Who's Online

Saat ini ada 2 tamu online

Syndicate

 

Apr 16 2008
Galtung : Tiga Corak Fundamentalisme PDF Cetak E-mail
Wednesday, 16 April 2008

Ahmad Syafii Maarif Siapa yang tidak kenal Profesor Johan Galtung; sosiolog, pemikir, aktifis, dan aktifis perrdamaian kelahiran 24 oktober 1930 di Oslo, Norwegia. Karya karyanya telah jadi rujukan dunia pada saat orang berbicara tentang perdamaian, konflik, perang dan cara-cara mengatasinya. Kritiknya terhadap penghasut perang terasa pedas sekali, tidak peduli siapa pun yang melakukan . Pada usia 12 tahun, galtung pernah ditahan Nazi. Maka, mulailah ia mengerti betapa jahat dan kejamnya peperangan.

Galtung adalah pengagum Mahatma Gandhi, tokoh anti-kekerasan India yang legendaries. Pada tahun 1970-an, Galtung pernah meramalkan keruntuhan Uni Soviet, yang kemudian menjadi kenyataan. Inperium Amerika sekarang ini juga diperkirakan tidak akan bertahan lama, karena politik luar negerrinya yang ekspansif dan cuek terhadap hukum internasional, sedan gkan di dalam negeri, demokrasi dan hak-hak asasi manusia seperti dihormati.

Pada 14 September 2002 di Koln, di depan 25.000 pendukung gerakan perdamaian Jerman, setahun pasca tragedy 11 September 2001, Galtung berseru: “Moderates all over the world, unite!’ (Kaum moderat sedunia, bersatulah!)”. DI forum inilah Galtung berbicara tentang tiga corak fundamentalisme yang telah menjadikan penduduk bumi sebagai tawanannya.

Berbeda dari kebanyakan pers barat yang membidikkan tombak fundamentalisme yang mengerikan itu lebih banyak kepada orang Islam pasca-tragedi Septembe, galtung meneropong bahwa ada tiga kekuatan fundamentali yang berasal dasri kultur berbeda tapi filosofinya serupa: pertama, faksi Wahabi Osama bin Laden; kedua, faksi puritan Protestan yang semula berasal dai Inggris, kemudian menyebar ke Amerika Serikat; ketiga, ini jarang did engar tapi tidak kurang kejamnya: fundamentalisme pasa.

Menurut Galtung, fundamentalisme corak pertama adalah yang bertanggungjawab terhadap perbuatan criminal di belakang tragedy September. Baik faksi Wahabi maupun faksi Protestan sama-sama merasa dirinya sebagai manusia pilihan Tuhan. Keduanya berfikir sebagai orang yang mendiami Tanah yang Dijanjikan yang suci. Keduanya sama-sama menganut doktrin:”…he who is not with me is against me” (orang yang tidak ikut saya adalah musuh saya). Keduanya memandang enteng kematian orang lain. Keduanya begitu mirip, sehingga George bin laden dan Osama Bush dapat bertukar percakapan. Keduanya merasa bahagia dengan membunuh ribuan manusia.

Anda bisa membayanghkan, pada saat nama George W. Bush sedang melambung tinggi pasca-tragedi September, Galtung telah”menobatkannya” sejajar dengan Osama, dengan daya bunuh lebih dahsyat. Sungguh tidak banyak penduduk bumi yang punya reputasi internasional tapi bersuara lantang membongkar kebiadaban, kezaliman, dan kejahatan terhadap kemanusiaan seperti  Galtung.

Saya rasa, umat manusia berutang budi pada sosok manusia dengan integritas pribadi yang prima dan konsisten ini . Jika ia menyerang praktek biadab, di saat yang sama ditunjukkan bagaimana hidup secara beradab, di saat yang sama ditunjukkan bagaimana hidup secara beradab itu. Tidak sebaliknya, pada saat sementara orang berbicara tentang kasih sayang, perbuatannya malah mengobarkan budaya kebencian dan kekerasan. Ketika sementara pihak berbicara tentang demokrasi dan hak-hak asasi manusia, bangsa-bangsa lain dijadikan mangsa untuk dibinaskan dengan cara-cara brutal.

Galtung bertutur: “Dunia sarat dengan masalah, yang satu lebih besar dai yang lain. Masalah itu punya satu nama. Nama itu adalah satu nama, geofasis,di dalamnya ada sedikit demokrasi, di luar fasis. Mereka berfikir berada di atas hukum, langsung di bawah Tuhan, sehingga tidak ada ruang bagi PBB, hukum internasional, dan hak-hak asasi manusia.”Galtung pun membidik Israel yang juga dikuasai kaum fundamentalis, resolusi-resolisu PBB ditentang secara sistematis.

Corak ketiga adalah fundamentalisme pasar. Kata Galtung : “Siapa pun yang tidak percaya kepada pasar yang “tak terkekang” (unfettered) tapi punya gagasan dan cita-cita ekonomi yang lain harus diperlakukan sebagai penghianat. Dan mereka memandang hidup orang demikian ringannya, seperti 100.000 kematian saban harri, terutama karena pasar tidak dapat memenuhi keperluan pokok mereka untuk makanan dan kesehatan, seperempat di antaranya semata-mata karena lapar.”

Pungkasannya, kita ulangi seruan Galtung: “Kaum moderat sedunia, bersatulah !” Saya iringi: “Semua corak fundamentalisme adalah musuh sejati kemanusiaan, sekaligus musuh bebuyutuan akal sehat!”.

 

feed1 Comments
Waheb Muthaleb
August 03, 2008
125.164.202.252
Votes: +0

Waduh Bosku Ayahanda Buya Syafi'i Galtung kayaknya lupa memetakan kekuatan sendiri!! smilies/grin.gif

Barangkali kaum moderat sulit sekali bersatu karena belum menemukan bentuk idealnya, termasuk didalamnya ideologi yang ingin dianut dan tentunya yang berdaya dobrak. Jujur selama ini gereget kaum moderat belum begitu terasa meskipun gambaran mengenai common enemy-nya sudah ada, saya setuju kaum moderat bersatu tetapi dalam bentuk yang tidak maya untuk kemudian merancang entah akan menggunakan strategi supit udang-nya panglima Besar Jenderal Sudirman atau yang lain itu tidak menjadi persoalan.

report abuse
vote down
vote up

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 13 May 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >