|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Ibarat peluru kendali
yang melaju dengan kecepatan tinggi, Barack H Obama yang baru dua tahun
jadi senator akhirnya memenangkan pilpres Amerika 4 November 2008
melawan John McCain secara mutlak dalam electoral vote (wakil
yang langsung memilih presiden) dengan perolehan suara 349:173. Angka
pemilih di akar rumput berbanding 52:46 persen, dengan selisih suara
lebih tujuh juta.
Bila dipatok garis lurus sejak pilpres tahun 1928-2008, rekor tertinggi electoral vote
diraih oleh Ronald Reagan (Republik) melawan Walter Mondale (Demokrat)
dengan perbandingan 525:13 dalam pilpres 1984. Sekiranya Obama bukan
berkulit hitam, kemenangan dalam struktur angka itu tidaklah
spektakuler. Bill Clinton (Demokrat) dalam pilpres tahun 1996 melawan
Robert Dole (Republik) angka yang muncul adalah 379:159.
Magnet Obama tertutama terbaca pada semboyan kampanyenya dalam mantra
''perubahan'', tidak saja akan dilakukan di Gedung Putih yang korup,
tetapi juga ingin menciptakan sebuah dunia yang damai, bebas dari
kekerasan, sebuah cita-cita luhur, tetapi alangkah sukar untuk
diwujudkan. Saya rasa sikap orang kepada Obama pada tahun-tahun yang
akan datang akan sangat tergantung pada keberhasilan atau kegagalannya
menerjemahkan doktrin perubahan itu ke dalam dunia nyata.
Seperti
halnya kemenangan Obama yang juga didukung oleh tokoh dan warga
Republik, maka Reagan sebelumnya juga mendulang suara dari warga
Demokrat. Di sini terlihat faktor figur dan situasi semasa dapat
melunturkan kesetiaan seseorang kepada partai, sekalipun tidak
serta-merta hengkang dari partainya.
Di Amerika, panorama
politik serupa itu tampaknya lumrah belaka, tak perlu saling mengutuk
dengan tuduhan oportunis dan sebagainya. Sekalipun pilpres Amerika yang
baru saja berlalu sarat dengan ketegangan, caci-maki, dan biaya yang
sangat tinggi, setelah usai, McCain sebagai pihak yang gagal,
mengucapkan pidato kekalahan dengan cara yang sangat dewasa.
Dia
tak perlu menyuruh pengikutnya main bakar-bakaran, demonstrasi, atau
menghasut. Malah ditawarkannya untuk bekerja sama dengan kubu Obama,
sekiranya diperlukan. Adapun suasana batin pihak yang kalah menjadi
remuk, misalnya, itu adalah risiko berpolitik.
Sewaktu Jimmy Carter kalah telak oleh Reagan dalam pilpres tahun 1980, seingat saya Carter berucap: I can't say it doesn't hurt
(Saya tidak bisa mengatakan bahwa [kekalahan] itu tidak menyakitkan).
Hillary tentu punya perasaan serupa saat dikalahkan Obama dalam
konvensi Partai Demokrat di Denver, Agustus 2008.
Tantangan
berat Presiden-Elek Barack Obama ke depan sudah sangat nyata. Ini
Resonansi saya yang keempat, jika bukan yang kelima, tentang tokoh ini.
Harapan umat manusia sedunia terhadap Obama untuk memperbaiki tatanan
global yang dirusak oleh kaum neokon dan pendukungnya terlalu tinggi.
Padahal, krisis finansial domestik di Amerika parah sekali.
Diperkirakan
defisit warisan Bush akan mencapai 500 miliar dolar saat Obama angkat
sumpah sebagai presiden ke-44 Amerika pada 20 Januari 2009, dan akan
membengkak menjadi satu triliun akhir tahun itu.
Kalau bukanlah
negara kaya, Amerika sudah pasti akan tersungkur menjadi negara paria
di muka bumi, apalagi sebagian besar rakyatnya telah terlalu manja
menikmati kemakmuran selama lebih setengah abad. Maka, bisa dibayangkan
kesulitan yang sedang dan akan dihadapi Obama, tidak saja menyangkut
masalah domestik, tetapi juga pada tatanan global.
Seperti
mencari penyelesaian terhadap petualangan Bush di Afghanistan dan Irak,
dua negara tak berdaya yang telah dihancurkan oleh setan
neoimperialisme yang sangat durjana itu.
Akhirnya, apakah ucapan Obama: I'm my own worst critic
(Saya adalah pengkritik telak terhadap diri sendiri), akan dapat
melapangkan jalan baginya untuk belajar sebanyak-banyaknya, termasuk
dari lawan-lawan politiknya? Kesediaan mengkritik diri sendiri secara
jujur dan berani memang sangat diperlukan, terutama oleh para pemegang
jabatan publik, apalagi sebagai presiden dari sebuah negara besar.
Kedegilan
Bush dan banyak pemimpin keras kepala lainnya karena sering menampik
pendapat yang berbeda, sekalipun benar. Hanya mereka yang tulus dan
berjiwa besar saja yang bisa melawan sifat buruk itu. Adapun mereka
yang besar kepala dan kaum fundamentalis umumnya berpegang kepada
doktrin ini: Either with us, or, against us (Turut kami, atau
lawan kami). Doktrin hitam-putih serupa inilah yang menjadi salah satu
sumber malapetaka di dunia modern sekarang ini.
Kita berharap
agar Obama menghayati betul filosofi kritik diri yang telah
diucapkannya sebagai syarat bagi seorang pemimpin untuk melakukan
perubahan fundamental pada ranah domestik dan ranah global.
Sumber : www.republika.co.id
|