“MELAHIRKAN GENERASI PEJUANG HAM”
Jakarta, 22.10.08. “Upaya penegakkan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia masih perlu mendapat dukungan dari pelbagai pihak, tidak terkecuali peran aktif lembaga pendidikan. Agenda ini menuntut kerja-kerja kreatif bahkan terobosan dari semua elemen institusi pendidikan nasional, termasuk sekolah Muhammadiyah”. Demikian disampaikan Prof. Dr. Yahya Muhaimin, MA, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, dalam launching dan bedah buku pendidikan agama Berwawasan HAM, Rabu, 22 Oktober 2008, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Mantan Mendiknas di era Presiden Abdurrahman Wahid ini menyambut baik inisiatif MAARIF Institute dan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah menyusun dan menerbitkan buku ajar Al Islam dan Kemuhammadiyahan Berwawasan HAM. Untuk penerbitan buku tersebut, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Raja Juli Antoni, berterimakasih kepada semua pihak, terutama Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, atas dukungan dan kerjasamanya.
Di hadapan ratusan peserta bedah buku tersebut, Prof. Dr. Azyumardi Azra, menilai kehadiran buku ajar pendidikan agama Islam yang mengintegrasikan HAM ke dalamnya sangat relevan dan kontekstual dengan misi agama Islam yang rahmatan lil alamin. Menurut Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, “Apa yang telah dikerjakan MAARIF Institute dan Majelis Dikdasmen Muhammadiyah berkontribusi penting dalam upaya pembaharuan pendidikan agama di Indonesia”. Pembedah lain, Komisioner Komnas HAM, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan sependapat dengan pandangan Azra. “Dunia pendidikan agama kita masih sangat membutuhkan sumber-sumber bahan ajar yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai luhur kemanusiaan sekaligus menarik kemasannya dan mudah dicerna baik oleh pendidik maupun peserta didik”, ujar Guru Besar Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Sudah seharusnya sekolah-sekolah Muhammadiyah melahirkan generasi yang peduli sekaligus pejuang HAM. Bagi Dra. Yayah Khisbiyah, MA, Psikolog Sosial yang juga pakar bidang pendidikan perdamaian, ia sangat tertarik dengan model isi dan kemasan buku yang ditampilkan secara kontekstual, elegan, funky. Lebih dari itu, yang lebih substansial adalah kemampuan buku untuk menanamkan nilai-nilai sosial dan prilaku humanis tanpa terkesan menggurui. Meskipun begitu, diakhir sesi, para pembedah mengingatkan bahwa kehadiran buku tersebut belum menjamin bahwa penanaman nilai dan prilaku yang peduli HAM akan berjalan maksimal jika tidak ditunjang oleh dukungan lingkungan dan aktor pendidikan, seperti pemegang kebijakan, kepala sekolah, dan guru.
Demikian release ini kami sampaikan dan terima kasih banyak atas kerjasamanya.
Hormat kami,
Fajar Riza Ul Haq
Direktur Program
|