Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Sep 22 2008
Warisan Ramon Magsaysay (I) PDF Cetak E-mail
Monday, 22 September 2008

Ahmad Syafii MaarifDi malam ramah-pisah penerima Anugerah Magsaysay 2008 dengan Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF) pada 3 September, saya sengaja mengusik suasana dengan melontarkan kalimat ini: ''Boleh jadi presiden Filipina sekarang lebih dekat kepada kualitas Ramon Magsaysay (RM) dibandingkan presiden-presiden terdahulu.'' Seperti telah diduga sebelumnya, reaksi yang muncul adalah: ''ngheh'', sebagai tanda penolakan terhadap lontaran saya itu.

RM memang telah menjadi legenda dalam sejarah modern Filipina, bukan saja karena nasib malang yang menimpanya dalam kecelakaan pesawat di Cebu pada malam 17 Maret 1957 yang membawa kematiannya, tetapi karena kebijakan politiknya yang proorang miskin, promassa, dan pro keadilan yang belum ada duanya dalam sejarah negara tetangga itu. Kebijakan inilah yang telah meroketkan namanya, tidak saja di negerinya, tetapi juga pada tataran global.

RM yang punya darah Melayu, Cina, dan Spanyol, lahir 31 Agustus 1907 di Iba, ibu kota Provinsi Zambales, dalam kondisi sakit-sakitan. Bidan Lola Ihay yang membantu kelahirannya memberi tahu ibu Magsaysay, Perfecta Magsaysay, bahwa ubun-ubun bayinya lunak, tengkoraknya tidak sempurna. Sebagai bidan, sela Lola, ini pengalaman pertamanya, sekalipun banyak cerita yang saya dengar tentang hal serupa. Tampaknya ia tak 'kan bertahan lama. Sekiranya bisa bertahan, ia akan memberi keberuntungan kepada orang tuanya. Lebih mencemaskan lagi, sang bidan memperkirakan bahwa Perfecta akan menderita banyak dalam memelihara bayi yang ''aneh'' ini. Tetapi, sang ibu tetap tegar dan tidak pernah putus asa mendengar ramalan bidan itu.

Oleh sebab itu, si ibu terus berdoa agar anaknya tidak cepat dipanggil Tuhan, dan ia sanggup menderita demi sang anak. Perfecta dengan demikian adalah seorang ibu yang bersedia mengorbankan apa saja untuk RM yang 46 tahun kemudian terpilih menjadi presiden ketiga Filipina (30 Des 1953-17 Maret 1957), boleh jadi yang terbesar. Sebelum terpilih, RM adalah menteri pertahanan dalam kabinet presiden Elpidio Quirino (1949-1953) yang kemudian dikalahkannya dalam pilpres tahun 1953 dengan perbandingan suara: RM 2,9 juta, Quirino 1,3 juta. Kecuali pada empat provinsi, RM memenangkan pilpres di semua provinsi yang lain. RM bukan seorang intelektual seperti Carlos Romulo, yang semula juga ingin bertanding dalam pilpres, tetapi niatnya dibatalkan untuk kemudian mendukung RM. Romulo telah membaca peta politik dengan cermat tentang kharisma RM yang tak mungkin dilawan. Dalam suasana Perang Dingin pasca-Perang Dunia II, RM mendukung politik luar negeri Amerika Serikat dalam melawan komunisme. Gerakan Hukbalahap (<I>Hukbo ng Bayan Laban sa Hapon<I> aslinya berarti ''Tentara Rakyat Anti-Jepang'') yang kemudian dikuasai kaum komunis Filipina telah ditumpasnya, sekalipun tidak sampai tuntas.

Berbeda dengan Romulo yang paham peta, presiden yang sedang menjabat, Quirino, ketika seorang wartawan mengusulkan agar bersedia maju dalam satu tiket Quirino-Magsaysay, toh sama-sama dari Partai Liberal, memberikan jawaban yang sangat menyakitkan, ''Bagaimana bisa membiarkan orang ini maju dalam tiket saya? Dia bodoh. Dia tak tahu apa-apa tentang masalah-masalah negara, atau tentang bagaimana menjalankannya. Kebaikannya hanyalah untuk membunuh kaum Huks. Sayalah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini.'' Pada saat itu RM mulai sadar bahwa sejarah telah berpihak kepadanya, dan peluang itu tidak disia-siakannya. Persoalan Huks tidak mungkin diatasi dengan hanya membunuh mereka melalui operasi militer. Akar tunggangnya terletak pada realitas kemiskinan. Kepada Presiden Quirino dalam sebuah surat RM menulis tentang masalah kemiskinan ini: ''Telah berulang saya tegaskan kepada Anda [tentang masalah massa miskin ini], tetapi permohonan saya terjungkal pada telinga yang tuli.''

Tampak di sini RM telah menunjukkan taringnya, tetapi tetap saja dilecehkan Quirino. Selanjutnya kita baca dalam suratnya kepada Quirino tertanggal 1 Maret 1953: ''Untuk menyebut sebuah contoh, sekitar delapan bulan yang lalu, saya memberi tahu Anda bahwa militer tetap di bawah kontrol, dan saya tawarkan untuk melepaskan Departemen Pertahanan demi mempercepat program penyelesaian masalah tanah oleh pemerintah. Tujuan saya adalah untuk menggeser serangan kita terhadap komunisme kepada akar pokok permasalahan negeri kita lapar untuk punya tanah.''

Sekalipun kemenangan RM sudah di ambang pintu, dia tidak mau lengah. Tim kampanyenya telah bekerja sangat keras dengan organisasi yang sangat rapi. Hasilnya, dalam Konvensi Partai Liberal, RM memenangkan pertarungan sebagai kandidat presiden menuju Istana Malacanang.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Autodesk AutoCAD Revit MEP Suite 2011
Roxio Creator 2010 Pro
Adobe Contribute CS5 Student and Teacher Edition MAC
Adobe Photoshop Elements 9
Lynda Windows 7 Essential Training
PenSoft Payroll 2010 Accounting
Microsoft Office Home and Business 2010 64 Bit
Steinberg Cubase 5
Lynda InDesign CS5 Essential Training
Autodesk AutoCAD Inventor Routed Systems Suite 2011
RazorSQL MAC
Autodesk Maya 2011 MAC
Guitar Pro 6
Microsoft SQL Server 2008 Standard Edition