Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Dec 11 2008
John Rose Tentang Zionisme (I) PDF Print E-mail
Thursday, 11 December 2008

Oleh:  Ahmad Syafii Maarif

{mosiamge}Penulis Inggris John Rose tidak banyak dikenal publik dunia; dia dosen Sosiologi pada Southwark College dan Universitas Metropolitan London. Tetapi, penentangannya terhadap proyek Zionisme yang ekspansionis dengan mengorbankan orang Arab lebih setengah abad yang lalu, patut mendapat perhatian. Via internet, saya menemukan tulisan Rose dengan judul Why Zionism is Wrong dalam Just Commentary online (Maret 2008, hlm 1-2) yang saya sarikan di bawah ini, dengan tambahan informasi di sana-sini di mana perlu. Di bagian akhir, akan saya berikan sebuah komentar tentang kesulitan yang dihadapi Obama dalam masalah konflik Israel-Palestina ini.

Seperti kita ketahui, negara Israel yang berdiri pada 1948 sepenuhnya mendapat dukungan Inggris, setelah 30 tahun sebelumnya didahului oleh Deklarasi Balfour Nov 1917 untuk pada suatu saat negara Zionis itu harus menjadi kenyataan. Arthur James Balfour (1848-1930) dari Partai Konservatif, pernah menjabat perdana menteri Inggris dan sebagai menteri luar negeri pada saat Deklarasi Balfour itu dikeluarkan. Isi pokok deklarasi ini adalah sebuah janji bahwa di tanah Palestina akan didirikan sebuah negara Zionis dan Balfour telah berupaya mendapat sokongan dari beberapa negara Barat, khususnya Amerika Serikat untuk proyek itu. Dengan demikian, Inggris sangat berjasa bagi berdirinya negara Israel di tengah bangsa Arab yang sering tak berdaya karena perpecahan yang selalu saja melanda mereka.

Pernyataan pertama Rose berbunyi: 'Ideologi resmi negara Israel, Zionisme, telah menjadi malapetaka, baik bagi orang Yahudi maupun bagi orang Arab, yang mengabaikan sejarah hidup berdampingan secara damai yang pada masa dulu merupakan norma di seluruh Timur Tengah. Zionisme mengklaim bahwa orang Yahudi punya hak untuk kembali ke tanah itu di mana agama mereka, Yudaisme, berakar, dengan tujuan menciptakan sebuah negara Yahudi eksklusif. Tanah Palestina adalah sebuah pusat penting bagi tiga agama monoteisme yang akarnya terdapat di Timur Tengah--Yudaisme, Kristen, dan Islam. Tak satu pun di antara mereka dapat menyatakan klaim eksklusif sebagai pemilik tanah itu.'

Rose membantah klaim Zionisme yang mengaku bahwa Imperium Romawi telah meruntuhkan kuil Yahudi di Yerusalem pada tahun 70 M. Kenyataannya, sebagian besar orang Yahudi sudah tinggal di luar tanah Palestina pada masa Imperium Romawi itu. Sepanjang masa Imperium Romawi dan sesudahnya, diaspora Yahudi telah berkembang. Terdapat, misalnya, pusat kerajinan tangan mereka di kota pelabuhan Iskandaria, Mesir, jauh sebelum berdirinya Imperium Romawi. Juga, terdapat pusat agama Yahudi di Babilonia, mulai 500 tahun sebelum Imperium Romawi dan masih berlangsung ratusan tahun sesudah itu. Kehidupan orang Yahudi di lingkungan non-Yahudi telah membentuk basis yang real dan dinamis bagi sejarah Yahudi.

Di Eropa, umat Kristen telah membinasakan orang-orang Yahudi karena alasan agama dan ekonomi. Di abad pertengahan, orang Yahudi punya peran dagang ekonomi yang istimewa. Mereka tak diizinkan punya tanah, tetapi sebagai pedagang dan saudagar mereka melayani ekonomi feodal yang tertutup. Penguasa Kristen Eropa telah menggunakan dan menyalahgunakan mereka. Tidak jarang orang Yahudi diberi hak istimewa dan ini telah memicu keresahan di kalangan petani. Juga, ini berarti bahwa orang-orang Yahudi telah dijadikan kambing hitam terbaik bagi penguasa bila saja pemerasan mereka atas petani menimbulkan kerusuhan dan kegoncangan yang meluas. Protes anti-Semitisme marak di mana-mana.

Era pencerahan dan revolusi-revolusi Amerika dan Prancis pada abad ke-18 telah meletakkan dasar dalam mengatasi kecenderungan anti-Semitisme. Revolusi-revolusi ini telah menjamin hak-hak sama yang resmi bagi orang-orang Yahudi, sekalipun mereka harus berjuang untuk pelaksanaannya. Gesekan kreatif antara Yudaisme yang terbebaskan dan Gerakan Pencerahan telah melahirkan minda-minda (minds) besar Eropa abad ke-19 dan awal abad ke-20, seperti Karl Marx, Sigmund Freud, dan Albert Einstein. Kultur Eropa telah diperkaya oleh sumbangan tokoh-tokoh Yahudi itu.

Sumber : www.republika.co.id

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Prev   Next >

Lynda Illustrator CS4 One-on-One Fundamentals
Mastercam X5
Lynda After Effects CS5 New Creative Techniques
ReelSmart Motion Blur MAC
Startup Organizer 2.9
Autodesk AutoCAD Map 3D 2010 32 & 64 Bit
Bibble 5
FileMaker Pro 8.5 Advanced for Mac
Lynda Excel 2010 Essential Training
Panopticum Fire 3 MAC
PDF to JPG Converter