|
Ungkapan dalam judul ini tidak berasal dari
saya, tetapi dari Bung Saini KM, sastrawan dan dramawan, asal Sumedang,
lahir 18 Juni 1938. Sejak beberapa tahun terakhir kami sama-sama
menjadi anggota Akademi Jakarta (AJ). Bung Saini yang santun dan tidak
banyak bicara, tetapi sudah terlatih berpikir dalam, karena itu ia
gelisah mengamati kultur bangsa yang sedang jatuh.
Dalam
sebuah wawancara panjang, Saini sampai kepada kesimpulan bahwa bangsa
ini secara kultural sedang kalah. Berbagai indikator telah
dibentangkannya dalam wawancara itu. Pada saat berbicara tentang tindak
kekerasan yang sedang marak di mana-mana dengan berbagai alasan, Saini
meneropong akar pokoknya karena bangsa ini telah kehilangan rujukan
budaya. Kulturalisasi (pembudayaan) telah ditelan komersialisasi yang
ganas dan dangkal.
Lebih rinci Saini bertutur: "Perilaku keras,
beringas, korupsi, keterpurukan ekonomi yang berkelanjutan adalah
pertanda kekalahan budaya itu. Karakter bangsa dibentuk oleh
kreativitas bangsa itu sendiri. Kreativitas itu akan berkaitan erat
dengan kesejahteraan dan kekenyalan bangsa ketika menghadapi persoalan.
Bangsa yang kreatiflah yang akan bertahan dan kukuh berdiri di tengah
bangsa-bangsa lain."
Saini
berkali-kali mengatakan: "Kita kalah," sebuah rintihan sastrawan yang
mestinya mendapat tanggapan, dari mereka di panggung kekuasaan. Dengan
menyadari secara sungguh-sungguh bahwa kita memang lagi berada di
bawah, siapa tahu kita bisa bangkit kembali dari segala macam
ketidakberesan yang menyesakkan napas. Sebab itu, kata Saini, kita
perlu rujukan budaya tradisi yang bernilai dinamis dan positif yang
memang terdapat pada semua subkultur bangsa ini.
Saini
juga mengkritik perilaku elite yang seenaknya saja menjual aset-aset
bangsa tanpa perhitungan jangka panjang. Memang, telah lama terlihat
elite bangsa ini gemar 'menggadaikan' kedaulatan, demi menutup defisit
anggaran. Orang yang kehilangan rujukan budaya akan dengan enteng saja
menjual segala yang mungkin dijual, tidak mau berpikir panjang; dengan
menempuh cara yang serbapragmatis itu, mereka tidak sadar pada akhirnya
kedaulatan bangsa yang akan terjual. Bukankah dengan demikian kita
telah mengundang sosok penjajah dalam format lain?
Bung
Hatta, dalam usia 26 tahun, dalam pidato pembelaannya di depan mahkamah
Belanda di Den Haag, pada 9 Maret 1928, berkata: Selamat tinggal
politik memohon dan mengemis! Selamat tinggal politik mohon restu!
Selamat tinggal politik menadahkan tangan!
Politik
mengemis dan menadahkan tangan kepada asing adalah bagian dari kultur
budak. Bukankah kutipan Bung Hatta itu terlahir dari pemimpin yang
punya harga diri, sekalipun pada waktu itu Indonesia masih terjajah?
Dengan kebiasaan kita menjual aset strategis kepada pihak asing,
bukankah itu berarti kita telah kehilangan ketegasan sikap membela
kedaulatan bangsa dan negara? Terakhir bergulir pula berita Krakatau
Steel (KS), juga mau dijual ke asing. Tetapi, karena ada perlawanan
dari dalam dan bantuan pers dan tokoh-tokoh masyarakat, kabarnya KS
tidak jadi dijual. Coba banyangkan KS sebagai industri baja strategis
bagi pertahanan negara, lalu dikuasai asing, bukankah dengan cara latah
itu kita telah menggadaikan kedaulatan kita? Mengapa kita dengan mudah
saja 'menadahkan tangan' kepada asing agar mau membeli aset yang
sebenarnya mampu kita kelola sendiri?
Dalam
situasi bangsa yang sedang kehilangan rujukan budaya ini, saya
mengimbau semua komponen bangsa yang masih siuman untuk berteriak lebih
keras dan lantang lagi tetapi santun untuk mengingatkan pihak
pemerintah dan DPR agar berhati-hati membuat keputusan penting.
Salah-salah tingkah, akibat buruknya akan ditanggung oleh anak cucu
kita di kemudian hari. Jangan-jangan yang tersisa buat mereka nanti
hanyalah ampas Republik yang telah sangat merana dan telah kehilangan
segala-galanya. Kritik seorang seniman santun Saini patut benar
direnungkan.
Sumber : www.republika.co.id
|