|
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Jika kita mengamati hasil-hasil polling,
baik di Amerika maupun di bagian-bagian lain dunia, sudah hampir dapat
dipastikan bahwa Barack H Obama akan memenangkan pilpres 4 November
2008, persis hari Selasa minggu depan. Pelantikannya baru diadakan pada
20 Januari 2009. Manakala semuanya berjalan lancar, maka Obama akan
dicatat sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama di sebuah negara
yang didominasi warga kulit putih, umumnya keturunan Eropa. Jelas
peristiwa ini sebuah keajaiban sejarah, sebab kultur rasis (rasialis)
belum sepenuhnya pupus di negara itu, sekalipun situasinya sudah
semakin membaik.
Tentang asal-usul Obama, fakta ini harus dipertimbangkan. Dia adalah
manusia merdeka sejak nenek moyangnya. Ayahnya dari Kenya yang belajar
di Amerika, sedangkan ibunya seorang Amerika kulit putih yang cukup
lama bekerja di Indonesia. Dengan demikian Obama tidak punya beban
sejarah sedikit pun dari sisi silsilahnya. Mungkin itulah sebabnya
dalam tiga kali perdebatan capres dengan John McCain, kepercayaan diri
Obama ditunjukkan dengan sangat prima. Bahwa dia ingin membela kulit
hitam, itu bukan karena rasis, tetapi semata-mata demi tegaknya
keadilan bagi semua warga, tanpa diskriminasi, apa pun alasannya.
Kolumnis kulit putih Anna Quindlen (Newsweek edisi 27 Oktober 2008), mengkritik cara-cara kampanye kubu McCain dengan kalimat ini:
''Kalimat
yang paling tak berguna yang dicobakan kubu kampanye McCain adalah
pertanyaan eksistensial: Siapa sebenarnya Barack Obama itu? Meskipun
upaya-upaya dari kelompok sayap kanan untuk menciptakan seorang Obama
<I>pinata<I>, bagian-bagian ambisi yang tak mungkin,
berbahaya, dan sosialisme, jawabannya jelas: apa pun alasannya, dia
seorang yang cerdas dan sabar yang sungguh senang dengan warna kulitnya
sendiri.'' (Di Meksiko, pinata adalah wadah dari tanah liat
dalam beraneka bentuk yang digantung di plafon rumah dan harus
dihancurkan oleh anak-anak untuk mendapatkan permen atau mainan di
dalamnya --Red).
Obama adalah manusia terdidik, terakhir PhD di
Universitas Harvard, pernah jadi dosen pada Universitas Chicago. Adapun
pernah minum saat muda, telah diakuinya terus terang tanpa rasa malu
dalam otobiografinya. Kesediaan mengakui apa adanya tentang diri
sendiri adalah pertanda dari sikap percaya diri.
Kemudian,
pilihan pendamping Obama, seorang Joe Biden yang berpengalaman dalam
masalah-masalah luar negeri dan keamanan dinilai banyak pengamat
sebagai bagian dari kejelian tim Partai Demokrat. Berbeda dengan McCain
yang memilih Sarah Palin, gubernur Alaska, yang dinilai tidak qualified untuk masuk Gedung Putih, Biden yang sudah berumur dikenal sebagai seorang politikus piawai.
Obama
tampaknya sadar betul bahwa ia sangat memerlukan seorang pendamping
yang dapat menutupi kelemahan dirinya. Memang banyak juga yang
menghendaki Hillary Clinton yang maju, tetapi tim Obama telah
menetapkan Biden. Hebatnya Hillary dan Bill Clinton mendukung pilihan
itu. Melalui cara ini, Partai Demokrat saat ini relatif kompak,
sementara pihak Republik tidak sepenuhnya di belakang McCain. Apalagi
terakhir Colin Powell, mantan menlu Bush periode pertama dan sahabat
lama McCain, telah berpihak pula kepada Obama.
Jika Obama
benar-benar terpilih jadi presiden Amerika yang ke-44 dan kemudian
mengubah politik luar negeri neo-imperialistik Presiden Bush, maka
dunia tampaknya akan semakin tenang, terutama Iran dan Korea Utara,
sekalipun sebagai negara adikuasa pasca-Perang Dingin, posisi Amerika
sesungguhnya sudah mulai rapuh, khususnya di bidang ekonomi dan
investasi. Buku Fareed Zakaria, The Post-American World (Mei 2008) yang sedang hangat dibedah orang di seluruh dunia, dengan sangat jelas memberikan fakta tentang the rise of the rest (bangkitnya pusat-pusat kekuatan ekonomi baru) di Eropa, Asia, dan Afrika, yang sebagian telah menyalip Amerika.
Sebagai
seorang yang sejak awal mengikuti pilpres Amerika kali ini, saya
sungguh berharap agar pembunuhan politik terhadap seorang Obama jangan
sampai terjadi. Jika itu terjadi juga nanti, maka borok rasisme Amerika
belum dapat disembuhkan oleh resep demokrasi liberal yang diagungkan
selama ini. Bukankah prinsip demokrasi sejati memberi peluang dan hak
yang sama kepada semua warga untuk turut ambil bagian dalam proses
pengambilan keputusan dalam sebuah negara?
Dalam perkembangan
berita di hari-hari terakhir ini, tuduhan sementara pihak bahwa Obama
''lahiriah Kristen, batiniah Muslim,'' sudah tidak terdengar lagi,
sebab sudah tidak laku karena Amerika dan dunia sekarang sedang
memasuki sebuah era baru yang tidak mau didikte oleh siapa pun. Siapa
tahu Obama adalah pionir utama yang membuka gerbang era baru itu!
SUmber : www.republika.co.id
|