|
Tidak lama pascatragedi 11 September 2001, saat gencar-gencarnya
pers Barat menghantam Islam sebagai agama teror, tampillah Karen
Armstrong membela agama ini melalui argumen yang sangat meyakinkan.
Dalam kolom khusus dalam majalah Time dengan judul: The True, Peaceful Face of Islam.
Armstrong menulis: "Terdapat 1,2 miliar umat Islam di muka bumi, dan
Islam adalah agama dunia yang paling cepat berkembang. Sekiranya
pembunuhan keji yang baru kita saksikan pada 11 September adalah ciri
khas agama ini, dan Islam benar-benar mengilhami dan membenarkan tindak
kekerasan demikian itu, pertumbuhan dan kehadiran Muslim yang semakin
marak, baik di Eropa dan di Amerika Serikat, akan merupakan sebuah
prospek yang mengerikan. Untunglah, tidak demikian kasusnya."
Penulis perempuan Inggris ini dengan dalil-dalil Alquran dan fakta
sejarah akurat, sampai kepada kesimpulan bahwa kekerasan bukanlah wajah
Islam yang benar dan autentik. Wajah damai adalah jati diri Islam yang
sesungguhnya. Dampak tulisan ini di kalangan Barat sangat besar dan
positif. Secara berangsur, kemudian pers Barat tidak lagi menyamakan
Islam dengan terorisme. Umat Islam di belahan Barat yang jumlahnya
jutaan sungguh tertolong oleh artikel ini. Dan, semakin banyak saja
orang Barat yang ingin tahu sosok Islam yang autentik itu. Siapa yang
tidak berterima kasih kepada Armstrong yang pernah gagal menjadi
biarawati di Vatikan?
Tujuh tahun berjalan sesudah September 2001. Dunia Islam
diobrak-abrik pasukan neoimperialisme pimpinan Presiden George W Bush
yang kemudian diberi gelar oleh rakyatnya sendiri sebagai 'penghancur'.
Tetapi, di belahan lain, kaum fundamentalis dan garis keras segelintir
Muslim dengan dalil-dalil agama yang diselewengkan, karena terpancing
oleh perbuatan brutal Barat, telah terlibat dalam berbagai tindakan
teror yang sungguh menodai wajah Islam yang damai. Jika teroris Bush
adalah penghancur dalam skala besar, para teroris lainnya adalah
perusak dalam skala sporadis, tetapi sangat menakutkan. Indonesia telah
menjadi korban perbuatan mereka ini.
Alhamdulillah, manusia semakin sadar, teror tidak bisa dihentikan
dengan teror, tetapi harus dicari jalan yang beradab untuk melawannya.
Dalam kaitan inilah seruan Syekh Salman al-Oudah (Saudi), yang sangat
dihormati bin Ladin menjadi sangat penting. Kita kutip: "Saudara
Usamah, sudah berapa banyak darah yang tertumpah? Berapa banyak mereka
yang tak berdosa di kalangan anak-anak, orang tua, si lemah, dan
perempuan yang terbunuh dan telah kehilangan rumah atas nama Alqaidah?"
(Lih kolom Christopher Dickey dan Owen Matthews, The New Face of Islam dalam NewsweekOnline edisi 9 Juni 2008).
Sarjana lain adalah Sayyid Imam al-Sharif (Mesir--yang sekarang
masih dalam penjara) telah pula mengkritik keras perbuatan Alqaidah
yang jauh menyimpang dari syariah: "Ada pihak yang telah membunuh
ratusan manusia, termasuk perempuan dan anak-anak, Muslim dan
non-Muslim atas nama jihad." Semua perbuatan itu, kata Sharif, tidak
dapat diterima di mata Allah (Ibid). Sebagaimana yang saya tulis dalam Resonansi
sebelum ini, kita berharap bahwa dunia akan semakin bebas dari teror.
Teror negara yang dilawan oleh teror kelompok dan perorangan akan
semakin berkurang.
Seorang Bush sedang bersiap menghadapi masa depannya yang semakin
dicaci dunia akibat perbuatannya yang telah menghancurkan bagian-bagian
penting peradaban. Berapa banyak kekayaan peradaban klasik Irak yang
telah dicuri selama invasi, kita tidak tahu. Pengaruh bin Ladin juga
sudah semakin menciut akibat tafsiran jihadnya yang telah membunuh
banyak manusia yang tak berdosa. Baik Bush maupun bin Ladin sama-sama
berada dalam kategori fundamentalisme sebagai musuh dunia beradab. Sayonara fundamentalisme!
Sumber : www.republika.co.id
|