Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Oct 07 2008
Warisan Ramon Magsaysay (II) PDF Print E-mail
Tuesday, 07 October 2008

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii MaarifKita surut ke belakang sebentar untuk sekadar merekam bahwa tokoh ini telah lama masuk dalam memori saya. Di malam nahas Ramon mengalami kematian, saya dalam usia 22 tahun, kebetulan sedang berada di atas kapal dalam pelayaran Lombok-Teluk Bayur yang memakan tempo 11 hari. Melalui radio diberitakanlah tentang tragedi maut yang menggemparkan ini. Sejak itu nama Ramon tidak pernah hilang dari ingatan saya. Apalagi pada 1957 itu situasi politik di Tanah Air lagi hangat karena Majelis Konstituante sedang bersidang untuk merumuskan UUD baru sebagai ganti UUDS 1950. Selain itu PKI, partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRC, dalam berbagai manuver politik berusaha keras untuk menghancurkan lawan tanggguhnya: Partai Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia).

Saya yang saat itu menjadi simpatisan berat Masyumi dengan kematian Ramon menjadi sangat risau karena seorang pejuang antikomunis Filipina telah tiada. Apalagi Ramon dengan program anti-kemiskinannya sampai batas-batas yang jauh telah berhasil menginsyafkan para petani miskin untuk tidak terus menjadi mainan Huks yang berambisi menjadikan Filipina menjadi negara komunis. Ingat di tahun 1950-an itu di Indonesia PKI mulai berada di atas angin setelah berhasil melakukan konsolidasi politik secara efektif pasca pemberontakan Madiun 1948. Dengan kematian Ramon, PKI merasa lega karena salah seorang tokoh antikomunis Asia telah hilang. Ini memberikan amunisi kepada PKI bergerak lebih cepat menuju pusat kekuasaan, seperti halnya Huks di Filipina. Berbeda dengan Ramon yang bekerja keras membabat akar Huks, PKI justru mendapat perlindungan dari pemimpin tertinggi Indonesia ketika itu.

Mengapa Ramon begitu dihormati di Filipina? Pertama, karena Ramon adalah presiden Filipina pertama yang mendapat gelar Presiden Rakyat. Penulis biografi Ramon, Manuel F. Martinez, memang telah mengukuhkan sebutan itu dalam karyanya yang berjudul: Magsaysay The People's President (2005). Karya ini diedit Nelson A. Navarro dengan kata pengantar Senator Ramon Magsaysay Jr. yang tidak lain adalah putra Ramon. Dalam karya inilah Ramon diulas secara objektif tentang kekuatan dan kelemahannya, sekalipun sisi kekuatannya terasa lebih ditonjolkan. Di antara 'kelemahannya' dikatakan banyak kaum pengusaha dari lingkungan famili dan orang-orang dekatnya marah kepada Ramon lantaran sikap ketusnya untuk tidak memberikan fasilitas apa pun kepada mereka.

Nepotisme di Filipina telah dipangkas Ramon dalam upaya menegakkan sebuah tata kelola pemerintahan yang baik, sekalipun telah menimbulkan perlawanan. Sebuah good governance hanyalah mungkin menjadi kenyataan jika hukum benar-benar ditegakkan tanpa diskriminasi. Di antara ucapan Ramon yang banyak dikutip adalah, "Saya akan penjarakan ayah saya sendiri jika melanggar hukum."

Selain sebutan sebagai Presiden Rakyat, alasan kedua mengapa Ramon tetap saja menjadi sumber inspirasi bagi banyak kalangan di dunia, khususnya di Asia, sampai saat ini adalah karena ada yayasan RMAF yang setiap tahun memberikan penghargaan kepada perseorangan dan lembaga yang dinilai telah menerjemahkan gagasan besar Ramon dalam berbagai bidang: pelayanan pemerintahan, jurnalisme-sastra-seni-komunikasi kreatif, kepemimpinan komunitas, pelayanan publik, kepemimpinan heroik dalam situasi berbahaya (emergent leadership), perdamaian dan pengertian internasional.

Dengan dukungan kuat dari Yayasan Rockefeller Bersaudara (YRB) dari Amerika Serikat segera setelah tragedi 1957 di atas, gagasan-gagasan besar Ramon tetap saja dikaji dan diulas selama 50 tahun terakhir dan tampaknya akan terus berlanjut.

Inilah ucapan John D. Rockefeller III kepada Presiden Carlos P. Garcia, pengganti Ramon, enam pekan setelah tragedi Cebu: "Saudara-saudara saya dan saya sendiri telah mengikuti dengan cermat kehidupan dan karya Ramon Magsaysay. Kami sangat percaya kepada semuanya untuk apa ia berdiri tegak. Dewan YRB akan mempertimbangkan suatu keistimewaan untuk ambil bagian dalam mendirikan sebuah kenangan hidup bagi presiden yang telah tiada. Mereka telah memberikan otoritas kepada saya untuk menyarankan bagi penciptaan Anugerah Ramon Magsaysay untuk diberikan setiap tahun kepada seseorang atau lebih di Asia yang kepemimpinannya menonjol karena didorong oleh sebuah keprihatinan bagi kemakmuran rakyat dibandingkan dengan apa yang telah menjadi karakteristik kehidupan Ramon Magsaysay."

Itulah Ramon Magsaysay, sahabat orang miskin di muka bumi. Sayang, sampai detik ini Filipina baru punya satu Ramon Magsaysay, pemimpin langka itu!

 Sumber : www.republika.co.id

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Prev   Next >

Guitar Pro 5 for Mac
BoinxTV MAC
Autodesk Inventor 2012
Symantec Norton PartitionMagic 8.0
Adobe Soundbooth CS5 Student and Teacher Edition
Autodesk AutoCAD Inventor Tooling Suite 2011
Adobe Technical Communication Suite 2
UEStudio 10
Joboshare DVD to Zune Converter
HostMonitor Enterprise
Parallels Desktop 6 MAC
Strat-o-matic Football MAC
PowerTicker MAC
Joboshare DVD to AVI Converter