|
Tindakan kekerasan, brutalitas, bahkan
peperangan atas nama agama bukan barang baru dalam sejarah peradaban
(kebiadaban) manusia. Pelaku tindakan ini merasa paling beriman di muka
bumi. Karena menganggap diri sebagai makhluk agung di antara manusia,
mereka mengangkat dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan.
Karena itu, mereka berhak memonopoli
kebenaran. Seakan-akan mereka telah menjadi wakil Tuhan yang sah untuk
mengatur dunia ini berdasarkan tafsiran monolitik mereka terhadap teks
suci. Perkara pihak lain akan mati, terancam, binasa, dan babak belur
akibat perbuatan anarkis mereka, sama sekali tidak menjadi
pertimbangan. Inilah jenis manusia yang punya hobi "membuat kebinasaan
di muka bumi", tetapi merasa telah berbuat baik.
Seorang
Presiden, George W. Bush, penganut Kristen puritan fundamentalis telah
memakai agama untuk menghancurkan bangsa lain yang tak berdaya dengan
seribu dalih. Perkembangan terakhir menunjukkan semakin banyak tentara
Amerika yang bunuh diri karena diimpit suasana putus asa: perang di
Afghanistan dan Irak tidak kunjung usai. Mereka memilih mati berkalang
tanah daripada hidup becermin mayat. Itu belum lagi yang menjadi gila,
rusak ingatan akibat perang yang dipaksakan. Bush dan para pendukungnya
yang haus darah tidak hirau dengan semuanya ini.
Sementara
itu, di kalangan segelintir Muslim, termasuk di Indonesia yang berkoar
anti-Barat, atas nama agama telah membencanai tempat-tempat ibadah,
perkantoran, bahkan rumah-rumah mereka yang berbeda agama atau mereka
yang dianggap sesat dengan menggunakan fatwa MUI. Para pengrusak ini
dari sudut pandang sistem nilai tidak banyak berbeda dengan Bush yang
secara lahiriah ditentang oleh mereka. Di sinilah ironi itu berlaku.
Dalam retorika politik, mereka seperti bermusuhan. Tetapi, dalam
kelakuan, mereka bersahabat. Bedanya, Bush merusak dalam skala besar
dengan persenjataan modern, sedangkan mereka dalam skala kecil, seperti
dengan memakai pentungan, golok, linggis, dan lain-lain. Sementara itu,
aparat seperti tidak mampu menghalangi mereka.
Dengan
mengatakan demikian, anda jangan salah paham bila dikaitkan dengan
paham Ahmadiyah yang jadi berita besar sekarang ini. Secara teologis,
saya menolak 200 persen pendapat yang mengatakan bahwa ada nabi
pasca-Muhammad, sekalipun katanya tidak membawa syariat. Jika memang
begitu, mengapa harus dihadirkan nabi baru? Di sinilah saya gagal
memahami kehadiran aliran Ahmadiyah. Mengapa tidak kembali saja kepada
ajaran Islam semula. Adapun jika Ghulam Ahmad dipercayai sebagai
pembaru, mungkin masalahnya tidak menjadi ruwet, sekalipun sebagian
besar umat Islam tidak mengakuinya.
Sepanjang
sejarah Islam selama sekian abad, umat yang percaya kepada kemunculan
pembaru bukan barang baru, tetapi hanya sebagian tokoh yang
memercayainya. Dengan pernyataan ini, posisi saya tentang Ahmadiyah
sudah sangat gamblang. Memang dalam beberapa hadis dikatakan tentang
akan turunnya nabi Isa sebelum kiamat. Dan katanya, Ghulam Ahmadlah
orangnya.
Saya
sungguh berharap agar hadis-hadis serupa ini diteliti kembali, sebab
implikasinya sangat dahsyat. Maksud saya, jika Isa masih harus turun
kembali, berarti misi Muhammad gagal. Saya tidak percaya bahwa nabi Isa
masih hidup, karena dia adalah manusia biasa yang atas dirinya berlaku
sepenuhnya hukum alam: lahir, dewasa, tua, dan mati. Tetapi, Alquran
membantah bahwa kematian nabi Isa karena disalib. Masalah ini biarlah
tidak diperdebatkan panjang-panjang, sebab saudara-saudara Kristen kita
memercayai bahwa Isa mati di kayu salib. Kita tidak perlu memasuki
teologi mereka.
Kembali
kepada masalah kekerasan atas nama agama. Saya akan membela sepenuhnya
posisi Ahmadiyah jika mereka dizalimi, hak milik mereka dirampok, dan
keluarga mereka diusir. Ini perbuatan biadab karena pengikut Ahmadiyah
itu punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain menurut
konstitusi Indonesia. Jika mereka dizalimi, aparat dan kita semua wajib
melindungi mereka. Bahkan, seorang warga negara Indonesia penganut
ateisme, tetapi patuh kepada UUD, tidak ada hak kita untuk membinasakan
mereka. Kita bisa bergaul dengan mereka dalam masalah-masalah
keduniaan. Mereka juga punya hak hidup dengan ateismenya.
Di sinilah pentingnya kita memahami secara jujur diktum Alquran dalam
Albaqarah ayat 256, "Tidak ada paksaan dalam agama." Jika Tuhan tidak
mau memaksa hambanya untuk memeluk atau tidak memeluk agama, mengapa
kita manusia mau main paksa atas nama Tuhan? Sikap semacam inilah yang
bikin kacau masyarakat. Oleh karena itu, Alquran jangan dibawa-bawa
untuk menindas orang lain. Kekerasan atas nama agama adalah
pengkhianatan yang nyata terhadap hakikat agama itu sendiri.
Sumber : www.republika.co.id
|