|
TEMPO Interaktif, Padang:
Ahmad Syafii Ma'arif, penerima Magsasay Award dari Filipina Agustus
lalu, kikuk penghargaannya itu dirayakan oleh Pemerintah Provinsi
Sumatera Barat, Sabtu (1/11). Ia marasa dibesar-besarkan. "Padahal
saya tak sebesar itu," ujarnya merendah.
Pada 1 Agustus 2008 lali
mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Pendiri Maarif Institute,
dianugerahi Magsaysay Award 2008 kategori Perdamaian dan Pemahaman
Internasional. Dewan Pengawas Ramon Magsaysay Award Foundation di
Manila,
Pria kelahiran Sumpur Kudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935, itu tak
bisa mengelak mendapat anugerah. Pun ia tak bisa menghalangi warga
Sumatera Barat ikut bergembira. Acara syukuran ini diprakarsai
pemerintah daerah dan disokong PT Semen Padang, Muhamadiyah dan Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia.
Di hadapan sektar 700 undangan,
Buya, panggilan Syafii Ma'arif, berceritera banyak orang Minang yang
merasa kehilangan kejayaan masa lampau seakan kejayaan itu sudah
berlalu, apalagi ditambah dengan pengalaman pahit masa lalu. “Akibat
PRRI itu kita merasa topaniang. Sudah, biarkanlah itu berlalu,”
hadirin tertawa karena memakai bahasa Sumpur Kudus.
Ia memuji
Gamawan Fauzi, Gubernur Sumatera Barat, yang menjadi pionir dalam
penerapan pemerintahan bersih dari korupsi dan kini diikuti daerah
kabupaten dan kota lainnya di Indonesia.
“Untuk memberantas korupsi, yang harus dikembangkan itu industri hati,” pesan Syafii.
Membalas
pujian Syafii, Gamawan Fauzi mengatakan, penghargaan dari pemerintah
Sumatera Barat dalam bentuk perayaan untuk Syafii bukan untuk mengenang
kejayaan tokoh Minang masa lalu. “Penghargaan untuk Buya Syafii ini
menjawab kerisauan orang Minang selama ini karena tidak ada tokoh
Minang yang lahir di masa sekarang. Apalah artinya acara ini dengan
penghargaan Magsasay yang dianggap nobel Asia," balas Gamawan Fauzi.
Sebelumnya,
Pengurus Pusat Muhammadiyah juga menggelar syukuran atas penghargaan
Magsaysay Award yang diperoleh Ahmad Syafii Ma'arif. Ia adalah orang
Indonesia yang ke-19 yang mendapat penghargaan tersebut.
Syafii
dinilai pantas menerima penghargaan Ramon Magsaysay karena
kepeduliannya terhadap penderitaan kaum miskin. Ia juga aktif memimpin
gerakan moral di tengah hirup pikuk politik yang mementingkan diri
sendiri maupun kelompok. Ia berpesan pemimpin Indonesia meniru
perilaku Ramon Magsaysay yang berpihak pada rakyat miskin. Inilah salah
satu cara mengurangi kemiskinan.
Sumber : www.tempointeraktif.com
|