Ada dua pertanyaan
yang perlu dijawab: (1) apa yang dimaksud dengan kebangkitan nasional;
(2) kapan kebangkitan itu dimulai disertai dengan parameter dan fakta
sejarah yang digunakan. Kebangkitan nasional harus diartikan sebagai
kebangkitan Indonesia sebagai bangsa, bukan kebangkitan suku-suku
bangsa.
Sebelum lanjut, saya harus menegaskan bahwa kelahiran
Budi Utomo (BU) pada 20 Mei 1908 adalah sebuah terobosan
kultural-intelektual yang sangat penting bagi sebuah suku yang
kebetulan berjumlah mayoritas dibandingkan dengan suku-suku lain, yaitu
suku Jawa, yang sekarang meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Jasa tokoh-tokoh seperti Dr Wahidin Soedirohoesodo dan Dr Soetomo
dengan gagasan pencerahannya bagi suku Jawa (saat itu disebut bangsa
Jawa), tentu punya makna tersendiri.
Kemudian, para priayi
Jawa yang mendominasi struktur pengurus pertama, sedangkan Dr Wahidin
hanya sebagai wakil ketua mendampingi ketua pertamanya, Raden
Tumenggung Aria Tirtokoesoemo, bupati Karanganyar, menunjukkan bahwa BU
memang punya filosofi alon-alon nanging klakon.
Di
tangan para priayi yang menjabat sebagai bupati, jaksa, dokter, mantan
letnan pada legiun Pakualam Jogjakarta, tentu orang tidak boleh
berharap bahwa organisasi ini akan mengkritik tatanan kolonial, betapa
pun menghisapnya.
Dalam Anggaran Dasar BU, ditetapkan di
Yogyakarta 9 Oktober 1908, pasal dua berbunyi: "Tujuan organisasi untuk
menggalang kerja sama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura
secara harmonis." Tetapi, juga harus dikatakan bahwa sebelum tahun
1920-an, memang tidak ada organisasi manapun di nusantara yang sudah
menggagas tentang kemungkinan munculnya sebuah bangsa yang kemudian
bernama Indonesia yang tegas dengan watak nasionalnya. Apalagi pada
abad ke-19, sosok bangsa Indonesia dalam mimpi pun tidak terbayang.
Dalam perspektif ini, mengangkat tokoh seperti Imam Bonjol, Diponegoro,
Hasanuddin, Pattimura, dan sederetan nama lain sebagai Pahlawan
Nasional sama sekali tidak punya pijakan historis yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Jika mau ditetapkan juga sebagai
pahlawan, mungkin bisa diusulkan sebagai pahlawan nusantara. Demikian
juga BU yang belum berpikir tentang Indonesia tentu perlu dikaji ulang,
apakah pantas ditetapkan sebagai awal kebangkitan nasional atau kita
cari dasar yang lebih kokoh, kebangkitan Perhimpunan Indonesia (PI) di
negeri Belanda 1922, misalnya, atau malah Sumpah Pemuda, 28 Oktober
1928.
Mengapa saya berpikir ke arah ini? Alasannya sederhana
saja: ketetapan politik untuk sebuah peristiwa penting tanpa dasar
sejarah yang solid, posisinya tentu tidak lebih dari mitologi, rapuh
sekali. Kata seorang penyair: "Sebuah sarang di atas dahan yang rapuh,
tidak akan tahan lama". Apakah Indonesia pada permulaan abad ke-21 ini
masih juga harus berkubang dalam mitologi, sementara kita untuk
menentukan hari Kebangkitan Nasional memiliki data sejarah yang sangat
kuat?
Saya lebih cenderung pada Sumpah Pemuda 1928, itulah
sebabnya judul Resonansi ini dianyam seperti formula di atas. Dengan
kata lain, 100 Tahun Kebangkitan Nasional baru tepat diperingati pada
28 Oktober 2028, masih 20 tahun lagi. Tetapi, akan sangat bijak jika
pemerintah dan masyarakat kita sekarang mau membetulkan keputusan
politik tahun 1948 (atas usul Ki Hadjar Dewantara, info dari Dr Anhar
Gonggong) yang menetapkan kelahiran BU, 20 Mei 1908, sebagai tonggak
kebangkitan nasional.
Bahwa BU telah berjasa dengan caranya
sendiri, tak seorang pun yang dapat menyangkal. Begitu juga gerakan
pemuda kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong
Batak, Jong Sumateranen Bond, dan Jong Islamieten Bond dalam
kapasitasnya masing-masing tentu telah pula berjasa dalam upaya
penyadaran dan pencerahan kelompok masing-masing dalam suasana kolonial
yang masih mencekam.
Dengan Sumpah Pemuda, semua gerakan
kedaerahan ini, sekalipun dengan susah payah, akhirnya meleburkan diri
dan bersepakat untuk mendeklarasikan trilogi pernyataan yang
tegas-tegas menyebut tumpah darah/tanah, bangsa, dan bahasa Indonesia.
Sumpah ini didukung oleh berbagai anak suku bangsa dan golongan. Jadi,
cukup repsesentatif bagi awal kelahiran dan kebangkitan sebuah bangsa:
Indonesia! Mari kita tinggalkan mitos, jadikan fakta keras sejarah
sebagai tonggak sebuah kebangkitan.
Sumber : www.republika.co.id