|
Shouaib Ahmed adalah mantan sekretaris umum dari organisasi Islam the Markazi Jamiat Ahl-e-hadist
di Inggris. Pria berusai empat puluh tahunan ini kini ia merasa
mendapat saudara dari Indonesia, Drs Muhammad Saifuddin Hadi, yang
sehari-harinya guru Bahasa Arab di Madrasah Muallimin, Yogyakarta.
Shouaib dan Saifuddin Hadi dipertemukan melalui program Imam Exchance 2008,
3-9 November di Yogyakarta. Selama 3 hari Shouaib tinggal di Madrasah
Muallimin. Ia bergaul dengan warga madrasah milik Muhammadiyah
tersebut, para gurunya, santri-santrinya, juga dengan pegawai disana.
Kata Saifuddin, walaupun terasa singkat, hadirnya Shouaib telah membawa
kesan mendalam para warga madrasah.
''Dia tinggal bersama kami di madrasah. Ia diberi kesempatan menjadi
imam shalat, memberikan kultum (khotbah singkat). Ia mengajar di kelas.
Ia makan bersama kami, berbicara dan bermain dengan santri.
Kehadirannya terasa dapat memotivasi para santri untuk belajar dengan
lebih baik lagi,'' kata Saifuddin.Shouaib adalah warga Inggris
keturunan Pakistan. Ia tamat sekolah di Pakistan dengan spesialisasi
Bahasa dan Kebudayaan Inggris. Ia juga mempunyai diploma Bahasa Arab
dari Islamic University of Medina(Arab Saudi).
Di
Inggris ia mengajar Bahasa Arab dan menjadi imam di sejumlah lembaga
pendidikan dan masjid di Birmingham. Selama aktif menjadi sekjen the Markazi Jamiat Ahl-e-Hadist,
ia sering berkeliling Eropa, untuk ceramah agama dan kerja sosial. Kata
Shouaib, semua bayangan buruk tentang madrasah di Indonesia hilang
begitu ia menginjakkan kakinya di Madrasah Muallimin.
''Masya
Allah! Saya melihat lingkungan yang tertata rapi dan bersih. Warganya
begitu mudah tersenyum, terbuka begitu ingin membantu. Suasananya
begitu bersahabat,'' kata Shouaib. Ia menambahkan dirinya banyak
belajar selama di Muallimin. Ia melihat madrasah itu dikelola
profesional dengan sistem pengajaran yang terprogram. Ia juga melihat
betapa para santri di Muallimin tak merasa takut bila ingin bertanya,
bahkan untuk mendiskusikan, dengan guru-guru mereka, juga dengannya.
Di
Inggris, katanya, belum ada madrasah serupa Muallimin. Di negerinya,
pendidikan agama bagi anak-anak muslim diberikan melalui program khusus
di masjid-masjid, biasanya melalui sekolah sore, ataupun melalui
program pendidikan oleh lembaga-lembaga Islam disana.Hadirnya Shouaib
di Indonesia ini adalah bagian dari program Indonesia-UK Islamic Advisory Group,
yang muncul dari pembicaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan
mantan PM Tony Blair, saat ia berkunjung ke Indonesia Maret 2006.
Dua
pemimpin negara saat itu setuju untuk mendekatkan warga di
masing-masing negara mereka untuk saling mengenal, juga dalam usaha
untuk mencegah radikalisme, menghidupkan saling pengertian bersama
antara Islam dan dunia Barat.Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengirim
delagasi ke Inggris, dipimpin Prof Dr Azumardi Azra. Mereka bertemu
dengan delegasi Inggris, dipimpin Dr Musharraf Hussain. Tugas dua
delegasi ini memberikan masukan kepada Pemerintah Indonesia dan
Inggris, berkaitan dengan usaha-usaha membangun hubungan lebih baik
antara Islam dan Barat, dan usaha mencegah keekstrimisan dalam beragama.
Sejumlah
poin kerjasama lalu disusun. Pertama, pertukaran imam masjid dan guru
lembaga-lembaga pendidikan Islam. Kedua, penterjemahan dan distribusi
pustaka-pustaka Islam asal Indonesia ke dalam Bahasa Inggris. etiga, twinning programme
untuk mempertemukan guru-guru lembaga pendidikan Islam di kedua negara.
Keempat, menyelenggarakan pertemuan tahunan untuk memperkenalkan
kesenian, film, musik dan pustaka kedua negara.
Kelima,
pertukaran tokoh-tokoh muda dari organisasi kepemudaan di Indonsia dan
Inggris. Keenam, menyelenggarakan program sosial bersama. Ketujuh,
menyelenggarakan dialog keagamaan antara komunitas-komunitas muslim di
Indonesia dan Inggris. Kedelapan, mendorong terselenggaranya kegiatan
bersama diantara komunitas-komunitas di dua negara, sampai ke level
akar rumput.
Dari pertemuan kedua, masing-masing delegasi di
Jakarta 12-15 Januari 2007, lalu disepakati bahwa poin-poin rekomendasi
itu perlu segera diselenggarakan dalam kegiatan di lapangan.
Selanjutnya diselengarakanlah Indonesia-UK Imam Echange 2008
di Yogyakarta dan Surakarta. Melalui program ini, sejumlah pemimpin
organisasi muslim di Inggris, imam masjid dan aktivis muslim muda di
negara itu berkunjung ke Indonesia.
Mereka dipertemukan dengan
rekan-rekan sejawat mereka di negara ini. Mereka yang datang adalah Dr
Musharraf Hussain, pemimpin delegasi, yang juga direktur Karimia Institute<,
lembaga Islam di Nottingham; Shaykh Ibrahim Morga MA, (chairman
Interfaith Relations Committee, the Muslim Council of Britain), Mufti
Yusuf Akudi (senior imam Leeds Makkah Mosque), dan Shouaid Ahmes dari
the Markazi Jamiat Ahl-e-hadist.
Mereka di Indonesia 3-9
November. Mereka bertemu dengan pemimpin-pemimpin organisasi Islam di
Indonsia baik itu dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Selama tiga
hari, tamu dari Inggris ini disebar tinggal di lembaga pendidikan Islam
di Yogyakara dan Surakarta, yakni di PP Sunan Pandanaran, PP Al
Muayyad, PP Nurul Ummah, Madrasah As Sallam, dan Madrasah Muallimin
Muhammadiyah.
Bagi Shouaib, dengan kunjungannya ke Indonesia, ia
mendapat banyak pengalaman dari kunjungan ini. Ia merasa beruntung bisa
melihat semua ini, yang makin membuka wawasannya lebih jauh lagi
tentang model-model lembaga pendidikan agama/umum, dan bagaimana
mengelolanya.''Kalaupun ada yang mengganggu paling-paling kamar kecil.
Bukan kebersihannya, tapi urinoar yang bentuknya sangat berbeda dengan
yang dipakai di Inggris,'' katanya bergurau.
Sumber : www.republika.co.id
|