Resensi Buku AIK

 

Buku panduan guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 

Buku ajar pendidikan Kemuhammadiyahan 

Buku ajar pendidikan Al-islam untuk SMA/SMK 

Jurnal Maarif

Vol 3 Nomor 2 Mei 2008

Thursday, 12 June 2008 | Administrator

article thumbnail Download Jurnal 
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Buya : Kekerasan Sudah Menjadi Mata Pencaharian

 

Program Kerjasama

 

 

Indonesia-UK Interfaith Direktorat Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri RI

 

 

Who's Online

Syndicate

Jun 07 2008
Ahmad Tafsir, Tokoh Muhammadiyah Pembela Kaum Marginal PDF Cetak E-mail
Saturday, 07 June 2008

 

Jakarta- Selasa (3/06/2008) malam, Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta menjadi tempat penyerahan Maarif Award kepada Ahmad Tafsir, sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Tengah. Menurut Ivan A Hadar yang mewakili dewan juri malam itu pemilihan Tafsir salah satunya karena kiprahnya terlibat intens bersama kelompok-kelompok marginal seperti waria, korban narkoba dan penderita schizoprenia. “Muhammadiyah untuk semua, Islam untuk semua” ungkap Tafsir dalam sambutannya setelah menerima Tropi Maarif Award dari pendiri Ma’arif Institute Prof. Syafii Maarif.

Lelaki kelahiran Kebumen, 16 januari 1964 tersebut menyatakan bahwa latar belakang aktifis Muhammadiyahnya tidak membuat dirinnya terhalang untuk berinteraksi dengan kaum marginal tersebut. Justru Tafsir berkeyakinan Muhammadiyah seharusnya terbuka dan memberi manfaat kepada semua golongan.

Dalam aktifitasnya tersebut, selain Muhammadiyah Tafsir aktif menggalang solidaritas lintas agama untuk melakukan kerja-kerja sosial kemanusiaan  dalam memerangi kemiskinan, kesempatan memperbaiki kualitas kesehatan dan pendidikan melalui organisasi Interfaith Forum Commite (IFC). Dalam aktiftas terakhir ini juga yang mendasari dipilihnya Tafsir sebagai sosok pemimpin lokal yang dianggap pelopor proses pendidikan emansipatoris, pengelolaan kemajemukan, toleransi dan inklusivisme yang menjadi kriteria penerima Maarif Award.

Selain Tafsir dua penerima Maarif Award yang menerima penghargaan malam itu adalah  Cicilia Yulia Handayani (Blitar, Jawa Timur) dan Tuan Guru Haji Hasanain Djuaini (Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat). Cicilia adalah inisiator kelompok pendidikan multikultur bagi anak pedesaan di Blitar bagian selatan yang menjadi korban stigmatisasi Partai Komunis Indonesia, sedangkan Hasanain merupakan penggerak masyarakat pesantren untuk mengonservasi hutan dan air di Lombok Barat.

Sumber : www.muhammadiyah.or.id 

 

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
Berikutnya >

Agenda

MAARIF Institute Associate Researchers (MIAR)

Wednesday, 05 March 2008 | Administrator

article thumbnailMAARIF Institute for Culture and Humanity invites you to join "MAARIF Institute Associate Researchers (MIAR)". MAARIF Institute for Culture and Humanity is a non profit, non government...
Selengkapnya

MAARIF AWARD 2008

Wednesday, 05 March 2008 | Administrator

article thumbnailMaarif Institute for culture and Humanity, Lembaga yang didirikan Ahmad Syafii Maarif, mengundang masyarakat luar untuk ikut mengusulkan/menominasikan nama - nama kandidat penerima MAARIF AWARD 2008....
Selengkapnya

Agenda Lainnya