Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Sep 25 2007
Suparmin Korban Gempa 27 Mei 2006 PDF Print E-mail
Tuesday, 25 September 2007

Korban gempa 27 Mei di kawasan DIY dan Jateng ribuan banyaknya, Kabupaten Bantul adalah yang terparah, di samping korban yang juga menimpa Kabupaten Gunung Kidul. Seorang di antaranya bernama Suparmin, pria cacat, kelahiran Kedungpoh Lor, Gunung Kidul, 31 Desember 1973. Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis tentang pria ini di sebuah mingguan terkenal di ibu kota, tetapi tidak ada kaitannya dengan gempa. Kegigihannya untuk tidak mengamen adalah fenomenal. Imannya mengajarkan bahwa cacat fisik bukan alasan untuk menyerah kalah bagi kelangsungan hidupnya. Sebelum berkeluarga, ia biasa menginap di berbagai masjid di lingkungan kota yang ia datangi. 

Suparmin sudah cacat fisik sejak lahir. Tanpa tongkat yang menopang tubuhnya yang tak sempurna untuk mengais rezeki, ia tak mungkin bergerak ke manapun, sampai-sampai dulunya ke Jawa Timur. Sekarang lebih banyak berputar di kawasan DIY, karena sudah punya tanggungan satu istri dan dua anak yang tidak patut ditinggal bermalam-malam. Saban hari Parmin meninggalkan rumahnya dengan tongkat dan tas kecil tempat batu asah pisau dan asah gunting. Sorenya kembali. Ke manapun ia bergerak, suara ini pasti terdengar: asah pisau asah gunting.

Sekiranya rumahnya tidak rata dengan tanah, sebenarnya Parmin sudah bisa bernapas lega berkat profesi yang ditandanginya dengan tegar dan penuh tawakkal. Yang saya 'iri' adalah ketahanan fisik dan mentalnya yang luar biasa dalam berkelana dengan menjalankan puasa Daud, puasa ganti hari. Dalam hati saya berkata, dari sisi spiritual, manusia tipe Parmin boleh jadi lebih berhak masuk surga ketimbang orang seperti saya yang tidak pernah melakukan puasa Daud itu. Puasa Senin-Kamis pun tidak disiplin, padahal di batang usia masuk 73 tahun, Allah masih memberi saya kesehatan lahir-batin.

Anda bisa membayangkan, Parmin jika berjalan sama sekali tidak normal. Sekarang ia kembali berlawa-lata untuk kepentingan hidup keluarga dan rumah yang sudah hancur. Entah berapa tahun lagi, rumah yang satu-satunya tempat berteduh dapat dibangunnya. Saya tanyakan kepadanya, apakah bantuan dari pemerintah belum diterima. Jawabnya polos: bantuan itu malah dilalap kepala desa dan aparatnya yang kini meringkuk dalam penjara, sebuah panorama yang sama sekali tidak sedap ditonton. Maka, Parmin dengan tingkat kepasrahannya yang luar biasa tinggi mulai memungut rezeki dari hari ke hari ditemani tongkat dan tas yang sudah kumal.

Karena sudah terbiasa dengan puasa Daud, dalam bulan Ramadhan 1428 ini tidak ada hambatan baginya untuk berkelana. Kami sudah saling kenal sejak lama berkat profesinya itu. Sekiranya bukan karena sangat terdesak, pantang baginya minta pertolongan. Sekarang ia menitipkan sebuah permohonan pada saya untuk diupayakan bantuan untuk membangun kembali rumahnya yang hancur dari siapa pun yang berkenan. Alamatnya: Kedungpoh Lor, Kedungpoh, Nglipar, Gunung Kidul, Yogyakarta 55852. Itulah Parmin, sahabat kita semua.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Adobe Creative Suite 5 Web Premium
Adobe Premiere Elements 9
Jutoh MAC
Autodesk AutoCAD Inventor Routed Systems Suite 2011
Bigasoft iPhone Video Converter
Personal Finances MAC
Autodesk AutoCAD Map 3D 2010 32 & 64 Bit
Cadent wineCellar MAC
Adobe Fireworks CS4
Undercover MAC
Adobe Dreamweaver CS4 for Mac
Red Giant Key Correct MAC