Who's Online

Syndicate

Oct 30 2008
Gedung Putih, Presiden Hitam PDF Cetak E-mail
Thursday, 30 October 2008

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii MaarifJika kita mengamati hasil-hasil polling, baik di Amerika maupun di bagian-bagian lain dunia, sudah hampir dapat dipastikan bahwa Barack H Obama akan memenangkan pilpres 4 November 2008, persis hari Selasa minggu depan. Pelantikannya baru diadakan pada 20 Januari 2009. Manakala semuanya berjalan lancar, maka Obama akan dicatat sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama di sebuah negara yang didominasi warga kulit putih, umumnya keturunan Eropa. Jelas peristiwa ini sebuah keajaiban sejarah, sebab kultur rasis (rasialis) belum sepenuhnya pupus di negara itu, sekalipun situasinya sudah semakin membaik.

Tentang asal-usul Obama, fakta ini harus dipertimbangkan. Dia adalah manusia merdeka sejak nenek moyangnya. Ayahnya dari Kenya yang belajar di Amerika, sedangkan ibunya seorang Amerika kulit putih yang cukup lama bekerja di Indonesia. Dengan demikian Obama tidak punya beban sejarah sedikit pun dari sisi silsilahnya. Mungkin itulah sebabnya dalam tiga kali perdebatan capres dengan John McCain, kepercayaan diri Obama ditunjukkan dengan sangat prima. Bahwa dia ingin membela kulit hitam, itu bukan karena rasis, tetapi semata-mata demi tegaknya keadilan bagi semua warga, tanpa diskriminasi, apa pun alasannya. Kolumnis kulit putih Anna Quindlen (Newsweek edisi 27 Oktober 2008), mengkritik cara-cara kampanye kubu McCain dengan kalimat ini:

''Kalimat yang paling tak berguna yang dicobakan kubu kampanye McCain adalah pertanyaan eksistensial: Siapa sebenarnya Barack Obama itu? Meskipun upaya-upaya dari kelompok sayap kanan untuk menciptakan seorang Obama <I>pinata<I>, bagian-bagian ambisi yang tak mungkin, berbahaya, dan sosialisme, jawabannya jelas: apa pun alasannya, dia seorang yang cerdas dan sabar yang sungguh senang dengan warna kulitnya sendiri.''  (Di Meksiko, pinata adalah wadah dari tanah liat dalam beraneka bentuk yang digantung di plafon rumah dan harus dihancurkan oleh anak-anak untuk mendapatkan permen atau mainan di dalamnya --Red).

Obama adalah manusia terdidik, terakhir PhD di Universitas Harvard, pernah jadi dosen pada Universitas Chicago. Adapun pernah minum saat muda, telah diakuinya terus terang tanpa rasa malu dalam otobiografinya. Kesediaan mengakui apa adanya tentang diri sendiri adalah pertanda dari sikap percaya diri.

Kemudian, pilihan pendamping Obama, seorang Joe Biden yang berpengalaman dalam masalah-masalah luar negeri dan keamanan dinilai banyak pengamat sebagai bagian dari kejelian tim Partai Demokrat. Berbeda dengan McCain yang memilih Sarah Palin, gubernur Alaska, yang dinilai tidak qualified untuk masuk Gedung Putih, Biden yang sudah berumur dikenal sebagai seorang politikus piawai.

Obama tampaknya sadar betul bahwa ia sangat memerlukan seorang pendamping yang dapat menutupi kelemahan dirinya. Memang banyak juga yang menghendaki Hillary Clinton yang maju, tetapi tim Obama telah menetapkan Biden. Hebatnya Hillary dan Bill Clinton mendukung pilihan itu. Melalui cara ini, Partai Demokrat saat ini relatif kompak, sementara pihak Republik tidak sepenuhnya di belakang McCain. Apalagi terakhir Colin Powell, mantan menlu Bush periode pertama dan sahabat lama McCain, telah berpihak pula kepada Obama.

Jika Obama benar-benar terpilih jadi presiden Amerika yang ke-44 dan kemudian mengubah politik luar negeri neo-imperialistik Presiden Bush, maka dunia tampaknya akan semakin tenang, terutama Iran dan Korea Utara, sekalipun sebagai negara adikuasa pasca-Perang Dingin, posisi Amerika sesungguhnya sudah mulai rapuh, khususnya di bidang ekonomi dan investasi. Buku Fareed Zakaria, The Post-American World (Mei 2008) yang sedang hangat dibedah orang di seluruh dunia, dengan sangat jelas memberikan fakta tentang the rise of the rest (bangkitnya pusat-pusat kekuatan ekonomi baru) di Eropa, Asia, dan Afrika, yang sebagian telah menyalip Amerika. 

Sebagai seorang yang sejak awal mengikuti pilpres Amerika kali ini, saya sungguh berharap agar pembunuhan politik terhadap seorang Obama jangan sampai terjadi. Jika itu terjadi juga nanti, maka borok rasisme Amerika belum dapat disembuhkan oleh resep demokrasi liberal yang diagungkan selama ini. Bukankah prinsip demokrasi sejati memberi peluang dan hak yang sama kepada semua warga untuk turut ambil bagian dalam proses pengambilan keputusan dalam sebuah negara?

Dalam perkembangan berita di hari-hari terakhir ini, tuduhan sementara pihak bahwa Obama ''lahiriah Kristen, batiniah Muslim,'' sudah tidak terdengar lagi, sebab sudah tidak laku karena Amerika dan dunia sekarang sedang memasuki sebuah era baru yang tidak mau didikte oleh siapa pun. Siapa tahu Obama adalah pionir utama yang membuka gerbang era baru itu!

SUmber : www.republika.co.id

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >