|
Berapa banyak darah tertumpah pada waktu terjadi Gerakan Reformasi dan
Anti-Reformasi di Eropa? Menurut catatan Oliveti, tidak kurang dari 2/3
penduduk Kristen Eropa yang terbantai pada waktu itu. Itu belum lagi
dihitung perang-perang yang lain, pogrom (pembantaian terorganisasi),
revolusi, dan genosida (pembunuhan secara teratur terhadap sebuah
etnis, suku bangsa), Perang Napoleon; perdagangan budak Afrika yang
menghabiskan nyawa sebesar 10 juta; berapa juta pula yang musnah akibat
penaklukan-penaklukan kolonial. Jangan Anda tanya lagi berapa banyak
penduduk asli Amerika yang dibantai oleh orang Eropa, baik di Amerika
Utara, Tengah, ataupun Selatan, angkanya mencapai 20 juta selama tiga
generasi.
Jika kita bergerak ke abad ke-20, angkanya semakin mengerikan.
Peradaban Barat telah mengubah peperangan ke kutub ekstrem. Perkiraan
konservatif yang mati di abad ke-20 lebih dari 250 juta. Dari jumlah
ini umat Islam hanya bertanggung jawab kurang dari 10 juta. Umat
Kristen atau mereka yang berlatar belakang Kristen telah membunuh lebih
dari 200 juta. Jumlah terbesar berasal dari Perang Dunia (PD) I
sejumlah 20 juta; setidak-tidaknya 90 persen dari angka ini dilakukan
oleh orang ''Kristen''. Angka yang lebih dahsyat lagi terjadi selama PD
II sebesar 90 juta, sekurang-kurangnya 50 persen dilakukan oleh pihak
''Kristen''. Selebihnya terbunuh di Asia Timur.
Oliveti
kemudian bertanya: ''Dengan sejarah yang serbasuram ini, terlihat bahwa
kita semua orang Eropa harus bertempur dengan fakta bahwa Perdaban
Islam dalam kenyataannya malah kurang brutal jika disandingkan dengan
Peradaban Kristen. Apakah Holocaust terhadap lebih enam juta Yahudi
yang terbunuh berlaku dengan latar belakang Peradaban Muslim?''
Tetapi,
Oliveti tidak menurunkan angka berapa pula yang terbunuh akibat
pertempuran dan konflik sesama Muslim, demi kekuasaan, dalam berbagai
periode sejarah, sebagai yang terbaca dalam ''Perspektif'' saya dalam
<I>Gatra<I>, 31 Juli-6 Agustus 2008, hlm 106. Tampaknya
darah lebih banyak tertumpah akibat konflik sesama Muslim dibandingkan
dengan antara Muslim dan non-Muslim. Tengok apa yang terjadi di Irak
dan Afghanistan, dan sampai batas-batas tertentu di Indonesia pada
waktu yang lalu, semuanya adalah pembunuhan oleh Muslim terhadap
Muslim, apa pun ideologi politik yang melatarbelakanginya.
Kembali
kepada data terbaru Oliveti. Selama abad ke-20, kekuasaan Barat atau
Kristen bertanggung jawab atas kematian umat manusia sekurang-kurangnya
20 kali lebih besar dibandingkan dengan kekuasaan Muslim. Di abad ini
Barat telah membinasakan manusia dengan jumlah raksasa, lebih dahsyat
dari seluruh korban yang terjadi sepanjang sejarah Islam. Ini
berlangsung sampai detik ini. Ambil contoh pembantaian 900 ribu rakyat
Ruwanda tahun 1994, di mana penduduknya lebih 90 persen Kristen; atau
tengok pula genosida atas lebih dari 300 ribu Muslim plus pemerkosaan
atas lebih 100 ribu wanita Muslim oleh Serbia Kristen di Bosnia pada
1992-1995. Maka, secara statistik, Peradaban Kristen adalah yang
terbanyak menumpahkan darah dan yang paling kejam dibandingkan dengan
peradaban manapun sepanjang sejarah.
Lebih jauh Oliveti
mengkritik penggunaan senjata nuklir yang semestinya cukup alasan bagi
Barat untuk merasa malu di depan umat manusia di muka bumi. Amerika
Serikat telah menciptakan senjata nuklir dan telah pernah
menggunakannya. Bangsa-bangsa Barat lainnya juga berupaya memonopoli
persenjataan yang bisa membawa kiamat itu. Sekalipun Islam punya konsep
tentang perang yang sah (seperti halnya agama Kristen dan Budha), tidak
pernah ada dalam kultur Islam (atau dalam kultur manapun yang bertahan
sampai sekarang) yang mengidolakan semuanya seperti yang terdapat dalam
kultur Barat.
Selanjutnya, manusia Barat menganggap dirinya suka
damai, tetapi dalam kenyataannya kelembutan dan keluhuran Perjanjian
Baru, dan watak cinta-damai demokrasi, jarang sekali tecermin dalam
kultur rakyat umum Barat. Yang berlaku dalam kultur itu, seperti
terlihat dalam film-film Hollywood, TV Barat, permainan video, musik
populer, dan hiburan sport--adalah untuk mengagungkan dan menanamkan
kekerasan. Maka, tidaklah mengherankan tingkat angka pembunuhan jauh
lebih tinggi di dunia Barat tinimbang di negeri-negeri Muslim. Mengapa seorang Sookhdeo tidak mau becermin?
Komentar
saya, terasa sekali kemarahan Oliveti terhadap seorang penginjil yang
tidak adil dalam membaca masa lampau Barat yang sarat dengan
pertumpahan darah. Tetapi, kemarahan serupa juga wajib kita alamatkan
kepada kelompok kecil Muslim yang senang membajak Tuhan, demi darah
Muslim dan non-Muslim.
Sumber : www.republika.co.id
|