Who's Online

Syndicate

 

Apr 28 2008
Kendala Biaya Tak Boleh Halangi Investigasi Kasus Korupsi PDF Cetak E-mail
Monday, 28 April 2008

Yogyakarta, Kompas - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Maarif mengingatkan, wartawan memiliki tugas mengungkapkan kebenaran, termasuk dalam kasus korupsi. Kendala biaya dan waktu tak boleh menghalangi media massa untuk ikut mengungkapkan kasus korupsi, melalui laporan investigasinya.

Syafi’i Maarif menegaskan hal itu, Sabtu (26/4) di kantor Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengakui, untuk melakukan investigasi kasus korupsi memang diperlukan biaya besar.

”Koran daerah yang menggaji wartawannya masih kecil, bagaimana mau membuat investigasi kasus korupsi?” kata Syafi’i Maarif. Namun, keterbatasan itu tak boleh menyurutkan wartawan untuk menuliskan kebenaran, termasuk dalam kasus korupsi.

”Korupsi lebih berbahaya dari terorisme. Wartawan punya tugas besar mengungkapkannya kepada masyarakat,” katanya.

Ketua KPID DIY Rahmat Arifin menambahkan, tekanan terhadap wartawan untuk menulis kasus korupsi kini datang juga dari pemilik media. Wartawan dibungkam untuk membongkar kasus korupsi oleh medianya sendiri jika terjalin relasi kekuasaan antara pemilik media dan pihak yang diinvestigasi.

”Wartawan selama ini menjadi orang lapis terendah dalam struktur media,” tutur Rahmat, yang juga Ketua Perhimpunan Jurnalis Indonesia DIY. Karena itu, dukungan pengungkapan korupsi harus dimulai dari pemilik media. Dukungan itu harus diberikan agar kebenaran yang selama ini ditutupi dapat diungkapkan kepada masyarakat.

Selama ini, Rahmat menilai belum banyak wartawan harian menulis investigasi korupsi. ”Ini dimaklumi sebab waktunya tidak cukup dan harus kejar setoran,” ujarnya. Namun, wartawan di daerah juga minim menuliskan kasus korupsi. Padahal, korupsi kini terjadi di daerah pula.

Sumber : www.kompas.com 

 

feed1 Comments
suwardi
May 17, 2008
219.83.3.55
Votes: +0

Bagaimana dengan di diknas ?
Bukankah di diknas ada oknum ter-
tentu di lt. 2 Gedung A Depdiknas
yang tugasnya meraup 80% pengadaan
di depdiknas ? Apakah tuan-tuan
tidak tahu atau pura2 tdk tahu ?
Konon tokoh reformasi juga punya
andil yang besar!

report abuse
vote down
vote up

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >