|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Suatu kali Fareed
Zakaria pernah bertutur begini: ''Adakalanya saya mendapatkan diri saya
dalam posisi kurang enak untuk dipepetkan ke suatu dunia yang bukan
milik saya, dalam arti bahwa saya bukanlah seorang religius.'' Fareed
kelahiran Mumbai, Maharashtra, India, pada 20 Januari 1964. Ayahnya
Rafiq Zakaria, politikus dalam Partai Kongres India, di samping seorang
sarjana Muslim. Ibunya Fatima Zakaria, pernah berkarier sebagai editor Times of India, edisi Ahad.
Pendidikan
awalnya pada Cathedral and John Connon School di Mumbai, tampaknya
milik misi Kristen di kota itu. Usia 18 tahun, Fareed merantau ke
Amerika, mula-mula kuliah di Universitas Yale, kemudian ke Universitas
Harvard untuk PhD dalam ilmu pemerintahan. Istrinya Paula Throckmorton,
telah dikurnia tiga anak: Omar, Laila, dan Sofia.
Pekerjaan sekarang sebagai editor internasional mingguan Newsweek, sebelumnya editor pada jurnal Foreign Affairs,
dua penerbitan sangat bergensi di Amerika. Salah seorang gurunya di
Harvard adalah Samuel P Huntington, penulis buku sarat kontroversial The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996).
Karya terbaru Fareed Zakaria adalah The Post-American World (WW Norton & Company, 2008). Sebelumnya The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad (WW Norton & Company, 2003), telah diterjemahkan ke dalam belasan bahasa dan laku keras. Komentar Huntington tentang The Future of Freedom
adalah: ''Dengan kefasihan dan kedalaman pengetahuan, Fareed Zakaria
menyatakan untuk masa kita suatu kebenaran fundamental yang sebelumnya
telah diartikulasikan oleh Aristoteles dan Tocqueville: demokrasi yang
tidak diatur meruntuhkan kebebasan dan rule of law (pemerintahan berdasarkan hukum). The Future of Freedom
(Masa Depan Kebebasan) adalah salah satu buku terpenting tentang
kecenderungan politik global yang terlihat pada dasawarsa yang lalu.
Analisisnya yang bijak dan menenangkan menjadi pelajaran penting bagi
siapa saja yang peduli pada masa depan kebebasan di dunia.''
Tidak
saja Huntington yang menilai. Seorang Henry Kissinger juga tidak
ketinggalan: ''Fareed Zakaria, salah seorang penulis muda yang amat
brilian, telah menghasilkan sebuah karya memesona dan merangsang
pemikiran tentang dampak prinsip-prinsip konstitusional Barat atas
tatanan global.''
Baik kajian terhadap The Future maupun atas The Post-American telah bertebaran di berbagai media dunia, seperti tak berhenti mengalir. Bahkan, satu media Esquire telah menobatkan Fareed Zakaria sebagai salah seorang dari 21 manusia terpenting di abad ke-21.
Dalam
usia 44 tahun, Fareed telah muncul sebagai sosok yang diperhitungkan
orang karena analisisnya yang tajam, berimbang, dan disertai data
sejarah yang komprehensif. Fareed tidak saja muncul di Newsweek, juga di ABC, CNN,
dan di media lainnya. Entah berapa negara dunia yang telah
dijelajahinya sebagai wartawan, pengarang, dan pemikir. Saya sendiri
sudah sejak beberapa tahun ini mengikuti dengan tekun berbagai
pendapatnya tentang perkembangan global mutakhir. Fareed semula
mendukung penggunaan kekuataan militer PBB terhadap Irak dengan
personel sekitar 400 ribu.
Saya tidak tahu mengapa Fareed yang
biasanya sangat hati-hati, sampai menyetujui pengiriman pasukan PPB ke
Irak, sementara Amerika kemudian telah melakukan invasi ke sana tanpa
persetujuan Dewan Keamanan PBB.
Adapun kegagalan politik luar
negeri Bush di Irak telah dikecamnya dalam berbagai tulisannya. Bagi
Fareed, memaksakan demokrasi atas bangsa lain yang belum siap untuk itu
adalah kerja sia-sia dan pasti membawa korban. Minggu-minggu terakhir
Oktober 2008, Fareed telah terang-terangan mendukung Obama untuk
menjadi presiden yang ke-44 Amerika, sekalipun sinyal ke arah itu sudah
terasa jauh sebelumnya.
Pesan tersirat apa sebenarnya yang
hendak dikatakan oleh Resonansi ini? Jika sudah disampaikan bukan
tersirat lagi namanya. Tetapi baiklah, tersirat atau tidak, saya ingin
mengatakan bahwa semua manusia dengan latar belakang agama, ras,
kultur, geografi, dan sejarah yang bermacam-macam, dapat dan berhak
meraih posisi terkemuka dalam percaturan global. Tergantung adanya
disiplin dan kemauan keras untuk itu.
Kasus Obama dan Fareed
Zakaria adalah contoh terbaik terkini bagi kita. Obama, si kulit hitam
pertama yang maju sebagai calon presiden, di tengah-tengah lingkungan
kultur kulit putih. Fareed Zakaria adalah kolumnis Muslim papan atasNewsweek,
baik untuk edisi domestik maupun internasional. Tingkat peradaban dunia
sekarang secara berangsur tetapi pasti semakin bercorak meritokratik:
menghargai manusia sesuai dengan kualitas pribadinya. Saya tidak tahu,
apakah di dunia Muslim hal serupa bisa berlaku?
|