|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Akar Zionisme yang
berkembang kemudian semula berawal di Eropa Timur. Di akhir abad ke-19,
lebih dari separuh orang Yahudi sedunia hidup di tengah-tengah imperium
Tsar Rusia yang sedang oleng. Modernisasi Eropa menantang
penguasa-penguasa feodal ini. Revolusi mengancam untuk menghabisi
mereka dan orang-orang Yahudi dijadikan kambing hitam.
Tsar
Rusia telah berlaku kejam terhadap orang Yahudi. Maka, mulailah mereka
pindah ke Eropa Barat dan Amerika. Tetapi, di antara mereka ada
sekelompok kecil yang menerima imbauan yang sedang muncul dari kaum
Zionis dan pergilah mereka ke Palestina.
Dengan kejadian ini bermulalah sebuah sejarah panjang yang kemudian
berdarah-darah antara pendatang Yahudi di Palestina dan bangsa Arab.
Sampai di awal abad ke-21 ini, perdamaian abadi belum lagi menjadi
kenyataan di kawasan itu. Amerika dan Eropa Barat punya kepentingan
strategis terhadap negara Zionis Israel.
Pendatang Yahudi dari
Eropa Timur ini merupakan inti pendudukan Zionis di Palestina. Rose
menulis: ''Zionisme adalah sebuah gerakan kolonial yang didukung oleh
kekuatan-kekuatan imperial Barat.''
Pendatang-pendatang Zionis
mulailah menggusur petani-petani Arab yang telah mengerjakan tanah
selama berabad-abad di sana. Zionisme adalah juga sebuah proyek
imperialisme Barat. Inggris menduduki Palestina sebagai buah
kemenangannya dalam PD (Perang Dunia) I. Winston Churchil pada 1921
mengatakan, ''Zionisme baik bagi Yahudi dan baik bagi Imperium
Inggris.''
Pasca-Perang Dunia (PD) II, Amerika Serikat telah
menjadi kekuatan dominan di kawasan itu, dan selalu mendukung Israel.
Presiden Ronald Reagan tahun 1981 menjelaskan, ''Dengan sebuah militer
yang berpengalaman tempur, Israel adalah sebuah kekuatan di Timur
Tengah yang sungguh bermanfaat bagi kita. Sekiranya tidak ada Israel
dengan kekuatan itu, kita harus menyuplainya dengan kekuatan sendiri.''
Di akhir abad ke-20, Amerika telah mengucurkan dana sebesar 100 miliar
dolar AS demi mendukung Israel. Karena dukungan dahsyat inilah Israel
tetap bertahan, tetapi untuk berapa lama?
Usai PD II, pihak
Zionis menjadikan pembinasaan Nazi terhadap orang Yahudi di Eropa
sebagai pembenaran bagi terbentuknya negara Israel tahun 1948. Ini sama
sekali tidak dapat dibenarkan. Nazi yang punya ulah, mengapa tanah
Palestina yang dikorbankan? Pada saat itu hampir satu juta rakyat
Palestina dipaksa meninggalkan tanah airnya bagi terwujudnya negara
Israel itu. Dengan kata lain, rakyat Palestina diharuskan membayar
ongkos pembunuhan Nazi terhadap Yahudi. Cara yang semacam ini tidak
lain dari pada penyalahgunaan memori yang serius terhadap salah satu
kejahatan yang paling buruk dalam sejarah.
Struktur negara
Zionis menghalangi sebuah perdamaian yang wajar karena ia memberikan
keistimewaan kepada orang Yahudi atas pengorbanan orang Arab. Hubungan
Arab-Yahudi jauh lebih baik sebelum kedatangan pendudukan Zionis,
sebuah pelajaran yang dapat dipetik dari masa lampau itu. Bahkan,
sarjana sayap kanan Yahudi, Bernard Lewis, mengakui apa yang disebutnya
sebagai ''simbiosis'' Arab Islam-Yahudi pada puncak peradaban Islam,
sebuah hubungan yang subur antara kedua bangsa dan sebuah kultur
''Islamic-Judeo'' telah terbentuk.
Di Irak misalnya, pasca-PD
II, ada pemberontakan massal, al-Wathbah/Lompatan, terhadap pemerintah
monarkis boneka. Tidak sedikit anak muda Yahudi Irak yang terlibat
dalam pemberontakan itu, bahkan kaum Zionis mengakui ''era
persaudaraan'' ini, sedangkan gagasan untuk pindah ke Palestina pada
waktu itu masih terlihat ''jauh''. Amat disayangkan, gerakan ini
dikalahkan, kemudian kaum Zionis, Amerika, Inggris, dan pemerintah Irak
memaksa penduduk kuno Yahudi itu hijrah ke Israel. Ini adalah tragedi
yang hanya sedikit dikenal pada abad yang lalu.
Di awal abad
itu, tidak kurang dari sepertiga di antara 100 pemusik puncak Irak
adalah orang Yahudi. Bukankah semuanya ini sedikit dapat dijadikan
sinar untuk meneropong masa depan yang sangat berbeda?
Akhirnya
catatan dari ASM. Banyak orang berharap bahwa Amerika di bawah Barack
Obama akan mau belajar secara cerdas dan jernih dalam upaya turut
menciptakan sebuah dunia yang lebih damai, termasuk penyelesaian
sengketa Arab-Israel di atas. Jelas tidak mudah karena trauma sejarah
yang begitu gelap telah menghantui dunia Arab yang selalu merasa ditipu
pihak Barat dan Zionis.
Sisi lain, sebagaimana telah disinggung
di atas, perpecahan yang terus melanda dunia Arab pasti telah
menguntungkan pihak Zionis untuk terus bercokol di tanah Palestina.
Tetapi, siapa tahu dengan rekaman Rose di atas, dunia beradab akan
tersentak, karena ternyata hubungan Arab-Yahudi pra-Zionisme pernah
bagus dan saling mengisi.
Sumber : www.republika.co.id
|