|
Adalah Joseph E Stiglitz (kelahiran Gary, Indiana, 1943) bersama Linda J Bilmes dalam buku terbarunya, The Three Trillion Dollar War
(London: Allen Lane, Maret 2008) yang telah menghitung secara
rinci-statistik, biaya yang harus dikeluarkan Amerika untuk Perang
Irak. Buku ini saya peroleh melalui kebaikan Dr Rizal Sukma yang
menghadiahi saya buku-buku terbitan mutakhir.
Saya sudah sejak dini menamakan petualangan
Amerika ini sebagai perang neoimperialisme terhadap bangsa lain, kali
ini Afghanistan dan Irak, dua negeri yang tak berdaya. Dengan begitu,
pelakunya jelas adalah penjahat perang yang telah melanggar Piagam PBB
dan hukum internasional. Semua tuduhan terhadap Saddam Hussein yang
menyimpan senjata pemusnah massal dan mempunyai kaitan dengan Alqaidah
adalah palsu belaka. Kini Irak sudah babak belur, sementara tentara
Amerika telah ribuan pula yang mati, invalid, gila, dan senewen. Mereka
yang mengikuti perkembangan terakhir di Irak sangat paham dengan apa
yang saya tulis ini. Tetapi, berapa biaya yang telah dan akan menguras
pundi-pundi Amerika, maka buku Stiglitz di atas membeberkannya dalam
analisis berdasarkan angka-angka. Stiglitz, di samping penulis-penulis
lain, seperti Noam Chomsky, telah sejak awal menentang keras invasi
terhadap Irak. Tetapi, Bush dan lingkaran neokons Amerika menutup mata
dan menulikan telinga terhadap segala kritik rakyatnya sendiri.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur, penderitaan dan eksodus rakyat Irak
jangan ditanya lagi. Di bawah Saddam mereka menderita, sekarang mereka
menderita berlipat ganda. Sebuah negeri yang dulunya punya peradaban
tinggi telah dua kali sepanjang sejarahnya harus mengalami pukulan
sejarah yang teramat kejam dan berat: pertama, pada 1258 kota Baghdad
diluluhlantakkan pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan; kedua, perang
neoimperialisme yang sudah memasuki tahun keenam sampai detik ini.
Stiglitz
mencatat bahwa biaya perang dan rentetan akibatnya yang harus dipikul
Amerika, belum Inggris, Itali, dan lain-lain, tidak kurang dari tiga
triliun dolar, sebuah angka yang teramat dahsyat dan tidak diperkirakan
semula akan setinggi itu. Dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas
bagi dunia, menurut Stiglitz, akan menelan biaya dua kali lipat: enam
triliun dolar. Bahkan, sampai tahun 2017, pengeluaran pemerintah
federal Amerika akan bergerak antara 3,5 triliun dolar AS dan 4,5
triliun dolar AS. Coba konversikan ke rupiah, alangkah ngerinya! Satu
triliun sama dengan 1.000 miliar; satu dolar Amerika sama dengan Rp
9.200. Dengan uang sebesar ini, jika dipakai untuk menghalau
kemiskinan, tentu seluruh benua Afrika akan tertolong, sekalipun
sebagiannya pasti dikorup pula oleh penguasa lokalnya.
Dalam Los Angeles Times
(16 Maret), Bilmes dan Stiglitz menulis: "Akhir 2008, pemerintah
federal sudah akan mengeluarkan lebih dari 800 miliar dolar AS untuk
biaya operasi tempur di Irak dan Afghanistan. Sampai detik ini, sudah
lebih dari 1,6 juta tentara [Amerika] yang dikerahkan, juga telah
mengganti perangkat keras militer yang sedang digunakan dan yang telah
lusuh di Irak, dan sejumlah besar uang untuk pembayaran bunga atas
pinjaman luar negeri, untuk membiayai perang."
Kini sudah ada
sekitar satu triliun dolar utang luar negeri Amerika pada Arab, Cina,
dan negara lainnya. Kata Stiglitz, sebagai negara kaya, bagi Amerika
tidak ada masalah dengan utang luar negeri, sebab pasti bisa dibayar.
Yang menjadi pertanyaan Stiglitz adalah: "Apa yang telah dapat kita
perbuat dengan satu, dua, atau tiga triliun dolar itu? Apa yang harus
kita korbankan? Apakah, untuk menggunakan jargon para ekonom, biaya
oportunitasnya?" Pemerintah Bush, menurut buku ini, telah memberikan
jawaban yang tidak dikemas dengan baik dan tidak realistis. Perkiraan
Gedung Putih semula biaya invasi itu hanyalah sekitar 50 miliar sampai
60 miliar dolar AS dan tidak akan menahun begini. Berbeda dengan ekonom
yang lain, Stiglitz, pemenang Hadial Nobel ekonomi tahun 2002, kata
orang, telah lama meninggalkan menara gadingnya karena langsung terjun
ke lapangan untuk memberi pencerahan kepada penguasa dan pendukungnya
agar tidak terus bertualang dalam kebiadaban.
Akhirnya, saya
berharap agar kelompok-kelompok garis keras mau juga membaca buku ini,
karena memang sangat kaya untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam
bersikap. Janganlah orang memusuhi semua rakyat Amerika, apalagi
membunuhnya. Jika saja yang terbunuh itu seorang Stiglitz yang senang
juga tinggal di Bali, misalnya, dunia kemanusiaan tidak saja rugi,
tetapi pasti akan meratapinya. Stiglitz telah melawan dengan argumen
statistik hegemoni Pemerintah Amerika yang dikuasai kaum neokons selama
hampir satu dasawarsa.
|