|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Tentu warga Muhammadiyah berterima kasih kepada harian Republika
yang selama beberapa hari telah menyediakan ruang khusus untuk meliput
Sidang Tanwir Muhammadiyah yang kali ini diadakan di Hotel Sheraton
Bandar Lampung, 5-8 Maret 2009. Dibuka oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan ditutup oleh Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Ahad sore.
Agak di luar perkiraan saya semula tentang kesiapan PWM (Pimpinan
Wilayah Muhmmadiyah) Lampung sebagai tuan rumah bagi tamu yang
berjumlah sekitar 200 orang, ternyata penyelenggaraan Tanwir cukup
bagus dan tertib.
Mengapa harus di hotel? Apakah Muhammadiyah dengan cara demikian itu
tidak semakin 'jauh' dari rakyat banyak yang jarang masuk ke hotel
berbintang? Pertanyaan model ini tentu sah saja untuk dilontarkan,
tetapi sudah tidak relevan lagi jika dikaitkan dengan tuntutan
efisiensi dan kemudahan. Dalam hubungan ini, apa yang disampaikan oleh
Ketua PP Muhammadiyah, Prof A Malik Fadjar, menarik untuk dicatat: Muhammadiyah jangan dibawa ke jalan-jalan sempit, buntu lagi. Muhammadiyah itu besar, jangan mengerdilkan diri.
Dengan
semakin meluasnya kawasan urban di Indonesia yang sudah mencapai 58
persen, warga Muhammadiyah harus meninggalkan wawasan 'jalan sempit'
yang serbarural seperti yang masih tersisa pada sebagian warga.Tetapi,
orang tidak boleh salah paham bahwa Muhammadiyah kini telah berubah
menjadi gerakan Islam elitis, melupakan warga pedesaan yang sebagian
masih jauh tertinggal, tidak saja dari segi ekonomi, tetapi juga dalam
ranah pendididikan dan kesehatan.
Muhammadiyah tidak akan
pernah membeda-bedakan antara orang kota dan desa, semuanya akan
dilayani dalam batas kemampuan gerakan sosio-keagamaan modern ini.
Dengan demikian, Sidang Tanwir di sebuah hotel tidak ada
sangkut-pautnya dengan kemungkinan pergeseran sikap Muhammadiyah dalam
melayani masyarakat banyak. Kehadiran Muhammadiyah sejak awal
kelahirannya adalah untuk melayani dan mencerdaskan. Filosofi ini
tampaknya akan bertahan untuk selama-lamanya, karena memang itulah raison de'tre Muhammadiyah yang tahan banting sejarah.
Lampung
yang selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi yang termiskin di
Indonesia, dan Muhammadiyah berada di dalamnya, dengan tanwir ini,
kesan umum tentang serba kemiskinan itu mulai terhapus. Tentu
penglihatan selintas ini tidak mesti mewakili realitas masyarakat yang
sebenarnya, tetapi kesan positif itu berfungsi sebagai doa Muhammadiyah
agar wilayah Lampung cepat bebenah diri untuk menghalau kemiskinan itu
sampai ke batas-batas yang jauh. Dalam perspektif ini, kultur good governance
yang lagi gencar-gencarnya dilancarkan oleh Depdagri harus dijawab oleh
Pemda Lampung dan masyarakat secara keseluruhan dengan menunjukkan
sikap responsif dan proaktif.
Muhammadiyah harus berdiri paling
depan untuk turut serta memberikan jawaban positif itu. Tidak ada jalan
yang lebih efektif untuk menghalau kemiskinan itu, kecuali secepatnya
menerapkan secara jujur dan bertanggung jawab prinsip-prinsip good governance
berupa: keterbukaan, akuntabilitas, efisiensi, efektivitas,
partisipasi, dan sikap jujur. Muhammadiyah Lampung sebagai salah satu
kekuatan sipil harus mau berjibaku untuk menjadi mitra pemda dan
kelompok-kelompok yang hidup dalam masyarakat dalam upaya menegakkan
pilar-pilar tata kelola pemerintahan yang baik itu.
Tentu
mesti dimulai dari internal Muhammadiyah sendiri terlebih dulu. Dalam
mengelola amal usaha yang bertebaran itu, pimpinan Muhammadiyah
setempat agar dapat dijadikan teladan oleh berbagai pihak. Dan itulah
dakwah dalam format yang konkret. Dengan penyelenggaraan tanwir yang
berjalan lancar ini, semoga menjadi pertanda bahwa Muhammadiyah Lampung
memang sudah siap untuk berlomba dengan Muhammadiyah di wilayah-wilayah
lain yang bilangannya sudah berada di angka 33, sesuai dengan jumlah
provinsi di Indonesia.
Sebuah pengakuan disampaikan kepada
saya oleh Ketua PWM Banten bahwa Tanwir Lampung ini lebih bermutu dari
tanwir-tanwir sebelumnya, dilihat dari sisi manapun. Para pemakalah
yang diundang PP dalam tanwir ini, menurut peserta hampir seluruhnya
bermutu tinggi dari segi muatan dialog pencerahan. Suasana damai dan
serius dalam sidang-sidang adalah indikator bahwa Muhammadiyah sudah
semakin piawai dalam menata manajemen organisasi. Isu-isu politik
kontemporer ditanggapi peserta secara biasa saja, tidak ada urat leher
yang harus tegang, seperti pengalaman dalam Tanwir Denpasar dan
Makassar beberapa tahun yang lalu. Bravo PWM Lampung!
Sumber : www.republika.co.id |