|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Pusat Riset Pew yang
bermarkas di Washington DC pada 17 September 2008 menurunkan sebuah
laporan yang disebut ''Pew Global Attitudes Project'' (Proyek
Sikap-sikap Global Pew) tentang sikap penganut agama di Eropa,
khususnya terhadap komunitas Yahudi dan komunitas Muslim. Laporan yang
lebih dari 70 halaman itu diberi judul ''Unfavorable Views of Jews and
Muslims on The Increase in Europe'' (Pandangan tak Seronok Terhadap
Orang Yahudi dan Orang Islam yang Sedang Meningkat di Eropa).
Peningkatan ''rasa tak senang'' yang bercorak etnosentris terhadap dua
komunitas itu pada sejumlah negara di Eropa semakin dirasakan pada
2006-2008.
Sikap curiga itu terlihat dalam angka-angka ini: 46 persen rakyat
Spanyol tidak senang terhadap Yahudi, sedangkan 34 persen rakyat Rusia
dan 36 persen rakyat Polandia menampakkan pandangan negatif serupa
terhadap Yahudi. Rakyat Jerman dan Prancis juga punya sikap yang sama,
tetapi angkanya lebih rendah, yaitu masing-masing 25 persen dan 20
persen. Berbeda dengan negara-negara yang baru saja kita sebut, di
Inggris hanya sebanyak 9 persen, di Australia 11 persen, di Amerika 7
persen yang menyatakan sikap negatif terhadap Yahudi.
Kemudian,
bagaimana dengan komunitas Muslim? Ternyata, angkanya sedikit lebih
tinggi. Spanyol 52 persen, Jerman 50 persen, Polandia 46 persen, dan
Prancis 38 persen. Dibandingkan dengan komunitas Yahudi, peningkatan
sikap negatif terhadap Muslim berlaku lebih awal, yaitu pada 2004-2006,
tetapi pada beberapa negara tampak tanda-tanda penurunan.
Terhadap
umat Kristen, sikap negatif itu juga berlaku, tetapi dengan kadar yang
lebih rendah dan stabil. Di Spanyol, sentimen anti-Kristen mengalami
peningkatan, dari 10 persen pada 2005 menjadi 24 persen pada 2008.
Adapun Prancis sebagai bangsa yang paling sekuler, terdapat 17 persen
rakyatnya yang tidak seronok terhadap komunitas Kristen. Prancis adalah
yang menarik untuk diamati karena hanya satu di antara sepuluh
rakyatnya yang memandang agama sebagai sesuatu yang penting. Angka 17
persen ini adalah suatu kemunduran karena pada 2004 hanya 9 persen
rakyat Prancis yang bersikap buruk terhadap komunitas Kristen.
Sentimen
negatif ini umumnya berasal dari kelompok yang sama, yaitu golongan
tua, usia di atas 50, dan mereka yang tidak terdidik. Golongan muda
pada umumnya bersikap lebih positif. Di samping golongan tua yang
kurang terdidik; di kalangan kelompok kanan, sentimen anti-Yahudi, dan
anti-Muslim juga meningkat. Di Prancis, Jerman, dan Spanyol, terdapat
56 persen rakyatnya yang bersikap buruk terhadap Muslim dibandingkan
dengan 42 persen kelompok kiri dan 45 persen golongan tengah.
Sedangkan, sikap anti-Yahudi terdapat pada 34 persen golongan kanan, 28
persen golongan kiri, dan 26 persen kelompok tengah.
Khusus
sikap publik komunitas Muslim terhadap agama yang disurvei pada 24
negara antara Maret-April 2008, Pew menurunkan laporan berikut. Oleh
sebagian besar rakyat di negara-negara ini, agama dipandang sebagai
sesuatu yang sentral dalam hidup mereka, khususnya di kalangan tua.
Sementara
itu, anak mudanya bersikap lebih longgar. Terdapat juga perbedaan sikap
antara laki-laki dan perempuan komunitas Muslim terhadap agama,
terutama di Amerika Serikat. Sebesar 65 persen perempuan memandang
agama sebagai sesuatu yang teramat penting, sementara laki-laki hanya
44 persen.
Tidak kurang menariknya adalah sikap komunitas Muslim
terhadap terorisme dengan kecenderungan yang semakin negatif sejak
beberapa tahun terakhir, terutama terlihat di Nigeria, Turki, dan
Pakistan. Anehnya, di Mesir, ada tanda-tanda peningkatan dukungan.
Begitu juga sejak 2002, persentase pembenaran tindakan bom bunuh diri
terhadap penduduk sipil telah jauh menurun di negara-negara mayoritas
Muslim. Di Lebanon, misalnya, tahun 2004 terdapat 74 persen komunitas
Muslim yang membenarkan serangan bom bunuh diri itu. Sekarang, hanyalah
32 persen yang masih bertahan dalam sikap serupa ini. Sikap terhadap
Usamah bin Ladin juga menunjukkan kecenderungan serupa. Tiga tahun yang
lalu, sebanyak 61 persen Muslim Yordania punya kepercayaan terhadap
Usamah. Tahun 2008 hanya tersisa 19 persen. Artinya, umat Islam secara
keseluruhan lama-lama sudah semakin menjadi sadar bahwa jalan kekerasan
bukanlah cara-cara beradab dalam mencapai tujuan politik. Tahun 2003,
terdapat 20 persen Muslim Lebanon dan 15 persen Muslim Turki punya
pandangan positif terhadap Bin Ladin, sekarang merosot masing-masing
menjadi 3 persen dan 2 persen. Yang sedikit mengagetkan adalah hasil
survei Pew tentang masih tingginya tingkat kepercayaan terhadap Bin
Ladin di Nigeria, Indonesia, dan Pakistan yang masing-masing 58 persen,
37 persen, dan 34 persen.
Akhirnya, apakah hasil survei yang
semacam ini mewakili kenyataan yang sebenarnya? Tentu, perlu penelitian
bandingan yang lebih jauh. Tetapi, setidak-tidaknya, kita telah diberi
angka-angka kasar tentang peta keagamaan tahun 2008 ini.
Sumber : www.republika.co.id
|