|
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Dalam kamus bahasa Indonesia, borok adalah tukak (penyakit kulit) di
kaki, bernanah, dan berbau busuk. Dalam Resonansi ini, yang dimaksud
adalah borok kultur bangsa, tidak saja menggerayangi kaki, tetapi sudah
menggurita ke seluruh tubuh, hati, dan otak sebagian anak bangsa ini.
Baunya minta ampun, telah menyebar ke seluruh muka bumi karena
Indonesia adalah bangsa terbesar keempat sesudah Cina, India, dan
Amerika Serikat. Tentu saja, yang sehat tidak kurang jumlahnya, tetapi
seperti tak berdaya di tengah kultur kumuh yang berlangsung puluhan
tahun. Kita mulai dari yang lokal. Baru saja kapolres di sebuah
kabupaten memecat dua kapolsek yang berselingkuh dan keduanya sudah
punya isteri/suami dan anak. Sudah tiga kali diperingatkan, boroknya
malah semakin kambuh.
Bagi kapolres,
tidak ada pilihan lain, kecuali memecat dua anak buah yang berlain
jenis itu. Hidup kapolres! Anda telah bertindak tegas demi citra
kepolisian yang sudah sekian lama sarat dengan bermacam masalah. Masih
lokal, tetapi pada tingkat provinsi. Pilkada di beberapa provinsi
berlangsung ricuh.
Ada tokoh-tokoh tua, pernah jadi menteri, anggota DPR, tetapi masih
belum juga merasa jera untuk menceburkan diri dalam permainan panas
ini, sekalipun misalnya harus pakai tongkat. Rupanya, ada beberapa dari
kita seakan kurang sah sebagai warga negara jika hidup tanpa jabatan
dan tanpa pangkat. Alangkah seronoknya jabatan itu rupanya! Anak-anak
muda idealis yang sekarang jumlahnya semakin membesar hanya bisa
mengelus dada setelah menonton panorama politik yang tidak sedap itu.
Mereka kehilangan teladan.
Ini yang lebih luas mendapat sorotan: Kejaksaan Agung. Sudah puluhan
tahun sebenarnya aparat penegak hukum yang satu ini penuh borok. Jual
beli perkara bukan rahasia lagi, lengkap dengan calo yang berbakat,
termasuk perempuan profesional. Di depan perempuan ini, sebagian jaksa
seakan menjadi bawahannya, sebagai pesuruh. Ironis, tetapi itulah borok
kejaksaan kita. Jaksa Agung Bung Hendarman Supandji (saya kenal
pribadi) katanya akan bertindak tegas. Tentunya, kita berharap seperti
tegasnya kapolres di atas. Mari kita tunggu tindakan tegas itu, sampai
di mana nanti jangkauannya.
Kemudian DPR, pusat dan daerah. Bukan rahasia lagi, wajah-wajah
sebagian wakil rakyat ini sudah sangat membosankan. Kabarnya, ada yang
dulu sangat idealis semasa masih menjadi mahasiswa. Tidak saja idealis,
tetapi sangat berani dalam menggempur segala macam kebobrokan. Dia
pahlawan ketika itu di mata teman-temannya. Tetapi, apa lacur, setelah
terpilih menjadi wakil rakyat, idealismenya semakin layu, akhirnya
lumpuh di lingkungan budaya politik yang sudah sangat kumuh. Di depan
mereka yang mengerti kelakuannya, lidahnya terhimpit untuk bertutur,
matanya redup, disandera perilakunya yang penuh borok. Sosok semacam
ini jumlahnya tidak sedikit, di pusat dan di daerah.
Kekayaan tentu sudah terpegang di tangan. Bini
pun jika perlu ditambah demi menyempurnakan gengsi semu yang telah
disandang. Jika berkunjung ke daerah, tentu tidak lupa memberi
sumbangan sebagai tanda kedermawanan sebagai wakil rakyat. Rakyat
daerah yang paham peta nasional merasa geli melihat tingkah orang
penting itu, tetapi mereka yang buta peta tetap mengelukan
kehadirannya, apalagi disertai sumbangan.
Daftar borok ini akan sangat panjang. Saya baru saja diundang oleh
dirut BUMN strategis bersama Bung Faisal Basri dan M Deddy Julianto.
Bukan untuk apa-apa, tetapi dirut yang baru beberapa bulan memegang
posisi penting ini hanya ingin sekadar menjelaskan, ia sedang mewarisi
borok yang sudah menumpuk. Bung Faisal sebagai seorang pakar yang
diakui integritasnya tentu tidak akan tinggal diam. Bukan untuk membela
dirut, tetapi untuk menjelaskan kepada publik bahwa bangsa ini yang di
dalamnya puluhan BUMN telah beroperasi sekian lama, boroknya pun tidak
semakin berkurang.
Maka, kemudian, terserahlah kepada publik untuk menilai secara adil dan
objektif apa yang berlaku sebenarnya dalam kultur kita selama ini. Di
sinilah pers bebas itu berfungsi sangat mustahak. Hidup pers bebas plus
tanggung jawab yang prima. Bangsa ini perlu terus dirawat dan disantuni
agar boroknya semakin menghilang dan baunya akan semerbak wangi
kembali, berkat kepedulian kita semua terhadap milik bersama yang
satu-satunya ini.
Sumber : www.republika.co.id
|