|
Oleh Syafii Maarif
Pertanyaan ketiga, apakah
dalam benak pemimpin kedua sayap umat ini sudah pernah muncul gagasan
dan wawasan tentang masa depan Indonesia dalam rentang waktu 20 tahun
yang akan datang? Atau, kita membiarkan diri kita mengalir begitu saja
sampai bangsa ini meluncur ke jurusan yang semakin tidak bermartabat
karena elite yang main di panggung adalah mereka yang tunavisi? Saya
paham bahwa tarikan politik kekuasaan sangat menggoda, ditampakkan atau
disembunyikan oleh pemimpin kedua arus besar itu, tetapi haruslah
selalu tersedia stok intelektual yang belajar berpikir sebagai
negarawan, tidak larut dalam serbapragmatisme politik yang dapat
menguras segala-galanya. Bahwa, kekuasaan itu penting, saya tidak
menyangkal. Tetapi, yang lebih penting secara moral adalah jawaban
terhadap pertanyaan: untuk apa berkuasa? Pertanyaan kunci ini tampaknya
jarang singgah dalam otak para elite bangsa yang sedang menggelar dan
mengadu retorika di panggung politik kekuasaan selama 10 tahun terakhir.
Pertanyaan keempat, apakah Muhammadiyah dan NU cukup puas dengan
kondisi keislaman, seperti yang diamati dan dirasakan sekarang ini yang
belum mampu menawarkan solusi komprehensif dan cerdas terhadap
masalah-masalah bangsa, negara, dan kemanusiaan yang semakin hari
semakin ruwet? Mengapa tokoh-tokoh mereka tidak berpikir jauh untuk
membongkar warisan ijtihad lama yang mungkin sudah tidak relevan untuk
memecahkan masalah kemanusiaan abad ini? Saya rasa, jawabannya sebagian
terletak pada kesibukan luar biasa para tokoh itu dalam mengurus
organisasi sehingga ketiadaan waktu untuk mengikuti arus pemikiran baru
yang tidak kurang dahsyatnya dibandingkan warisan klasik.
Ironisnya,
sebagian tokoh itu punya kecurigaan yang tinggi terhadap generasi
pemikir muda yang baru muncul dan yang dinilai tidak sesuai lagi dengan
kepribadian Muhammadiyah atau sudah menyimpang dari koridor aswaja. Apakah rumusan kepribadian Muhammadiyah atau doktrin aswaja sudah merupakan sesuatu yang final sehingga menjadi tabu untuk dibicarakan secara lebih mendalam?
Dengan
mengajukan empat pertanyaan itu, masih ditambah, saya ingin mengetuk
pintu hati dan pintu nalar para pemimpin kedua sayap umat itu untuk
merancang dialog secara berkala. Tema-tema besar yang dapat diusulkan
sebagai agenda menyangkut masalah kebudayaan, ekonomi, sosial, politik,
moral, kemanusiaan, lingkungan, situasi global, kapitalisme, dan 1001
isu lainnya. Anak-anak muda mereka pasti akan membantu seniornya dalam
menyiapkan bahan dialog inteletektual itu.
Melalui diskusi dan
dialog yang jujur serta bermutu tinggi, pasti akan banyak sekali
titik-titik temu yang akan diraih untuk kepentingan bangsa dan
kemanusiaan. Generasi yang lebih tua dan mungkin sudah sangat mapan
tidak boleh memandang enteng generasi baru yang sedang muncul dengan
kapasitas intelektual dan komitmen yang mungkin di luar dugaan kita
yang lebih senior.
Memandang generasi ini dengan sebelah mata
adalah sebuah kecongkakan yang berasal dari 'perasaan serbatahu'.
Padahal, realitas boleh jadi bertolak belakang dengan klaim yang
demikian itu. Inilah sebuah penyakit orang tua. Saya berada dalam
kategori itu, dalam format 'kultur museum' yang serbaantik, tetapi
sudah hampir kehabisan stamina untuk berurusan dengan tuntutan zaman
yang tak pernah berhenti bergulir. Saya sampaikan ini semua agar kita
yang lebih senior jangan sampai melecehkan kuncup-kuncup segar yang
mulai mekar karena mereka itulah nanti pada masanya yang akan
meneruskan kafilah perjalanan panjang yang telah dirintis dan
dikembangkan oleh generasi yang lebih awal.
Melalui kritik diri
ini, saya semakin sadar betapa berjibunnya kekurangan dan kelemahan
yang diidap oleh kita yang lebih tua, tetapi sebagian tidak mau
mengakui. Inilah di antara sebab seakan-akan kesenjangan berpikir
antargenerasi tidak dapat dijembatani. Rumusan yang benar tidak
demikian, tetapi ketidaksediaan untuk saling membuka diri secara berani
dan jujur merupakan faktor yang menyulitkan berlangsungnya dialog
konstruktif antara kedua generasi itu. Padahal, corak masa depan kita
di ranah pemikiran akan sangat ditentukan oleh hasil dialektika yang
terus-menerus dalam upaya mempertautkan kesenjangan visi intelektual
antargenerasi yang sebenarnya alami belaka.
Sumber : www.republika.co.id |