Resensi Buku AIK

 

Buku panduan guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 

Buku ajar pendidikan Kemuhammadiyahan 

Buku ajar pendidikan Al-islam untuk SMA/SMK 

Jurnal Maarif

Vol 3 Nomor 2 Mei 2008

Thursday, 12 June 2008 | Administrator

article thumbnail Download Jurnal 
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Buya : Kekerasan Sudah Menjadi Mata Pencaharian

 

Program Kerjasama

 

 

Indonesia-UK Interfaith Direktorat Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri RI

 

 

Who's Online

Syndicate

Nov 17 2008
Imam Inggris dan Indonesia Menjalin Pengertian PDF Print E-mail
Monday, 17 November 2008

Shouaib Ahmed adalah mantan sekretaris umum dari organisasi Islam the Markazi Jamiat Ahl-e-hadist di Inggris. Pria berusai empat puluh tahunan ini kini ia merasa mendapat saudara dari Indonesia, Drs Muhammad Saifuddin Hadi, yang sehari-harinya guru Bahasa Arab di Madrasah Muallimin, Yogyakarta.

Shouaib dan Saifuddin Hadi dipertemukan melalui program Imam Exchance 2008, 3-9 November di Yogyakarta. Selama 3 hari Shouaib tinggal di Madrasah Muallimin. Ia bergaul dengan warga madrasah milik Muhammadiyah tersebut, para gurunya, santri-santrinya, juga dengan pegawai disana. Kata Saifuddin, walaupun terasa singkat, hadirnya Shouaib telah membawa kesan mendalam para warga madrasah.

''Dia tinggal bersama kami di madrasah. Ia diberi kesempatan menjadi imam shalat, memberikan kultum (khotbah singkat). Ia mengajar di kelas. Ia makan bersama kami, berbicara dan bermain dengan santri. Kehadirannya terasa dapat memotivasi para santri untuk belajar dengan lebih baik lagi,'' kata Saifuddin.Shouaib adalah warga Inggris keturunan Pakistan. Ia tamat sekolah di Pakistan dengan spesialisasi Bahasa dan Kebudayaan Inggris. Ia juga mempunyai diploma Bahasa Arab dari  Islamic University of Medina(Arab Saudi).

Di Inggris ia mengajar Bahasa Arab dan menjadi imam di sejumlah lembaga pendidikan dan masjid di Birmingham. Selama aktif menjadi sekjen the Markazi Jamiat Ahl-e-Hadist, ia sering berkeliling Eropa, untuk ceramah agama dan kerja sosial. Kata Shouaib, semua bayangan buruk tentang madrasah di Indonesia hilang begitu ia menginjakkan kakinya di Madrasah Muallimin.

''Masya Allah! Saya melihat lingkungan yang tertata rapi dan bersih. Warganya begitu mudah tersenyum, terbuka begitu ingin membantu. Suasananya begitu bersahabat,'' kata Shouaib. Ia menambahkan dirinya banyak belajar selama di Muallimin. Ia melihat madrasah itu dikelola profesional dengan sistem pengajaran yang terprogram. Ia juga melihat betapa para santri di Muallimin tak merasa takut bila ingin bertanya, bahkan untuk mendiskusikan, dengan guru-guru mereka, juga dengannya.

Di Inggris, katanya, belum ada madrasah serupa Muallimin. Di negerinya, pendidikan agama bagi anak-anak muslim diberikan melalui program khusus di masjid-masjid, biasanya melalui sekolah sore, ataupun melalui program pendidikan oleh lembaga-lembaga Islam disana.Hadirnya Shouaib di Indonesia ini adalah bagian dari program Indonesia-UK Islamic Advisory Group, yang muncul dari pembicaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan PM Tony Blair, saat ia berkunjung ke Indonesia Maret 2006.

Dua pemimpin negara saat itu setuju untuk mendekatkan warga di masing-masing negara mereka untuk saling mengenal, juga dalam usaha untuk mencegah radikalisme, menghidupkan saling pengertian bersama antara Islam dan dunia Barat.Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengirim delagasi ke Inggris, dipimpin Prof Dr Azumardi Azra. Mereka bertemu dengan delegasi Inggris, dipimpin Dr Musharraf Hussain. Tugas dua delegasi ini memberikan masukan kepada Pemerintah Indonesia dan Inggris, berkaitan dengan usaha-usaha membangun hubungan lebih baik antara Islam dan Barat, dan usaha mencegah keekstrimisan dalam beragama.

Sejumlah poin kerjasama lalu disusun. Pertama, pertukaran imam masjid dan guru lembaga-lembaga pendidikan Islam. Kedua, penterjemahan dan distribusi pustaka-pustaka Islam asal Indonesia ke dalam Bahasa Inggris. etiga, twinning programme untuk mempertemukan guru-guru lembaga pendidikan Islam di kedua negara. Keempat, menyelenggarakan pertemuan tahunan untuk memperkenalkan kesenian, film, musik dan pustaka kedua negara.

Kelima, pertukaran tokoh-tokoh muda dari organisasi kepemudaan di Indonsia dan Inggris. Keenam, menyelenggarakan program sosial bersama. Ketujuh, menyelenggarakan dialog keagamaan antara komunitas-komunitas muslim di Indonesia dan Inggris. Kedelapan, mendorong terselenggaranya kegiatan bersama diantara komunitas-komunitas di dua negara, sampai ke level akar rumput.

Dari pertemuan kedua, masing-masing delegasi di Jakarta 12-15 Januari 2007, lalu disepakati bahwa poin-poin rekomendasi itu perlu segera diselenggarakan dalam kegiatan di lapangan. Selanjutnya diselengarakanlah Indonesia-UK Imam Echange 2008 di Yogyakarta dan Surakarta. Melalui program ini, sejumlah pemimpin organisasi muslim di Inggris, imam masjid dan aktivis muslim muda di negara itu berkunjung ke Indonesia.

Mereka dipertemukan dengan rekan-rekan sejawat mereka di negara ini. Mereka yang datang adalah Dr Musharraf Hussain, pemimpin delegasi, yang juga direktur Karimia Institute<, lembaga Islam di Nottingham; Shaykh Ibrahim Morga MA, (chairman Interfaith Relations Committee, the Muslim Council of Britain), Mufti Yusuf Akudi (senior imam Leeds Makkah Mosque), dan Shouaid Ahmes dari the Markazi Jamiat Ahl-e-hadist.

Mereka di Indonesia 3-9 November. Mereka bertemu dengan pemimpin-pemimpin organisasi Islam di Indonsia baik itu dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Selama tiga hari, tamu dari Inggris ini disebar tinggal di lembaga pendidikan Islam di Yogyakara dan Surakarta, yakni di PP Sunan Pandanaran, PP Al Muayyad, PP Nurul Ummah, Madrasah As Sallam, dan Madrasah Muallimin Muhammadiyah.

Bagi Shouaib, dengan kunjungannya ke Indonesia, ia mendapat banyak pengalaman dari kunjungan ini. Ia merasa beruntung bisa melihat semua ini, yang makin membuka wawasannya lebih jauh lagi tentang model-model lembaga pendidikan agama/umum, dan bagaimana mengelolanya.''Kalaupun ada yang mengganggu paling-paling kamar kecil. Bukan kebersihannya, tapi urinoar yang bentuknya sangat berbeda dengan yang dipakai di Inggris,'' katanya bergurau.

Sumber : www.republika.co.id

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Prev   Next >

Agenda

MAARIF Institute Associate Researchers (MIAR)

Wednesday, 05 March 2008 | Administrator

article thumbnailMAARIF Institute for Culture and Humanity invites you to join "MAARIF Institute Associate Researchers (MIAR)". MAARIF Institute for Culture and Humanity is a non profit, non government...
Selengkapnya

MAARIF AWARD 2008

Wednesday, 05 March 2008 | Administrator

article thumbnailMaarif Institute for culture and Humanity, Lembaga yang didirikan Ahmad Syafii Maarif, mengundang masyarakat luar untuk ikut mengusulkan/menominasikan nama - nama kandidat penerima MAARIF AWARD 2008....
Selengkapnya

Agenda Lainnya