|
Jakarta- Selasa (3/06/2008) malam, Graha Bhakti Budaya
Taman Ismail Marzuki, Jakarta menjadi tempat penyerahan Maarif Award
kepada Ahmad Tafsir, sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Tengah. Menurut
Ivan A Hadar yang mewakili dewan juri malam itu pemilihan Tafsir salah
satunya karena kiprahnya terlibat intens bersama kelompok-kelompok
marginal seperti waria, korban narkoba dan penderita schizoprenia.
“Muhammadiyah untuk semua, Islam untuk semua” ungkap Tafsir dalam
sambutannya setelah menerima Tropi Maarif Award dari pendiri Ma’arif
Institute Prof. Syafii Maarif.
Lelaki kelahiran Kebumen, 16 januari 1964 tersebut
menyatakan bahwa latar belakang aktifis Muhammadiyahnya tidak membuat
dirinnya terhalang untuk berinteraksi dengan kaum marginal tersebut.
Justru Tafsir berkeyakinan Muhammadiyah seharusnya terbuka dan memberi
manfaat kepada semua golongan.
Dalam
aktifitasnya tersebut, selain Muhammadiyah Tafsir aktif menggalang
solidaritas lintas agama untuk melakukan kerja-kerja sosial
kemanusiaan dalam memerangi kemiskinan, kesempatan memperbaiki
kualitas kesehatan dan pendidikan melalui organisasi Interfaith Forum
Commite (IFC). Dalam aktiftas terakhir ini juga yang mendasari
dipilihnya Tafsir sebagai sosok pemimpin lokal yang dianggap pelopor
proses pendidikan emansipatoris, pengelolaan kemajemukan, toleransi dan
inklusivisme yang menjadi kriteria penerima Maarif Award.
Selain
Tafsir dua penerima Maarif Award yang menerima penghargaan malam itu
adalah Cicilia Yulia Handayani (Blitar, Jawa Timur) dan Tuan Guru Haji
Hasanain Djuaini (Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat). Cicilia adalah
inisiator kelompok pendidikan multikultur bagi anak pedesaan di Blitar
bagian selatan yang menjadi korban stigmatisasi Partai Komunis
Indonesia, sedangkan Hasanain merupakan penggerak masyarakat pesantren
untuk mengonservasi hutan dan air di Lombok Barat.
Sumber : www.muhammadiyah.or.id
|