|
Di malam ramah-pisah penerima Anugerah Magsaysay 2008 dengan Ramon
Magsaysay Award Foundation (RMAF) pada 3 September, saya sengaja
mengusik suasana dengan melontarkan kalimat ini: ''Boleh jadi presiden
Filipina sekarang lebih dekat kepada kualitas Ramon Magsaysay (RM)
dibandingkan presiden-presiden terdahulu.'' Seperti telah diduga
sebelumnya, reaksi yang muncul adalah: ''ngheh'', sebagai tanda
penolakan terhadap lontaran saya itu.
RM memang telah menjadi
legenda dalam sejarah modern Filipina, bukan saja karena nasib malang
yang menimpanya dalam kecelakaan pesawat di Cebu pada malam 17 Maret
1957 yang membawa kematiannya, tetapi karena kebijakan politiknya yang
proorang miskin, promassa, dan pro keadilan yang belum ada duanya dalam
sejarah negara tetangga itu. Kebijakan inilah yang telah meroketkan
namanya, tidak saja di negerinya, tetapi juga pada tataran global.
RM yang punya darah Melayu, Cina, dan Spanyol, lahir 31 Agustus 1907 di
Iba, ibu kota Provinsi Zambales, dalam kondisi sakit-sakitan. Bidan
Lola Ihay yang membantu kelahirannya memberi tahu ibu Magsaysay,
Perfecta Magsaysay, bahwa ubun-ubun bayinya lunak, tengkoraknya tidak
sempurna. Sebagai bidan, sela Lola, ini pengalaman pertamanya,
sekalipun banyak cerita yang saya dengar tentang hal serupa. Tampaknya
ia tak 'kan bertahan lama. Sekiranya bisa bertahan, ia akan memberi
keberuntungan kepada orang tuanya. Lebih mencemaskan lagi, sang bidan
memperkirakan bahwa Perfecta akan menderita banyak dalam memelihara
bayi yang ''aneh'' ini. Tetapi, sang ibu tetap tegar dan tidak pernah
putus asa mendengar ramalan bidan itu.
Oleh sebab itu, si ibu
terus berdoa agar anaknya tidak cepat dipanggil Tuhan, dan ia sanggup
menderita demi sang anak. Perfecta dengan demikian adalah seorang ibu
yang bersedia mengorbankan apa saja untuk RM yang 46 tahun kemudian
terpilih menjadi presiden ketiga Filipina (30 Des 1953-17 Maret 1957),
boleh jadi yang terbesar. Sebelum terpilih, RM adalah menteri
pertahanan dalam kabinet presiden Elpidio Quirino (1949-1953) yang
kemudian dikalahkannya dalam pilpres tahun 1953 dengan perbandingan
suara: RM 2,9 juta, Quirino 1,3 juta. Kecuali pada empat provinsi, RM
memenangkan pilpres di semua provinsi yang lain. RM bukan seorang
intelektual seperti Carlos Romulo, yang semula juga ingin bertanding
dalam pilpres, tetapi niatnya dibatalkan untuk kemudian mendukung RM.
Romulo telah membaca peta politik dengan cermat tentang kharisma RM
yang tak mungkin dilawan. Dalam suasana Perang Dingin pasca-Perang
Dunia II, RM mendukung politik luar negeri Amerika Serikat dalam
melawan komunisme. Gerakan Hukbalahap (<I>Hukbo ng Bayan Laban sa
Hapon<I> aslinya berarti ''Tentara Rakyat Anti-Jepang'') yang
kemudian dikuasai kaum komunis Filipina telah ditumpasnya, sekalipun
tidak sampai tuntas.
Berbeda dengan Romulo yang paham peta,
presiden yang sedang menjabat, Quirino, ketika seorang wartawan
mengusulkan agar bersedia maju dalam satu tiket Quirino-Magsaysay, toh
sama-sama dari Partai Liberal, memberikan jawaban yang sangat
menyakitkan, ''Bagaimana bisa membiarkan orang ini maju dalam tiket
saya? Dia bodoh. Dia tak tahu apa-apa tentang masalah-masalah negara,
atau tentang bagaimana menjalankannya. Kebaikannya hanyalah untuk
membunuh kaum Huks. Sayalah yang membuatnya menjadi seperti sekarang
ini.'' Pada saat itu RM mulai sadar bahwa sejarah telah berpihak
kepadanya, dan peluang itu tidak disia-siakannya. Persoalan Huks tidak
mungkin diatasi dengan hanya membunuh mereka melalui operasi militer.
Akar tunggangnya terletak pada realitas kemiskinan. Kepada Presiden
Quirino dalam sebuah surat RM menulis tentang masalah kemiskinan ini:
''Telah berulang saya tegaskan kepada Anda [tentang masalah massa
miskin ini], tetapi permohonan saya terjungkal pada telinga yang tuli.''
Tampak
di sini RM telah menunjukkan taringnya, tetapi tetap saja dilecehkan
Quirino. Selanjutnya kita baca dalam suratnya kepada Quirino tertanggal
1 Maret 1953: ''Untuk menyebut sebuah contoh, sekitar delapan bulan
yang lalu, saya memberi tahu Anda bahwa militer tetap di bawah kontrol,
dan saya tawarkan untuk melepaskan Departemen Pertahanan demi
mempercepat program penyelesaian masalah tanah oleh pemerintah. Tujuan
saya adalah untuk menggeser serangan kita terhadap komunisme kepada
akar pokok permasalahan negeri kita lapar untuk punya tanah.''
Sekalipun
kemenangan RM sudah di ambang pintu, dia tidak mau lengah. Tim
kampanyenya telah bekerja sangat keras dengan organisasi yang sangat
rapi. Hasilnya, dalam Konvensi Partai Liberal, RM memenangkan
pertarungan sebagai kandidat presiden menuju Istana Malacanang.
|