Jurnal Maarif

Vol 3 Nomor 2 Mei 2008

Thursday, 12 June 2008 | Administrator

article thumbnail Download Jurnal 
Selengkapnya

Jurnal Sebelumnya

Buya : Kekerasan Sudah Menjadi Mata Pencaharian

 

Kliping Magsaysay Award 2008

 

Program Kerjasama

 

 

Indonesia-UK Interfaith Direktorat Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri RI

 

 

Who's Online

Syndicate

 

Jun 04 2008
Tak Ada Jaminan RI Utuh PDF Print E-mail
Wednesday, 04 June 2008

Pemimpin Harus Belajar Lagi Semangat Soekarno-Hatta

Penyerahan Maarif Award 2008
Pendiri Maarif Institute, Jeffrie Geovannie (kiri) dan Syafii Maarif (kanan), bersama dengan penerima penghargaan dalam malam penganugerahan Maarif Award 2008 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (3/6). Para penerima penganugerahan, yakni Ahmad Tafsir (kedua dari kiri), Cicilia Yulia Hendayani, dan Hasanain Djuaini, adalah aktivis dan pemimpin lokal yang memelopori dan berkiprah dalam proses perubahan sosial pada tingkat masyarakat akar rumput.
 

Jakarta, Kompas - Persatuan bangsa Indonesia saat ini bukanlah pemberian yang jatuh begitu saja dari langit. Kesatuan bangsa yang plural dan multikultur ini dapat pecah sewaktu-waktu jika para pemimpinnya tidak memiliki pandangan jauh ke depan dan hanya memanfaatkan bangsa untuk kepentingan pribadi.

Hal itu diungkapkan pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif, dalam Malam Penganugerahan Maarif Award 2008 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (3/6) malam. Hanya kepedulian para pemimpin bangsa akan nasib dan tujuan bangsanya yang akan menyelamatkan bangsa hingga akhir zaman.

 

Namun, saat ini yang terjadi justru jauh dari harapan itu. Para pemimpin justru sibuk menjual bangsa untuk keuntungan diri dan abai dengan kondisi bangsa sesungguhnya. Para pemimpin masih bermental budak dan bertindak demi kepentingan bangsa lain. Hati nurani mereka juga telah mati melihat berbagai keterpurukan bangsa.

”Parahnya, pragmatisme konyol yang menggerogoti kedaulatan bangsa ini terus-menerus diulang oleh para pemimpin bangsa,” kata Syafii.

Sikap pemimpin ini tidak terlepas dari kemunculan mereka secara mendadak, tanpa kaderisasi berkualitas, sebagai buah keterbukaan dari proses reformasi. Hal ini dapat diatasi jika para pemimpin bangsa kembali mempelajari dan melaksanakan semangat Soekarno dan Muhammad Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Kehadiran para pemimpin lokal yang mau dan mampu mencerdaskan masyarakat sekitarnya memberikan harapan adanya calon pemimpin bangsa yang peduli serta tumbuh berkembang di tengah masyarakatnya.

Maarif Award

Direktur Eksekutif Maarif Institute Raja Juli Antoni mengatakan, Maarif Award adalah penghargaan yang diberikan kepada aktivis dan pemimpin lokal yang memelopori perubahan sosial di tingkat masyarakat akar rumput. Penerima anugerah ini juga dinilai gigih memperjuangkan pluralisme, toleransi, moderasi, dan keadilan sosial, serta mampu menjembatani perbedaan agama, etnis, dan sosial yang ada.

Tahun ini Maarif Award diberikan kepada tiga pemimpin lokal yang konsisten dengan perjuangannya dan memiliki pemikiran jauh ke depan, yaitu Cicilia Yulia Handayani (Blitar, Jawa Timur), Tuan Guru Haji Hasanain Djuaini (Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat), dan Ahmad Tafsir (Semarang, Jawa Tengah).

Cicilia adalah inisiator kelompok pendidikan multikultur bagi anak pedesaan di Blitar bagian selatan yang menjadi korban stigmatisasi Partai Komunis Indonesia. Hasanain merupakan penggerak masyarakat pesantren untuk mengonservasi hutan dan air di Lombok Barat. Sementara Ahmad Tafsir adalah penggiat perdamaian komunitas dan pemerjuang ide-ide progresif dalam organisasi Muhammadiyah di Semarang.

Para penerima anugerah dinilai mampu merekatkan kembali semangat pluralisme sebagai bagian integral bangsa.

Sumber : www.kompas.com 

 

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Saturday, 07 June 2008 )
 
< Prev   Next >

Agenda

MAARIF Institute Associate Researchers (MIAR)

Wednesday, 05 March 2008 | Administrator

article thumbnailMAARIF Institute for Culture and Humanity invites you to join "MAARIF Institute Associate Researchers (MIAR)". MAARIF Institute for Culture and Humanity is a non profit, non government...
Selengkapnya

MAARIF AWARD 2008

Wednesday, 05 March 2008 | Administrator

article thumbnailMaarif Institute for culture and Humanity, Lembaga yang didirikan Ahmad Syafii Maarif, mengundang masyarakat luar untuk ikut mengusulkan/menominasikan nama - nama kandidat penerima MAARIF AWARD 2008....
Selengkapnya

Agenda Lainnya