Dalam the New Guinness Book Record 1996, Benazir dinobatkan sebagai ''The world most popular politician''
(politikus paling populer dunia). Kepopulerannya melebihi ayahnya.
Benazir adalah seorang pembicara yang memukau. Bandingannya untuk Asia
Tenggara adalah Anwar Ibrahim, kader dan kemudian menjadi musuh
Mahathir.
Kelemahan PPP terletak pada kenyataan bahwa partai
ini seperti milik keluarga. Dari Zulfikar Ali Bhutto ke Benazir Bhutto,
dan sekarang kepada Bilawal yang masih berusia 19 tahun dan lebih
banyak menetap di luar negeri. Yang agak di luar perkiraan saya adalah
bahwa Benazir ternyata turut memikirkan masa depan dunia Islam secara
serius.
Beberapa penghargaan dari berbagai lembaga dunia
bergengsi telah dipasangkan di pundaknya, termasuk beberapa doctor HC.
Sebagai figur yang berasal dari keluarga elite Karachi, tidak sulit
bagi Benazir untuk belajar di Universitas Harvard dan Oxford, sekalipun
tidak sampai ke tingkat PhD.
Benazir adalah perdana menteri
perempuan pertama di dunia Islam era modern, sekalipun mayoritas ulama
Pakistan masih mengharamkan kepemimpinan perempuan. Siapa pembunuh
perempuan yang sebenarnya berbakat ini, belum ada kesimpulan final.
Tetapi, sebagai bagian dari filosofi politik kaum fundamentalis yang
memandang enteng kematian orang lain dan kematian diri sendiri, tidak
mustahil bahwa yang menyudahi nyawa Benazir adalah dari kelompok ini,
sebutlah neo-Khawarij, di era kita.
Sebenarnya, kepulangan
Benazir ke Pakistan Oktober 2007 adalah atas dorongan Gedung Putih agar
mau berunding dengan Presiden Pervez Musharraf, tangan kanan Amerika
dalam upaya memerangi terorisme. Saya tidak tahu mengapa Amerika
berinisiatif untuk itu, tetapi jelas untuk kepentingan politik global
negara adikuasa ini. Belum ada kesepakatan apa-apa dengan Musharraf,
Benazir telah bersimbah darah, sebuah fakta yang sebenarnya tidak asing
dalam perpolitikan Pakistan. Selama Benazir menjabat perdana menteri
dalam dua periode, tantangan yang dihadapinya sungguh dahsyat.
Pakistan, sekalipun punya bom nuklir, dikenal sebagai sebuah bangsa
yang terpecah secara politik dan rentan secara etnik. Itulah sebabnya
dalam Resonansi beberapa bulan yang lalu, saya katakan bahwa
Islam di sana belum dijadikan acuan utama dalam cara berbangsa dan
bernegara, sebagaimana juga terlihat di seluruh negeri Muslim.
Terlepas dari itu semua, Benazir adalah seorang penulis prolifik. Karya barunya, Islam, Democracy, and the West,
New York: HarperCollins, 2008, terbit setelah penulisnya wafat. Saya
belum baca buku ini, tetapi baru mengikutinya dari resensi Fareed
Zakaria dalam harian The New York Times, 6 April 2008. Inilah catatan Fareed:
Ditulis
saat ia sedang bersiap-siap untuk kembali ke kehidupan politik. Ini
adalah sebuah buku tentang kecerdasan yang hebat, keberanian, dan
kejernihan. Ia mengandung tulisan terbaik dan interpretasi modern yang
sangat persuasif tentang Islam yang telah saya baca. Tentu saja, bagian
yang membuat buku ini dihormati adalah identitas pengarangnya.
Tentang
situasi kontemporer dunia Islam yang ringkih ini, Benazir menulis:
''Lebih mudah menyalahkan pihak lain daripada kita sendiri yang
menerima tanggung jawab. Satu miliar umat Islam di seluruh dunia tampak
bersatu dalam kemarahan mereka terhadap perang di Irak, tetapi ada
suasana diam yang mematikan manakala dihadapkan kepada kekerasan Muslim
terhadap Muslim. Bahkan mengenai Darfur, di mana berlaku pemusnahan
terhadap sebuah populasi Muslim, justru tidak ada protes yang menarik
perhatian.''
Kritiknya terhadap Amerika terutama karena negara
inilah yang bertanggung jawab bagi munculnya kediktatoran di Pakistan
sambil menghancurkan demokrasi di sana. Padahal menurut Benazir, sistem
demokrasilah yang bisa menyelamatkan Pakistan dari keadaan yang penuh
bahaya. Sebagai anak Timur dan Barat, Fareed menyimpulkan tentang
Benazir: ''She is imbued with rationalism, tolerance, and progressivism'' (Ia diilhami oleh rasionalisme, toleransi, dan progresivisme).
Akhirnya,
di mata seorang fundamentalis, Benazir adalah sekuler dan pro-Barat.
Oleh sebab itu, darahnya menjadi halal. Bagi saya, dengan segala
kelemahan dan kekurangannya, kemunculan Benazir dan PPP di panggung
politik Pakistan adalah bukti bahwa fatwa ulama mengenai haramnya
kepemimpinan perempuan telah semakin kehilangan otoritas. Oleh sebab
itu, perlu diadakan kajian mendalam tentang masalah gender ini, agar
perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai konco wingking. Dunia telah berubah!