|
Jakarta, Kompas - Sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, ekspresi
Islam Indonesia, baik dalam budaya, intelektual, maupun politiknya,
tidak pernah menjadi sistem yang monolitik. Kondisi yang hampir sama
juga ada di negara Muslim lainnya. Sebuah kondisi masyarakat yang penuh
keberagaman meski sumber utama tetap mengacu kepada Al Quran dan hadis.
Hal
ini dikatakan Ahmad Syafii Maarif dalam tasyakuran penganugerahan
Magsaysay Award 2008 kepada dirinya di Gedung Pusat Dakwah
Muhammadiyah, Jakarta, Senin (15/9) malam. Acara ini dihadiri sejumlah
tokoh lintas agama, pejabat negara, aktivis hak asasi manusia,
politisi, mahasiswa, dan intelektual.
”Indonesia negeri plural, dan pluralisme ini harus tetap kita jaga,” ujar Syafii.
Menurut
Syafii, dalam masyarakat yang plural, dialog harus lebih diutamakan.
Dialog antar-agama yang dilakukan harus terwujud dalam bentuk
pencerahan bagi masyarakat sampai ke tingkat paling bawah.
Ketua
Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menyampaikan
penghargaannya pula kepada Syafii yang dinilai selalu berkomitmen pada
keislaman sekaligus pluralitas masyarakat. ”Islam selalu menghargai
perbedaan. Perbedaan itu adalah rahmat,” ujarnya.
Menteri
Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, penghargaan yang diberikan
kepada Syafii sangat pantas dengan apa yang selama ini dikerjakannya.
”Sebagai
warga Muhammadiyah, saya juga merasa bangga atas penghargaan Magsaysay
yang diterima Pak Syafii,” ujar Siti Fadilah. Ia melanjutkan, dunia ini
terasa lebih indah karena adanya berbagai perbedaan.
”Ini rahmat
bagi manusia. Saya tidak bisa bayangkan jika semua yang ada di dunia
ini sama dan seragam, tentu kita tidak bisa membedakan satu orang
dengan yang lain,” ujarnya.
Peneliti Centre for Strategic and
International Studies (CSIS), Rizal Sukma, mengatakan, sebagai orang
yang tak mau populer, penghargaan Magsaysay yang diterima Syafii akan
kian membuatnya terkenal.
Sumber : www.kompas.com
|