Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Nov 25 2008
Pragmatisme Muslim Amerika PDF Print E-mail
Tuesday, 25 November 2008

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii MaarifDalam dunia politik sepanjang sejarah, sikap pragmatis jauh lebih dominan daripada idealisme kaku yang sering didengungkan oleh kaum fundamentalis. Ada ungkapan yang menggambarkan gejala pragmatisme politik ini: 'Tidak ada kawan dan lawan abadi; yang abadi adalah kepentingan'. Dulu pada Pemilu 1955, Partai Masyumi memenangkan 11 dari 14 daerah pemilihan, termasuk Sumatra Barat, Jakarta Raya, Jawa Barat, Sulawesi Selatan. Setelah Masyumi dibubarkan tahun 1960, pengikut Masyumi di empat provinsi itu pada umumnya menjadi manusia pragmatis belaka.

Di era Orba mereka umumnya mengalihkan kecenderungan pilihannya kepada Golkar (kemudian menjadi Partai Golkar di bawah Akbar Tandjung). Hanya segelintir di antara mereka yang berafiliasi dengan PBB (Partai Bulan Bintang) yang mengklaim diri sebagai ahli waris Masyumi, suatu klaim yang dibantah oleh pengalaman empirik di era Reformasi. Dengan demikian, dapat dirumuskan 'pragmatisme adalah fakta keras dalam politik', tentu dengan beberapa perkecualian. Perkecualian inilah rupanya yang masih bertahan dalam PBB yang jumlahnya semakin menyusut dari hari ke hari. Bendera syariah yang diusung tidak menolong untuk menahan proses kerapuhan partai ini.

Di bumi lain, situasinya tidak banyak berbeda, apalagi jika Muslim itu merupakan kelompok minoritas yang memerlukan payung perlindungan dari berbagai ancaman. Volume ancaman itu menjadi sangat membesar setelah tragedi 11 September 2001. Selama beberapa tahun secara diam-diam atau terang-terangan dikembangkan isu bahwa Muslim itu punya kecenderungan anti-Amerika dan punya cinta tersembunyi terhadap terorisme. Iklim serupa ini masih terasa di Amerika Serikat dalam proses pilpres 4 November yang lalu. Dari jumlah antara tujuh-delapan juta Muslim di negara itu, sebagian besar memilih Obama, padahal sebelumnya mereka lebih mendekat kepada Partai Republik yang konservatif. Angka sekian itu dalam pilpres Amerika cukup menentukan. Jangankan suara jutaan, kelebihan suara satu saja telah dapat menentukan siapa pemenang.

Berbagai jajak pendapat telah dilakukan terhadap masyarakat Muslim di sana untuk mengetahui ke mana arah angin politik mereka. Afiliasi politik mereka yang dikutip penulis Lorraine Ali (<I>Newsweek online<I>, edisi 7 November 2008) memberikan peta di bawah ini. Di era pra-Obama, sebagian besar Muslim Amerika punya tradisi untuk berpihak kepada Partai Republik. Di era-Obama, terjadi pergeseran drastis, sebesar dua pertiga mereka berpihak kepada Partai Demokrat. Untuk Partai Republik sisa yang tertinggal hanya empat persen, sebuah pergeseran revolusioner telah berlaku; sedangkan yang independen berada pada angka 29 persen.

Dalam sebuah situs Muslim untuk Obama, di antara pernyataan misinya berbunyi: "Bahwa kami mendukung Barack Obama, antara lain, karena ia menolak politik ketakutan, menantang bangsa kami agar memegang identitas kolektif, di mana setiap orang Amerika punya sebuah pancang dalam keberhasilan dan kehidupan baik bagi setiap warga Amerika." Berpalingnya mereka dari Partai Republik juga didorong oleh keadaan tahanan Muslim di Guantanamo tanpa proses pengadilan, kesalahan dalam menangani kebebasan sipil, dan akibat perang di Irak.

Suasana menjelang pilpres Amerika memang panas. Berbagai cara untuk memojokkan Obama telah dilakukan, tetapi tak satu pun yang efektif. Ada yang mencoba mengaitkan Obama dengan sebuah Islam yang kejam yang tampaknya telah memicu ledakan. Beberapa minggu menjelang pilpres, sebuah LSM nirlaba yang menyebut dirinya the Clarion Fund telah menyebarkan video anti-Muslim berjudul 'Obsession' pada surat-surat kabar Minggu di seluruh Amerika; sejumlah besar kopinya juga di-email-kan ke alamat para pemilih di negara-negara yang belum menentukan pilihan.

Dalam video itu Muslim dicitrakan seperti kaum Nazi yang dilakukan terus-menerus. Sebuah kampanye hitam sedang berlangsung. Melalui kampanye serupa ini diharapkan agar pilihan dijatuhkan pada McCain, bukan pada Obama dengan nama tengahnya 'Hussein' yang berbau Arab itu. Ternyata semuanya ini malah menjadi kontraproduktif bagi kubu McCain. Sosiolog Kennan Read dari Universitas Duke berkata: "Itu semua tidak saja memobilisasi pemilih-pemilih Amerika Muslim, tetapi telah menyebabkan para pemilih yang sebelumnya masih ragu untuk lebih menyokong Obama tinimbang McCain."

Itulah politik dalam formatnya yang konkret. Tidak saja pragmatisme seolah-olah telah menjadi undang-undang, cara-cara kumuh pun sering dilakukan demi menghancurkan pihak lawan. Namun, tidak jarang malah kandas dalam perjalanan.

Sumber : www.republika.co.id

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Prev   Next >

CyberLink PowerDirector 8 Ultra
Lynda After Effects CS5 Essential Training
Bigasoft AVCHD Converter
Optipix MAC
Adobe Premiere Elements 9
Lynda Access 2010 New Features
Adobe Photoshop Lightroom 2
Lynda After Effects CS5 New Features
Adobe Creative Suite 5.5 Design Premium Student and Teacher Edition
Autodesk 3ds Max Design 2011
Red Giant Magic Bullet PhotoLooks 1.5
Autodesk AutoCAD Mechanical 2012