|
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Adalah sahabat saya, pengusaha Maher Algadrie (putra Hamid Algadrie,
seorang pejuang nasional dari Partai Sosialis Sutan Sjahrir), yang
pernah bertutur kepada saya bahwa dari keturunan Arab Yaman ada yang
punya gen radikal dan revolusioner. Saya tidak tahu apakah seorang
Habib Rizieq Shihab, Abu Bakar Ba'asyir, Abdullah Sungkar, Habib
Alhabsyi, dan sederetan yang lain, punya nasab revolusioner dari Yaman
itu. Watak radikal dan revolusioner dengan mudah sekali dapat berubah
menjadi beringas jika lepas kendali dari akal sehat dan kejernihan
sikap.
Tetapi, kita jujur bahwa ideologi radikal
ini tidak hanya dimiliki oleh gen Yaman. Hampir semua suku bangsa di
muka bumi punya gen serupa. Untuk Indonesia, sejak 10 tahun terakhir,
secara kebetulan dipimpin oleh warga Indonesia keturunan Arab dengan
pakaian yang serbakhas Arab. Wawancara saya dengan Sinar Harapan
beberapa hari yang lalu, yang menyebut Arab tidak tertuju kepada
teman-teman Arab yang berbudaya damai, intelektual, santun, dan
menyatu. Dengan pernyataan ini, saya berharap agar riak-riak dan
protes-protes kecil yang langsung disampaikan kepada saya oleh
teman-teman keturunan Arab, semuanya adalah sahabat saya, posisinya
sekarang sudah menjadi terang.
Jika
telah terjadi sedikit salah paham, anggaplah Resonansi ini mengakhiri
kontroversi itu. Tidak ada niat secuil pun untuk melansir rasisme dalam
wawancara itu. Seluruh napas hidup saya mengembuskan formula ini: Lawan
segala bentuk rasisme karena ia adalah daki kelam peradaban. Di samping
antirasisme, saya juga menentang beringanisme dan budaya kekerasan.
Lebih
jauh, saya ingin menjelaskan posisi saya sebagai seorang egalitarian.
Berdasarkan pemahaman saya terhadap ayat 13 surat Alhujurat,
''Sesungguhnya kamu yang termulia di sisi Allah adalah yang paling
takwa.'' Bagi saya, ayat ini adalah deklarasi yang paling fundamental
tentang doktrin persamaan posisi manusia di depan Allah dan sejarah.
Siapa
pun, tidak peduli keturunan siapa, nasab apa, raja, dan rakyat jelata,
punya posisi yang sama untuk merebut dan meraih martabat takwa itu. Di
depan ayat ini; raja, sultan, khalifah, pangeran, amir, para habib (haba'ib), qaba'il, sayyid,
darah biru, darah kuning, darah campuran, dan mereka yang merasa lebih
dari yang lain; tanpa takwa, seluruhnya rontok berguguran dan tidak
punya bobot apa-apa di mata Allah. Pertanyaannya adalah mengapa
sebagian umat Islam masih saja berbangga diri dengan serbanasab dan
keturunan?
Tidak
jarang terjadi; melalui akuan keturunan nabi atau keturunan raja si
anu, hulubalang si anu; telah berlaku perbudakan spiritual di kalangan
sementara umat yang menjadi pengikutnya, pengikut yang telah kehilangan
daya kritikal, kejernihan, dan akal sehat, modal yang teramat dasariah
bagi manusia merdeka. Dalam pemahaman saya terhadap Alquran, hanya
manusia merdeka sajalah yang layak diberi martabat mulia, baik di sini
maupun di sana nanti. Budak, tidak semata-mata mereka yang dirantai
kakinya. Budak juga mereka yang tidak punya keberanian untuk menjadi
menusia merdeka.
Akhirnya, seperti halnya suku-suku lain di muka bumi yang lebih memilih
hidup damai, harmoni, dan rukun, keturunan Arab pun berada dalam
kategori ini, kecuali kelompok-kelompok beringas dan menganut ideologi
kekerasan dalam mencapai tujuan. Dan, ini adalah sebuah penyakit
peradaban (baca: kebiadaban) yang terdapat pada semua suku bangsa yang
telah kehilangan keseimbangan dalam hidup bermasyarakat. Mereka adalah
musuh peradaban yang sebenarnya. Bola sejarah harus digiring ke kutub
peradaban, bukan ke kutub lawannya, jika bumi ini mau dijadikan tempat
tinggal yang damai, sejuk, dan penuh persaudaraan lintas suku, bangsa,
agama, dan latar belakang.
Sumber : www.republika.co.id
|