing-masing. Tetapi, sejauh pengetahuan saya, belum ada kajian yang
mendalam dan meluas tentang isme-isme itu jika dilihat dari pandangan
Islam. Cendekiawan muda NU, Abd Moqsith Ghazali, dengan karyanya yang
berjudul Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Alquran
(Jakarta: KataKita, 2009, 401 halaman) telah mengurai masalah
pluralisme agama sebagai salah satu isu yang diharamkan itu melalui
pendekatan akademik yang imbang. Terbukalah peluang sekarang bagi siapa
saja yang ingin melihat masalah ini dengan kacamata yang lebih jernih
tanpa emosi untuk membedah tesis-tesis Moqsith ini. Para mufti MUI saya
anjurkan agar tidak ketinggalan pula menelaah karya Moqsith ini dengan
hati dan otak yang terbuka. Adapun hasil telaah itu nanti bisa saja
menguatkan tingkat keharamannya atau bisa juga menjurus kepada
pencabutan fatwa yang telah dikeluarkan itu.
Pada ranah pemikiran Islam kontemporer bagi Indonesia, iklimnya sudah
semakin kondusif untuk bertukar pendapat demi mencari kebenaran, bukan
mencari yang lain. Gelombang kebangkitan kaum intelektual muda Muslim
dengan berbagai latar belakang subkultur sedang semakin membesar.
Fenomena ini sungguh sangat membesarkan hati. Peran pesantren plus
IAIN/UIN bagi kelahiran anak-anak muda pemikir ini sangat sentral.
Mereka tidak hanya sibuk dengan kitab kuning, tetapi sekaligus
menguasai kitab putih, baik yang ditulis oleh Muslim maupun non-Muslim.
Dr Abd Moqsith Ghazali adalah salah seorang di antara mereka yang
berani berpikir bebas secara bertanggung jawab, baik dilihat dari sisi
iman maupun dari sisi disiplin ilmu.
Adapun, misalnya, temuan
mereka ini bercanggah dengan pendapat yang telah dinilai mapan, jangan
cepat-cepat dihukum dengan ekskomunikasi. Jalan terbaik adalah
mengikuti sumber bacaan mereka, baik yang ditulis dalam bahasa Arab
maupun bahasa asing lainnya. Dan, akan lebih bijak lagi jika penafsiran
terhadap sumber-sumber itu saling berlawanan. Solusinya mudah sekali,
yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur antara para pihak yang
bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata "sesat, agen
zionis, atau agen Barat" bukanlah cara kaum yang beradab. Mari, kita
sama-sama melepaskan prasangka lebih dulu. Lalu, kita adu argumen
dengan menjadikan alquran sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu, kita
gunakan sumber-sumber lain, baik yang ditulis oleh ulama klasik maupun
yang kontemporer sebagai pelengkap rujukan. Karya-karya klasik umumnya
ditulis dalam bahasa Arab, sedikit dalam bahasa Persi. Sedangkan,
bahasa yang digunakan dalam karya-karya modern jauh lebih kaya: Arab,
Urdu, Turki, Persi, Indonesia, Inggris, Jerman, Prancis, Belanda,
sedikit Italia, Spanyol, Rusia, dan lain-lain.
Karya Argumen Pluralisme Agama telah mencoba membongkar sumber-sumber klasik dan modern dalam berbagai bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia. Dalam endorsement KH A Mustofa Bisri atas karya Moqsith ini, kita baca sebagai apresiasi sebagai berikut.
Buku ini tak sekadar wacana dan pernyataan karena kobaran ghirah
keberagamaan atau semangat pembaruan, tapi seperti yang akan segera
pembaca ketahui, itu merupakan hasil kerja keras penelitian. Penelitian
secara ilmiah tentang sesuatu yang sebenarnya atau seharusnya bukan
menjadi masalah. Tapi, bagi mereka yang menjadikan kemapanan sebagai
mazhab, mungkin buku yang ditulis Muslim muda, Abd Moqsith Ghazali, ini
dianggap baru, bahkan mengagetkan. Bagi saya, karya ini adalah sebuah
kegigihan akademik yang bernilai tinggi dan pasti punya jangkauan jauh.
Akhirnya,
saya belum perlu mengupas kandungannya, tetapi ingin mengimbau para
pembaca untuk mengikutinya sendiri. Kemudian, beri penilaian secara
jujur, kritikal, dan objektif. Jika ada pihak yang sangat keberatan
dengan tesis-tesis utama pengarangnya, tulislah pula karya lain untuk
membantahnya. Kemudian, publik diberi kesempatan luas untuk
membandingkannya. Saya merindukan lahirnya sebuah iklim intelektual
kelas tinggi di kalangan umat Islam Indonesia, di mana peradaban otak
dan hati dapat mengalahkan 'peradaban' otot dan teriakan kasar! |