|
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Bersamaan
dengan semakin redupnya pamor penghasut perang di Amerika Serikat dan
munculnya Obama sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat dengan
dukungan penuh pada akhirnya dari Hillary Clinton, bekas saingannya,
ancaman terorisme global juga telah semakin melemah sejak beberapa
tahun terakhir. Jika kecenderungan positif ini berlanjut, ada harapan
bahwa dunia akan bernapas lega, khususnya terhadap ancaman teror. Untuk
Indonesia, tidak mustahil pula tindak kekerasan dan bahkan terorisme
juga akan semakin kehilangan bumi tempat berpijak. Tragedi Monas 1 Juni
2008 tentu akan semakin menyadarkan masyarakat luas bahwa tindakan
kekerasan harus dilawan dengan penegakan hukum secara tegas, tanpa
pilih kasih, bukan dengan cara kekerasan pula. Indonesia; bangsa Muslim
terbesar di muka bumi, tetapi labil; telah sangat sering menjadi korban
tindak kekerasan. Bahkan, telah menjadi sasaran teror yang berkedok
agama pada tahun-tahun belakangan ini. Kesigapan polisi kita dalam
memburu para teroris adalah prestasi yang patut dipuji. Jika saja Noor
Din M Top bisa ditangkap dalam tempo dekat ini, nama Densus 88 akan
semakin diperhitungkan dunia.
Bermula dari kolom Fareed Zakaria dalam Newsweek,
''The Only Thing We Have to Fear'' (24 Mei 2008) yang mengomentari
hasil riset Universitas Fraser, Vancouver (Kanada), tentang gelombang
terorisme yang semakin meredup pada skala global, saya kemudian
menelusurinya melalui internet untuk mencari sumbernya yang otentik.
Semua yang ditulis Zakaria ternyata mengandung kebenaran. Hasil riset
Universitas Fraser telah membantah seluruh pendapat lembaga-lembaga
yang didanai pemerintah Amerika tentang terorisme yang dikatakan masih
merupakan ancaman serius. Riset Universitas Fraser dinilai punya
akurasi yang tinggi dengan tingkat independensi yang teruji.
Reporter
Sharon Weinberger mengutip temuan Sekolah Kajian Internasional
Universitas Fraser tentang terorisme sebagai berikut. (1) Bencana
terorisme telah menurun sekitar 40 persen, sedangkan jaringan teror
dengan ikatan longgar yang dikaitkan dengan Alqaidah pimpinan Usamah
bin Ladin telah mengalami kemerosotan dramatis karena semakin
mengecilnya dukungan dunia Islam. Terdapat pula perubahan positif luar
biasa, tetapi sebagian besar tak tercatat, pada lanskap keamanan di
kawasan sub-Sahara Afrika. (2) Jumlah konflik akibat perang di kawasan
itu menyusut lebih dari separuh antara 1999 dan 2006; korban
pertempuran telah turun 98 persen. (3) Berkurangnya jumlah konflik
bersenjata secara keseluruhan dan turunnya jumlah kematian akibat
pertempuran di seluruh dunia yang dilaporkan tiga tahun yang lalu dalam
Laporan Keamanan Umat Manusia (Human Security Report) 2005 terus
berlanjut.
Tiga indikator itu menunjukkan bahwa dunia boleh
bersikap optimistis dalam menghadapi masa depan yang lebih aman dan
damai. Semoga saja demikian. Jika Obama benar-benar terpilih jadi
presiden Amerika bulan November 2008 ini, optimisme itu akan semakin
beralasan. Fenomena Obama adalah kejutan sejarah yang sebelumnya tak
terbayangkan. Jiwa besar Hillary yang telah mengimbau para pendukungnya
untuk mengalihkan pilihannya kepada Obama tentu akan semakin
menyulitkan posisi McCain, kandidat Partai Republik, yang masih saja
ingin meneruskan perang di Irak 100 tahun lagi. Ide gila ini semestinya
tidak keluar dari mulut seorang John McCain, yang juga dikenal sebagai
sosok yang punya integritas dibandingkan Bush misalnya.
Dalam
pada itu, Israel sebagai negara teror dengan dukungan Amerika selama
ini harus bersedia mengubah sikap kaku dan degilnya untuk membiarkan
Palestina menjadi negara merdeka penuh dalam tempo yang dekat. Kita
akan sama menyaksikan dengan harap-harap cemas bagaimana Amerika di
bawah Obama tahun 2009 dalam mengambil posisi dan peran penting
strategis untuk turut menyelesaikan konflik Palestina-Israel ini secara
adil dan efektif. Di belahan dunia Islam, kematian sadis Benazir Bhutto
akhir Desember 2007 telah semakin menyadarkan umat bahwa terorisme
dalam segala bentuk (perorangan, kelompok, dan negara) memang tidak
boleh dibiarkan terus mengganas dan bertualang, apa pun alasannya, apa
pun motifnya. Terorisme adalah musuh sejati seluruh peradaban. Dengan
perkembangan ini, Islam sejak beberapa tahun belakangan dikategorikan
sebagai ''agama tertuduh'' pemicu teror, khususnya sejak tahun 2001,
tentu akan semakin ditertawakan warga dunia karena memang mayoritas
umat Islam adalah antikekerasan dan antiterorisme.
Sumber : www.republika.co.id
|