|
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Arti
selengkapnya dari surat Yunus ayat 99 ini adalah: "Dan sekiranya
Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua manusia yang ada di muka
bumi. Lantaran itu, patutkah engkau memaksa manusia agar mereka beriman
seluruhnya?" Ayat 100 berikutnya: "Dan tidaklah seseorang akan beriman,
melainkan dengan izin Allah." Artinya, untuk beriman perlu lampu hijau
dari Allah, menurut ayat ini. Tanpa perkenan dari Yang Maha Pemberi
Izin, iman itu tidak akan terjadi. Sebab itu, menurut surat Makkiyyah
ini, setiap paksaan untuk beriman, halus apalagi kasar, sepenuhnya
melanggar ketentuan Allah.
Adapun menyampaikan dakwah agar manusia mau
beriman, jelas merupakan kewajiban agama. Tetapi dalam proses dakwah
itu, unsur paksaan dilarang keras. Sebenarnya jika mau jujur, di antara
metode dakwah yang paling efektif ialah dakwah dengan contoh perbuatan.
Tidak usah jauh-jauh mencari contoh. Di sebuah RT, misalnya, ada dua
keluarga Muslim yang jadi buah bibir masyarakat sekitarnya dalam arti
positif, padahal lingkungannya mayoritas non-Muslim. Orangnya ramah,
sopan, suka memberi siapa saja, tidak terikat dengan agama yang
dipeluknya. Penampilannya tidak dibuat-buat, lumrah, semuanya autentik
sebagai tanda percaya diri yang tinggi. Jika ada kematian di RT itu,
keluarga Muslim itu cepat turun tangan untuk mengulurkan bantuan apa
yang mungkin. Dunia fitnah dijauhinya. Menghukum mereka yang seagama
tetapi tidak sepaham dalam penafsiran, pantangan baginya. Kenisbian
manusia untuk menangkap yang mutlak adalah pegangan utamanya dalam
beragama. Seluruh warga RT itu merasa akan sangat kehilangan jika dua
keluarga Muslim itu pindah ke tempat lain. Di mana-mana akan terdengar
ucapan: "Aduh, mengapa si anu itu pindah dari lingkungan kita, padahal
kita sangat memerlukannya agar tetap bersama kita di sini, sekalipun
kita berlainan agama."
Contoh
yang saya berikan ini bukanlah sesuatu yang asing, semuanya empirik,
dapat dilakukan siapa saja, apa pun agama yang dipeluknya. Jika
kemudian ada yang tertarik untuk mengikuti agama dua keluarga Muslim
itu secara sadar, tanpa ada tanda-tanda paksaan, maka boleh jadi izin
Allah untuk beriman itu memang sedang berlaku. Teladan yang ditunjukkan
dua keluarga Muslim itu semata-mata sarana bagi keluarnya izin itu.
Tidak lebih dari itu.
Saya
punya pengalaman khas tentang hal yang mirip, saat saya kuliah dengan
Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Mahasiswa yang ikut kuliahnya
berasal dari bermacam agama: Katolik, Protestan, Shinto, Yahudi, dan
Muslim. Dengan kepercayaan diri yang sangat kuat, Rahman dalam seluruh
kuliahnya tidak ada bayangan agar mahasiswanya menjadi Muslim. Mungkin
Rahman berpendapat, daripada menambah pengikut, lebih baik jumlah
Muslim sedunia di atas satu miliar itu ditingkatkan kualitasnya.
Tetapi,
apa yang terjadi? Beberapa mahasiswanya yang non-Muslim saya dengar
belakangan telah menjadi Muslim atau Muslimah, sesuatu yang tidak
diniatkan Rahman sewaktu memberi kuliah. Metode perkuliahan yang
mendalam, objektif, tanpa basa-basi, rupanya telah bersarang secara
diam-diam dalam otak dan hati para mahasiswanya. Maka, terjadilah apa
yang terjadi. Izin Allah rupanya berlaku melalui cara-cara yang tak
disengaja itu. Tentu saja ruh Rahman di alam baka tersenyum menyaksikan
apa yang terjadi pada sejumlah mantan mahasiswanya, sebagian adalah
teman-teman sekelas saya. Sebab itu, Anda janganlah terlalu bernafsu
untuk 'menaklukkan' dunia agar beriman seperti Anda. Biarlah proses itu
berjalan secara wajar. Bukankah kualitas itu jauh lebih penting dari
kuantitas, jika kuantitas itu tidak lebih dari beban sejarah?
Dua
contoh, RT dan Rahman, mungkin dapat dijadikan bahan renungan: satu
untuk akar rumput, yang lain untuk tingkat yang lebih tinggi. Tetapi
ingat, Rahman pernah dihalalkan darahnya di Pakistan, tanah airnya,
oleh mereka yang wawasan keagamaan dan kemanusiaannya hanyalah sebatas
tuturan atapnya, atau paling jauh sebatas halaman rumahnya. Kata
pepatah: "Jika kail panjang sejengkal, janganlah laut hendak diduga!"
Mari kita sama-sama belajar dari sumber yang beragam untuk saling
bertukar pendapat dengan cara yang santun, jujur, dan mendalam. Musuh
terbesar kita adalah kedangkalan dan sifat memonopoli kebenaran.
Sumber : www.republika.co.id
|