|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Kita surut ke
belakang sebentar untuk sekadar merekam bahwa tokoh ini telah lama
masuk dalam memori saya. Di malam nahas Ramon mengalami kematian, saya
dalam usia 22 tahun, kebetulan sedang berada di atas kapal dalam
pelayaran Lombok-Teluk Bayur yang memakan tempo 11 hari. Melalui radio
diberitakanlah tentang tragedi maut yang menggemparkan ini. Sejak itu
nama Ramon tidak pernah hilang dari ingatan saya. Apalagi pada 1957 itu
situasi politik di Tanah Air lagi hangat karena Majelis Konstituante
sedang bersidang untuk merumuskan UUD baru sebagai ganti UUDS 1950.
Selain itu PKI, partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRC,
dalam berbagai manuver politik berusaha keras untuk menghancurkan lawan
tanggguhnya: Partai Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia).
Saya yang saat itu menjadi simpatisan berat Masyumi dengan kematian
Ramon menjadi sangat risau karena seorang pejuang antikomunis Filipina
telah tiada. Apalagi Ramon dengan program anti-kemiskinannya sampai
batas-batas yang jauh telah berhasil menginsyafkan para petani miskin
untuk tidak terus menjadi mainan Huks yang berambisi menjadikan
Filipina menjadi negara komunis. Ingat di tahun 1950-an itu di
Indonesia PKI mulai berada di atas angin setelah berhasil melakukan
konsolidasi politik secara efektif pasca pemberontakan Madiun 1948.
Dengan kematian Ramon, PKI merasa lega karena salah seorang tokoh
antikomunis Asia telah hilang. Ini memberikan amunisi kepada PKI
bergerak lebih cepat menuju pusat kekuasaan, seperti halnya Huks di
Filipina. Berbeda dengan Ramon yang bekerja keras membabat akar Huks,
PKI justru mendapat perlindungan dari pemimpin tertinggi Indonesia
ketika itu.
Mengapa Ramon begitu dihormati di Filipina? Pertama,
karena Ramon adalah presiden Filipina pertama yang mendapat gelar
Presiden Rakyat. Penulis biografi Ramon, Manuel F. Martinez, memang
telah mengukuhkan sebutan itu dalam karyanya yang berjudul: Magsaysay The People's President
(2005). Karya ini diedit Nelson A. Navarro dengan kata pengantar
Senator Ramon Magsaysay Jr. yang tidak lain adalah putra Ramon. Dalam
karya inilah Ramon diulas secara objektif tentang kekuatan dan
kelemahannya, sekalipun sisi kekuatannya terasa lebih ditonjolkan. Di
antara 'kelemahannya' dikatakan banyak kaum pengusaha dari lingkungan
famili dan orang-orang dekatnya marah kepada Ramon lantaran sikap
ketusnya untuk tidak memberikan fasilitas apa pun kepada mereka.
Nepotisme
di Filipina telah dipangkas Ramon dalam upaya menegakkan sebuah tata
kelola pemerintahan yang baik, sekalipun telah menimbulkan perlawanan.
Sebuah good governance hanyalah mungkin menjadi kenyataan
jika hukum benar-benar ditegakkan tanpa diskriminasi. Di antara ucapan
Ramon yang banyak dikutip adalah, "Saya akan penjarakan ayah saya
sendiri jika melanggar hukum."
Selain sebutan sebagai Presiden
Rakyat, alasan kedua mengapa Ramon tetap saja menjadi sumber inspirasi
bagi banyak kalangan di dunia, khususnya di Asia, sampai saat ini
adalah karena ada yayasan RMAF yang setiap tahun memberikan penghargaan
kepada perseorangan dan lembaga yang dinilai telah menerjemahkan
gagasan besar Ramon dalam berbagai bidang: pelayanan pemerintahan,
jurnalisme-sastra-seni-komunikasi kreatif, kepemimpinan komunitas,
pelayanan publik, kepemimpinan heroik dalam situasi berbahaya (emergent leadership), perdamaian dan pengertian internasional.
Dengan
dukungan kuat dari Yayasan Rockefeller Bersaudara (YRB) dari Amerika
Serikat segera setelah tragedi 1957 di atas, gagasan-gagasan besar
Ramon tetap saja dikaji dan diulas selama 50 tahun terakhir dan
tampaknya akan terus berlanjut.
Inilah ucapan John D.
Rockefeller III kepada Presiden Carlos P. Garcia, pengganti Ramon, enam
pekan setelah tragedi Cebu: "Saudara-saudara saya dan saya sendiri
telah mengikuti dengan cermat kehidupan dan karya Ramon Magsaysay. Kami
sangat percaya kepada semuanya untuk apa ia berdiri tegak. Dewan YRB
akan mempertimbangkan suatu keistimewaan untuk ambil bagian dalam
mendirikan sebuah kenangan hidup bagi presiden yang telah tiada. Mereka
telah memberikan otoritas kepada saya untuk menyarankan bagi penciptaan
Anugerah Ramon Magsaysay untuk diberikan setiap tahun kepada seseorang
atau lebih di Asia yang kepemimpinannya menonjol karena didorong oleh
sebuah keprihatinan bagi kemakmuran rakyat dibandingkan dengan apa yang
telah menjadi karakteristik kehidupan Ramon Magsaysay."
Itulah
Ramon Magsaysay, sahabat orang miskin di muka bumi. Sayang, sampai
detik ini Filipina baru punya satu Ramon Magsaysay, pemimpin langka itu!
Sumber : www.republika.co.id
|