|
Ahmad Syafii Maarif
Dalam dunia politik
sepanjang sejarah, sikap pragmatis jauh lebih dominan daripada
idealisme kaku yang sering didengungkan oleh kaum fundamentalis. Ada
ungkapan yang menggambarkan gejala pragmatisme politik ini: 'Tidak ada
kawan dan lawan abadi; yang abadi adalah kepentingan'. Dulu pada Pemilu
1955, Partai Masyumi memenangkan 11 dari 14 daerah pemilihan, termasuk
Sumatra Barat, Jakarta Raya, Jawa Barat, Sulawesi Selatan. Setelah
Masyumi dibubarkan tahun 1960, pengikut Masyumi di empat provinsi itu
pada umumnya menjadi manusia pragmatis belaka.
Di era Orba mereka umumnya mengalihkan kecenderungan pilihannya kepada
Golkar (kemudian menjadi Partai Golkar di bawah Akbar Tandjung). Hanya
segelintir di antara mereka yang berafiliasi dengan PBB (Partai Bulan
Bintang) yang mengklaim diri sebagai ahli waris Masyumi, suatu klaim
yang dibantah oleh pengalaman empirik di era Reformasi. Dengan
demikian, dapat dirumuskan 'pragmatisme adalah fakta keras dalam
politik', tentu dengan beberapa perkecualian. Perkecualian inilah
rupanya yang masih bertahan dalam PBB yang jumlahnya semakin menyusut
dari hari ke hari. Bendera syariah yang diusung tidak menolong untuk
menahan proses kerapuhan partai ini.
Di bumi lain, situasinya
tidak banyak berbeda, apalagi jika Muslim itu merupakan kelompok
minoritas yang memerlukan payung perlindungan dari berbagai ancaman.
Volume ancaman itu menjadi sangat membesar setelah tragedi 11 September
2001. Selama beberapa tahun secara diam-diam atau terang-terangan
dikembangkan isu bahwa Muslim itu punya kecenderungan anti-Amerika dan
punya cinta tersembunyi terhadap terorisme. Iklim serupa ini masih
terasa di Amerika Serikat dalam proses pilpres 4 November yang lalu.
Dari jumlah antara tujuh-delapan juta Muslim di negara itu, sebagian
besar memilih Obama, padahal sebelumnya mereka lebih mendekat kepada
Partai Republik yang konservatif. Angka sekian itu dalam pilpres
Amerika cukup menentukan. Jangankan suara jutaan, kelebihan suara satu
saja telah dapat menentukan siapa pemenang.
Berbagai jajak
pendapat telah dilakukan terhadap masyarakat Muslim di sana untuk
mengetahui ke mana arah angin politik mereka. Afiliasi politik mereka
yang dikutip penulis Lorraine Ali (<I>Newsweek online<I>,
edisi 7 November 2008) memberikan peta di bawah ini. Di era pra-Obama,
sebagian besar Muslim Amerika punya tradisi untuk berpihak kepada
Partai Republik. Di era-Obama, terjadi pergeseran drastis, sebesar dua
pertiga mereka berpihak kepada Partai Demokrat. Untuk Partai Republik
sisa yang tertinggal hanya empat persen, sebuah pergeseran revolusioner
telah berlaku; sedangkan yang independen berada pada angka 29 persen.
Dalam
sebuah situs Muslim untuk Obama, di antara pernyataan misinya berbunyi:
"Bahwa kami mendukung Barack Obama, antara lain, karena ia menolak
politik ketakutan, menantang bangsa kami agar memegang identitas
kolektif, di mana setiap orang Amerika punya sebuah pancang dalam
keberhasilan dan kehidupan baik bagi setiap warga Amerika."
Berpalingnya mereka dari Partai Republik juga didorong oleh keadaan
tahanan Muslim di Guantanamo tanpa proses pengadilan, kesalahan dalam
menangani kebebasan sipil, dan akibat perang di Irak.
Suasana
menjelang pilpres Amerika memang panas. Berbagai cara untuk memojokkan
Obama telah dilakukan, tetapi tak satu pun yang efektif. Ada yang
mencoba mengaitkan Obama dengan sebuah Islam yang kejam yang tampaknya
telah memicu ledakan. Beberapa minggu menjelang pilpres, sebuah LSM
nirlaba yang menyebut dirinya the Clarion Fund telah menyebarkan video
anti-Muslim berjudul 'Obsession' pada surat-surat kabar Minggu di
seluruh Amerika; sejumlah besar kopinya juga di-email-kan ke alamat para pemilih di negara-negara yang belum menentukan pilihan.
Dalam
video itu Muslim dicitrakan seperti kaum Nazi yang dilakukan
terus-menerus. Sebuah kampanye hitam sedang berlangsung. Melalui
kampanye serupa ini diharapkan agar pilihan dijatuhkan pada McCain,
bukan pada Obama dengan nama tengahnya 'Hussein' yang berbau Arab itu.
Ternyata semuanya ini malah menjadi kontraproduktif bagi kubu McCain.
Sosiolog Kennan Read dari Universitas Duke berkata: "Itu semua tidak
saja memobilisasi pemilih-pemilih Amerika Muslim, tetapi telah
menyebabkan para pemilih yang sebelumnya masih ragu untuk lebih
menyokong Obama tinimbang McCain."
Itulah politik dalam
formatnya yang konkret. Tidak saja pragmatisme seolah-olah telah
menjadi undang-undang, cara-cara kumuh pun sering dilakukan demi
menghancurkan pihak lawan. Namun, tidak jarang malah kandas dalam
perjalanan.
Sumber : www.republika.co.id
|