Who's Online

Syndicate

Jul 09 2008
Borok Itu Sudah Terlalu Dalam PDF Cetak E-mail
Wednesday, 09 July 2008

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii MaarifDalam kamus bahasa Indonesia, borok adalah tukak (penyakit kulit) di kaki, bernanah, dan berbau busuk. Dalam Resonansi ini, yang dimaksud adalah borok kultur bangsa, tidak saja menggerayangi kaki, tetapi sudah menggurita ke seluruh tubuh, hati, dan otak sebagian anak bangsa ini.

Baunya minta ampun, telah menyebar ke seluruh muka bumi karena Indonesia adalah bangsa terbesar keempat sesudah Cina, India, dan Amerika Serikat. Tentu saja, yang sehat tidak kurang jumlahnya, tetapi seperti tak berdaya di tengah kultur kumuh yang berlangsung puluhan tahun. Kita mulai dari yang lokal. Baru saja kapolres di sebuah kabupaten memecat dua kapolsek yang berselingkuh dan keduanya sudah punya isteri/suami dan anak. Sudah tiga kali diperingatkan, boroknya malah semakin kambuh.

 

Bagi kapolres, tidak ada pilihan lain, kecuali memecat dua anak buah yang berlain jenis itu. Hidup kapolres! Anda telah bertindak tegas demi citra kepolisian yang sudah sekian lama sarat dengan bermacam masalah. Masih lokal, tetapi pada tingkat provinsi. Pilkada di beberapa provinsi berlangsung ricuh.

Ada tokoh-tokoh tua, pernah jadi menteri, anggota DPR, tetapi masih belum juga merasa jera untuk menceburkan diri dalam permainan panas ini, sekalipun misalnya harus pakai tongkat. Rupanya, ada beberapa dari kita seakan kurang sah sebagai warga negara jika hidup tanpa jabatan dan tanpa pangkat. Alangkah seronoknya jabatan itu rupanya! Anak-anak muda idealis yang sekarang jumlahnya semakin membesar hanya bisa mengelus dada setelah menonton panorama politik yang tidak sedap itu. Mereka kehilangan teladan.

Ini yang lebih luas mendapat sorotan: Kejaksaan Agung. Sudah puluhan tahun sebenarnya aparat penegak hukum yang satu ini penuh borok. Jual beli perkara bukan rahasia lagi, lengkap dengan calo yang berbakat, termasuk perempuan profesional. Di depan perempuan ini, sebagian jaksa seakan menjadi bawahannya, sebagai pesuruh. Ironis, tetapi itulah borok kejaksaan kita. Jaksa Agung Bung Hendarman Supandji (saya kenal pribadi) katanya akan bertindak tegas. Tentunya, kita berharap seperti tegasnya kapolres di atas. Mari kita tunggu tindakan tegas itu, sampai di mana nanti jangkauannya.

Kemudian DPR, pusat dan daerah. Bukan rahasia lagi, wajah-wajah sebagian wakil rakyat ini sudah sangat membosankan. Kabarnya, ada yang dulu sangat idealis semasa masih menjadi mahasiswa. Tidak saja idealis, tetapi sangat berani dalam menggempur segala macam kebobrokan. Dia pahlawan ketika itu di mata teman-temannya. Tetapi, apa lacur, setelah terpilih menjadi wakil rakyat, idealismenya semakin layu, akhirnya lumpuh di lingkungan budaya politik yang sudah sangat kumuh. Di depan mereka yang mengerti kelakuannya, lidahnya terhimpit untuk bertutur, matanya redup, disandera perilakunya yang penuh borok. Sosok semacam ini jumlahnya tidak sedikit, di pusat dan di daerah.

Kekayaan tentu sudah terpegang di tangan. Bini pun jika perlu ditambah demi menyempurnakan gengsi semu yang telah disandang. Jika berkunjung ke daerah, tentu tidak lupa memberi sumbangan sebagai tanda kedermawanan sebagai wakil rakyat. Rakyat daerah yang paham peta nasional merasa geli melihat tingkah orang penting itu, tetapi mereka yang buta peta tetap mengelukan kehadirannya, apalagi disertai sumbangan.

Daftar borok ini akan sangat panjang. Saya baru saja diundang oleh dirut BUMN strategis bersama Bung Faisal Basri dan M Deddy Julianto. Bukan untuk apa-apa, tetapi dirut yang baru beberapa bulan memegang posisi penting ini hanya ingin sekadar menjelaskan, ia sedang mewarisi borok yang sudah menumpuk. Bung Faisal sebagai seorang pakar yang diakui integritasnya tentu tidak akan tinggal diam. Bukan untuk membela dirut, tetapi untuk menjelaskan kepada publik bahwa bangsa ini yang di dalamnya puluhan BUMN telah beroperasi sekian lama, boroknya pun tidak semakin berkurang.

Maka, kemudian, terserahlah kepada publik untuk menilai secara adil dan objektif apa yang berlaku sebenarnya dalam kultur kita selama ini. Di sinilah pers bebas itu berfungsi sangat mustahak. Hidup pers bebas plus tanggung jawab yang prima. Bangsa ini perlu terus dirawat dan disantuni agar boroknya semakin menghilang dan baunya akan semerbak wangi kembali, berkat kepedulian kita semua terhadap milik bersama yang satu-satunya ini.

Sumber : www.republika.co.id

feed3 Comments
Waheb Muthaleb
July 16, 2008
222.124.214.69
Votes: +0

Ayahku, sepertinya dua edisi terakhir resonansi kita sudah terlalu banyak memaparkan borok-borok! Menurut ananda sepertinya perlu diimbangi dengan pengharapan2 sekalipun itu semu, karena memang kita tidak akan tahu. Seperti tulisan diatas yang berjudul "Borok Itu Sudah Terlalu Dalam" sekali-sekali perlulah kita imbangi secara lugas dengan menciptakan antibodi berupa alternatif obat "Obat Itu Tak Bisa Langsung menyembuhkan". Rasanya jangankan borok yang dalam, bahkan borok yang secuilpun akan tetap membuat kita sakit.

report abuse
vote down
vote up
Hendra Sugiantoro
July 27, 2008
222.124.209.215
Votes: +0

Adanya borok yang parah di negeri ini perlu upaya ekstrasuper untuk melenyapkannya. Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada.Wallahu a'lam.

report abuse
vote down
vote up
Hendra Sugiantoro
July 28, 2008
222.124.209.211
Votes: +0

Betapa pun negeri ini dipenuhi borok, kitalah yang bertanggung jawab membersihkan borok itu. Berbuatlah dan tetaplah istiqamah.

report abuse
vote down
vote up

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >