 Dr Musharraf Hussain Director of Karimia Institute, Nottingham, Britain. Pemimpin Delegasi Imam Inggris Selama tiga hari, saya tinggal di Pondok Pesantren Sunan Pangandaran,
Yogyakarta. Saya begitu terkesan terhadap sambutan penghuni pondok
tersebut. Saya merasa diterima sebagai saudara, dengan segala
keramahtamahan dan ketulusan.Disana, saya merasa di lingkungan yang
sangat bersahaja, bukan saja dari para guru dan santri disana, tapi
juga warga sekitarnya. Mereka begitu tulus selalu mengirimkan senyum.
Yang lebih menarik lagi, saya melihat pengelola pondok tak memberikan
perlakuan berbeda pada santri pria dan wanita. Mereka memang tinggal di
asrama terpisah. Tapi mereka diperlakukan sama, totally equal.
Saya
tak bisa membandingkan keberadaan pesantren semacam PP Sunan
Pangandaran dengan yang ada di Inggris. Saya datang bukan untuk membuat
perbandingan, dan saya juga tak mau melakukan itu. Tentu. Kami juga
mempunyai lembaga sama. Walaupun tujuannya sama, yakni untuk
mengajarkan Islam, tapi kita tidak bisa membandingkan. Semua perbedaan
ini timbul karena perbedaaan budaya, perbedaan filosofi hidup,
perbedaan cara hidup, dan juga berkaitan perbedaan lingkungan
sekitarnya. Selain itu, di Inggris kami tidak mempunyai sumber daya
manusia untuk mengelola pondok pesantren seperti yang ada di Indonesia.
Saya melihat betapa lembaga pendidikan Islam semacam ini bisa
bermanfaat membentuk karakter santri-santrinya menjadi muslim yang
baik.
Saya juga terkesan sekali melihat bagaimana pesantren ini merancang
lingkungannya menjadi penuh nuansa spiritual. Para santri dididik untuk
selalu berdizikir setelah salam shalat. Mereka juga rajin bersalawat
(untuk Rasulullah). Mereka selalu menyempatkan diri untuk membaca
Alquran. Saya melihat ini dilakukan dengan disiplin, bahkan oleh mereka
yang masih berusia 10-12 tahun. Penuh kecintaan kepada Allah. Masya
Allah!Satu lagi yang sangat bagus adalah bagaimana murid-murid dididik
hidup sederhana, tidak tamak dan mudah tergoda kenyamanan di dunia ini.
Mereka dididik berhemat dalam mengelola keuangan, dan menjauhkan diri
untuk membeli barang-barang yang tidak perlu.
Tapi saya juga ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin berguna, yakni saya melihat banyak pesantren overcrowded,
(terlalu padat). Anggaplah sebagai rekomendasi saya. Sebaiknya, pondok
pesantren mungkin bisa membuat semacam seleksi dengan menerima
siswa-siswa terbaik saja, yang bisa dididik maksimal.Saya juga melihat
ponpes mengalami kekurangan teaching materials dan juga financial resources.
Sebenarnya, untuk memecahkan masalah ini, pengelola pondok dapat
mendatangi warga-warga yang kaya, yang mempunyai kecukupan dana, untuk
meminta bantuan. Dan menjadi kewajiban warga kaya untuk membantu
pendanaan untuk kegiatan pondok pesantren.
Perbedaan Muslim di
Indonesia dan di Inggris? Saya melihat muslim di Indonesia lebih
spiritual, dengan banyak menjalani kehidupan dengan cara sederhana.
Mungkin ini karena Indonesia masih merupakan negara berkembang. Disini
kehidupan memberi kesempatan pada warganya menjadi muslim yang
kuat/taat menjalani segala macam ibadah dalam agama Islam.Tentu, muslim
di Inggris juga seperti itu. Tapi memang diakui mayoritas muslim di
Britain tidak mempraktikkan semua ibadah keagamaan seperti yang
dilakukan muslim di Indonesia. Saya pikir ini pengaruh dari sifat
materialisme, konsumerisme yang berkembang di negara-negara Barat.
Sumber : www.republika.co.id
|