Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Apr 08 2008
Stiglitz Tentang Biaya Perang Irak PDF Print E-mail
Tuesday, 08 April 2008

Image Adalah Joseph E Stiglitz (kelahiran Gary, Indiana, 1943) bersama Linda J Bilmes dalam buku terbarunya, The Three Trillion Dollar War (London: Allen Lane, Maret 2008) yang telah menghitung secara rinci-statistik, biaya yang harus dikeluarkan Amerika untuk Perang Irak. Buku ini saya peroleh melalui kebaikan Dr Rizal Sukma yang menghadiahi saya buku-buku terbitan mutakhir.

Saya sudah sejak dini menamakan petualangan Amerika ini sebagai perang neoimperialisme terhadap bangsa lain, kali ini Afghanistan dan Irak, dua negeri yang tak berdaya. Dengan begitu, pelakunya jelas adalah penjahat perang yang telah melanggar Piagam PBB dan hukum internasional. Semua tuduhan terhadap Saddam Hussein yang menyimpan senjata pemusnah massal dan mempunyai kaitan dengan Alqaidah adalah palsu belaka. Kini Irak sudah babak belur, sementara tentara Amerika telah ribuan pula yang mati, invalid, gila, dan senewen. Mereka yang mengikuti perkembangan terakhir di Irak sangat paham dengan apa yang saya tulis ini. Tetapi, berapa biaya yang telah dan akan menguras pundi-pundi Amerika, maka buku Stiglitz di atas membeberkannya dalam analisis berdasarkan angka-angka. Stiglitz, di samping penulis-penulis lain, seperti Noam Chomsky, telah sejak awal menentang keras invasi terhadap Irak. Tetapi, Bush dan lingkaran neokons Amerika menutup mata dan menulikan telinga terhadap segala kritik rakyatnya sendiri. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, penderitaan dan eksodus rakyat Irak jangan ditanya lagi. Di bawah Saddam mereka menderita, sekarang mereka menderita berlipat ganda. Sebuah negeri yang dulunya punya peradaban tinggi telah dua kali sepanjang sejarahnya harus mengalami pukulan sejarah yang teramat kejam dan berat: pertama, pada 1258 kota Baghdad diluluhlantakkan pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan; kedua, perang neoimperialisme yang sudah memasuki tahun keenam sampai detik ini.

Stiglitz mencatat bahwa biaya perang dan rentetan akibatnya yang harus dipikul Amerika, belum Inggris, Itali, dan lain-lain, tidak kurang dari tiga triliun dolar, sebuah angka yang teramat dahsyat dan tidak diperkirakan semula akan setinggi itu. Dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi dunia, menurut Stiglitz, akan menelan biaya dua kali lipat: enam triliun dolar. Bahkan, sampai tahun 2017, pengeluaran pemerintah federal Amerika akan bergerak antara 3,5 triliun dolar AS dan 4,5 triliun dolar AS. Coba konversikan ke rupiah, alangkah ngerinya! Satu triliun sama dengan 1.000 miliar; satu dolar Amerika sama dengan Rp 9.200. Dengan uang sebesar ini, jika dipakai untuk menghalau kemiskinan, tentu seluruh benua Afrika akan tertolong, sekalipun sebagiannya pasti dikorup pula oleh penguasa lokalnya.

Dalam Los Angeles Times (16 Maret), Bilmes dan Stiglitz menulis: "Akhir 2008, pemerintah federal sudah akan mengeluarkan lebih dari 800 miliar dolar AS untuk biaya operasi tempur di Irak dan Afghanistan. Sampai detik ini, sudah lebih dari 1,6 juta tentara [Amerika] yang dikerahkan, juga telah mengganti perangkat keras militer yang sedang digunakan dan yang telah lusuh di Irak, dan sejumlah besar uang untuk pembayaran bunga atas pinjaman luar negeri, untuk membiayai perang."

Kini sudah ada sekitar satu triliun dolar utang luar negeri Amerika pada Arab, Cina, dan negara lainnya. Kata Stiglitz, sebagai negara kaya, bagi Amerika tidak ada masalah dengan utang luar negeri, sebab pasti bisa dibayar. Yang menjadi pertanyaan Stiglitz adalah: "Apa yang telah dapat kita perbuat dengan satu, dua, atau tiga triliun dolar itu? Apa yang harus kita korbankan? Apakah, untuk menggunakan jargon para ekonom, biaya oportunitasnya?" Pemerintah Bush, menurut buku ini, telah memberikan jawaban yang tidak dikemas dengan baik dan tidak realistis. Perkiraan Gedung Putih semula biaya invasi itu hanyalah sekitar 50 miliar sampai 60 miliar dolar AS dan tidak akan menahun begini. Berbeda dengan ekonom yang lain, Stiglitz, pemenang Hadial Nobel ekonomi tahun 2002, kata orang, telah lama meninggalkan menara gadingnya karena langsung terjun ke lapangan untuk memberi pencerahan kepada penguasa dan pendukungnya agar tidak terus bertualang dalam kebiadaban.

Akhirnya, saya berharap agar kelompok-kelompok garis keras mau juga membaca buku ini, karena memang sangat kaya untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam bersikap. Janganlah orang memusuhi semua rakyat Amerika, apalagi membunuhnya. Jika saja yang terbunuh itu seorang Stiglitz yang senang juga tinggal di Bali, misalnya, dunia kemanusiaan tidak saja rugi, tetapi pasti akan meratapinya. Stiglitz telah melawan dengan argumen statistik hegemoni Pemerintah Amerika yang dikuasai kaum neokons selama hampir satu dasawarsa.

 

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
 
< Prev   Next >

MyFourWalls MAC
Autodesk Maya 2011 MAC
3D Flag MAC
Nero Multimedia Suite 10
Lynda Dreamweaver CS5 Essential Training
Joboshare DVD to Zune Converter
ZOC MAC
Adobe Photoshop Lightroom 3
Nuance PDF Converter Enterprise 6
Adobe Creative Suite 5 Design Premium Student and Teacher Edition
Sony Vegas Movie Studio HD 9
Adobe Fireworks CS5 Student and Teacher Edition
Adobe Illustrator CS4
Adobe Photoshop CS4 Extended MAC