Tambahan perkataan Djambek untuk syekh ini
adalah karena ia senang memanjangkan janggut dan kumis sampai di usia
lanjutnya, ketika seluruh jambangnya telah memutih. Perjalanan hidup
tokoh ini penuh rona dan drama, dan jika difilmkan akan memancarkan
sinyal pendidikan dan kearifan yang memukau.
Sosok syekh besar
ini perlu ditampilkan lagi sekarang, saat pihak keluarga, para murid,
dan simpatisannya sedang berupaya merenovasi surau/pesantren yang
dibangunnya sekitar seabad yang lalu agar berfungsi kembali secara
efektif. Sebuah panitia yang diketuai cucunya, Sudirman Suwin SE, awal
Februari 2008, mengadakan berbagai kegiatan, seperti seminar 100 tahun
Syekh Djambek, bedah buku, dan tabligh akbar.
Semuanya ini
bertujuan, di samping menghimpun dana untuk renovasi, juga yang
terpenting untuk menggali kembali semangat pembaruan dan perjuangan
syekh yang cukup fenomenal. Seluruh kegiatan dipusatkan di surau syekh,
Kampung Tengah Sawah, Pasar Bawah, Bukittinggi.
Mengapa tokoh
ini patut dikenang? Jauh sebelum tampil sebagai alim besar yang
disegani, Muhammad Djamil adalah seorang petualang liar yang
menyebabkan ayahnya, seorang alim, hampir putus asa. Saat berusia
20-an, Djamil adalah seorang 'parewa' dengan segala tabiat buruk yang
melekat pada dirinya. Dia ahli sihir, pemabuk, dan bahkan suka mencuri.
Petualangan
ini dilakukannya selama 10 tahun, kemudian karena terselamat dari
gebukan orang kampung sewaktu akan mencuri, ia kemudian insaf; ia
bersembunyi di dalam kolom yang ditutupi rumput air yang di Minangkabau
disebut banto. Dari kolam tempat menyelamatkan diri inilah
kesadaran itu muncul pada diri Djamil, semakin lama semakin kental dan
kuat untuk kembali ke jalan yang benar: beragama secara
sungguh-sungguh. Bukankah ini sebuah drama yang sarat dengan sinyal
moral?
Ringkas cerita, setelah ayahnya yakin betul anaknya sudah
taubat, tahun 1894, saat usia Djamil telah menginjak 34 tahun, dibawa
ke Makkah untuk berhaji dan mencari ilmu. Djamil belajar di kota itu
selama sembilan tahun sampai ia sudah menguasai ilmu-ilmu seperti yang
tersebut di atas dengan membawa semangat juang yang mendidih untuk
membebaskan kaumnya dari segala bentuk kemusyrikan, takhayul, bid'ah,
dan khurafat, yang menjadi panorama umum di seluruh ranah Minang di
awal abad ke-20. Revolusi Padri seperti tidak berbekas lagi di kalangan
rakyat banyak. Ajaran tarekat yang mematikan akal pikiran begitu kuat
di kalangan umat Islam.
Djamil yang sebelum belajar di Makkah
juga telah mendalami ajaran tarekat Naqsyabandi. Kita sedikit tahu
tentang siapa Djambek ini setelah membaca sebuah skripsi mahasiswa UIN
Syarif Hidayatullh tahun 1970. Karya tulis ini masih sangat perlu
dikerjakan tentang tokoh ini untuk masa-masa yang akan datang, sesuatu
yang tidak mudah, karena langkanya sumber yang ditinggalkannya. Tidak
seperti Hamka yang lebih dari 100 mewariskan karya tulis untuk
dipelajari bangsa ini.
Selama di Makkah, otak dan hati Djamil
dicuci, antara lain, oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangbawi, seorang
perantau Minang yang menjadi salah seorang imam di Masjidil Haram, yang
pernah juga menjadi guru H Agus Salim, yang sebelumnya nyaris saja akan
menjadi seorang ateis. Dengan bekal ilmu agama inilah kemudian Syekh
Muhammad Djamil Djambek bersama dengan Syekh Abdul Karim Amrullah, Dr
Abdullah Ahmad, dan masih ada yang lain, mengadakan revolusi pemikiran
yang sempat menghebohkan ranah Minang. Di ujung perjalanan mereka
berhasil.
Tak berbeda dengan gerakan pembaruan di seluruh Dunia
Islam, mula-mula dimusuhi, dicaci-maki, bahkan dikafirkan, tetapi
karena berangkat dari keyakinan yang mendalam, akhirnya secara
diam-diam diikuti. Dan, seluruh karier Djambek sampai wafatnya tahun
1947 membuktikan semuanya ini. Minangkabau telah tercerahkan. Maka,
mengingat jasanya yang luar biasa itu Syekh Djamil Djambek telah
dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama pada 7 Agustus
1995, oleh Presiden Soeharto, tiga tahun sebelum meletakkan jabatannya
sebagai presiden RI kedua.
Akhirnya, saya berharap agar upaya
menghidupkan kembali Djambek dalam semua dimensinya dilakukan dengan
sungguh-sungguh, tidak kepalang tanggung. Djambek adalah sebuah mutiara
yang teramat mahal untuk dijadikan cermin. Kita semua akan sangat rugi,
jika mutiara ini tetap saja dibiarkan terbenam dalam kultur amnesia
kolektif yang tengah menghinggapi bangsa ini sejak beberapa dasawarsa
terakhir. Djambek adalah cermin untuk kita semua.