|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Kematian tragis Ketua
DPRD Sumatra Utara, Abdul Aziz Angkat (51), pada 4 Februari 2009,
karena ulah demonstran yang beringas dalam upaya menuntut terbentuknya
Protap (Propinsi Tapanuli), adalah sebuah tragedi bagi demokrasi. Aziz
Angkat yang baru dua bulan lebih beberapa hari memegang jabatannya
sebagai ketua DPRD, mengapa harus dikorbankan? Brutalitas dan
keberingasan sebagian kecil warga negara yang pendek akal dan sempit
hati adalah musuh demokrasi. Jika tidak dibendung oleh aparat penegak
hukum secara tegas, ujungnya hanya satu: demokrasi akan menjadi
malapetaka.
Fakta yang semacam itulah yang tengah mengitari perpolitikan Indonesia
sekarang ini dalam berbagai bentuk. Bentuk yang paling ekstrem adalah
perbuatan yang merenggut nyawa seseorang. Adapun berita yang mengatakan
bahwa Aziz Angkat meninggal karena serangan jantung adalah dalih yang
dicari-cari. Bukankah Angkat sebelumnya telah dipukul? Yang lebih
ironis lagi adalah para pendemo itu juga terdiri atas mahasiswa sebuah
perguruan tinggi swasta di Medan, selain para pendukung Protap. Sebagai
manusia terdidik, mahasiswa semestinya tidak turut dalam perbuatan
biadab itu.
Oleh sebab itu, tindakan tegas tanpa pilih kasih
dari aparat penegak hukum sangat diperlukan agar sadisme politik yang
membawa maut ini tidak menular ke berbagai daerah lain yang juga cukup
rentan ketika menghadapi isu pemekaran daerah. Di belakang maraknya
demonstrasi model ini, pasti berdiri para aktor intelektual lokal
dengan ambisi politik yang sangat menggebu, tak terkendali. Di samping
aktor, tentu diperlukan cukong untuk mendanai demo yang telah pula
dijadikan mata pencarian oleh sebagian anak muda yang sulit mendapat
pekerjaan. Maka, perkawinan antara aktor, cukong, dan pelaku di
lapangan merupakan unsur utama untuk bergerak menuju sasaran politik
tertentu, dalam hal ini upaya pembentukan Protap.
Abdul Aziz
Angkat barulah merupakan salah seorang korbannya. Korban-korban lain
masih bisa berjatuhan jika perlindungan aparat terhadap pejabat negara
tidak maksimal, terlepas dari anggapan orang, apakah para pejabat itu
lurus atau bengkok. Pembunuhan politik sama sekali bukan solusi, tetapi
bisa menimbulkan dendam berkepanjangan di kalangan sesama anak bangsa.
Sungguh, kenyataan ini sangat ironis dan berbahaya bagi masa depan
demokrasi yang masih berada dalam posisi setengah gagal di Indonesia.
Gerakan
berantai pemekaran daerah mendapatkan momentum strategisnya dengan
adanya UU Otonomi Daerah No 22/1999 dan disempurnakan dengan UU No
32/2004. Tujuan UU ini secara substansial cukup positif untuk
memberdayakan daerah dalam proses pembangunan otonomi secara luas yang
dulu di bawah sistem politik yang serbasentralistik telah dianaktirikan
dalam tempo yang panjang. Tetapi, pelaksanaannya telah menuai kendala
dan rintangan yang menggunung, yang mungkin tidak diantisipasi saat UU
itu diberlakukan secara nasional. Rintangan terbesar sesungguhnya
datang dari persaingan politisi lokal dengan ambisi untuk segera tampil
sebagai pemimpin formal di kawasannya dengan semangat menggebu. Dengan
demikian, pemekaran daerah Dati I dan Dati II di Indonesia tidak
seluruhnya berdasarkan alasan-alasan objektif dan rasional. Bahwa
pemekaran perlu, tidak diragukan lagi.
Tetapi, sikap
ketergesaan tanpa perhitungan matang dan arif dalam konteks
keindonesiaan dapat memicu timbulnya perkara-perkara akut yang membawa
korban. Aziz Angkat yang sial itu barulah salah satu korban dari nafsu
pemekaran daerah yang tidak bertanggung jawab. Apakah aktor intelektual
yang bersembunyi di belakang peristiwa brutal itu masih merupakan
manusia normal atau sudah miring sehingga menjadi gelap mata?
Kejelasan
perinci dari pihak yang berwewenang dan pers tentang tragedi maut ini
harus diberikan kepada publik secara apa adanya, tidak ada yang
ditutupi. Siapa tahu tragedi Sumatra Utara ini tidak menular ke
daerah-daerah lain di Indonesia. Aziz Angkat dibinasakan justru saat
menjalankan tugasnya dalam memimpin sidang DPRD. Menurut keterangan
pihak keluarga, Aziz Angkat pada malam dan di pagi hari nahas itu cukup
sehat, sekalipun dulu pernah operasi jantung. Selamat jalan Bung Aziz
Angkat, pejuang demokrasi!
Sumber : www.republika.co.id |