Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra

Login Forum

Oct 02 2007
Myanmar: Dari Junta ke Junta Militer PDF Print E-mail
Tuesday, 02 October 2007

Kita tidak tahu pasti bagaimana ujungnya nanti gerakan damai para bhiksu (pongyis) bersama mahasiswa plus rakyat yang sedang berhadapan dengan rezim junta militer yang anti kebebasan. Diawali oleh Jenderal Ne Win (1911-2002) sejak 1962, negeri dengan penduduk sekitar 42 juta itu dulu pernah jadi lumbung padi, tetapi kini telah jatuh miskin di bawah genggaman junta militer sampai detik ini. 

Disulut kenaikan BBM bulan September 2007, para demonstran sebenarnya sudah lama muak pada politik junta yang kejam dan bengis terhadap rakyatnya sendiri. Myanmar yang kaya dengan sumber-sumber alam, karena salah urus telah masuk dalam kategori terbelakang sejak 1980-an. Junta militer hanya mabuk dan sibuk mengurus dan mempertahankan kekuasaannya, rakyat dibiarkan telantar dan terasing dari pergaulan dunia selama sekian puluh tahun.

Pemberontakan telah berulang kali pecah, tetapi masih bisa ditindas dengan peluru dan bayonet. Kini kutub perlawanan itu terpusat pada diri seorang perempuan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 1991, Daw Aung San Suu Kyi (1945--), putri pejuang kemerdekaan Aung San yang dibunuh oleh lawan politiknya pada 1947, setahun sebelum Myanmar (dulu Burma) meraih kemerdekaannya dari penjajah Inggris yang berlangsung sejak 1826 itu. Darah pejuang ini ternyata mengalir deras dalam diri Suu Kyi yang mendapat ilham untuk gerakannya dari filosofi non-violent Mahatma Ghandi yang legendaris itu.

Dalam bacaan saya, kaum junta ini tidak menghargai sosok negarawan yang pernah lahir dari rahim bumi Myanmar, seperi U Nu (1907-1995) dan U Thant (1909-1974). Keduanya bukan saja dikenal di negerinya, tetapi telah diabadikan sebagai tokoh dunia dari Asia Tenggara.

U Nu adalah perdana menteri pertama negeri itu sampai dikudeta Jenderal Ne Win (1911-2002) tahun 1962. Karena gesekan tajam dengan junta, U Nu dipaksa hidup dalam pengasingan di luar negeri selama 18 tahun, 1962-1980. Tahun 1988 setelah delapan tahun berada kembali di Myanmar dalam usia 81 tahun masih tampil juga melawan junta bersama dengan kekuatan prodemokrasi lainnya, termasuk Suu Kyi. Risikonya U Nu di usia rentanya dikenakan tahanan rumah, 1988-1992, kemudian wafat karena sakit tahun 1995. Inilah perjalanan hidup seorang negarawan pengganti Aung San memimpin AFPFL (Anti-Fascist People's Freedom), gerakan rakyat anti pendudukan Jepang pada 1947.

Ironisnya adalah baik U Nu, Ne Win, dan U Thant sama-sama alumni Universitas Yangon yang didirikan Inggris tahun 1920 dan juga sama-sama pendukung Aung San dalam gerakan perjuangan kemerdekaan, sesuatu yang sering terjadi di manapun di muka bumi dengan berbagai variasinya.

Bukankah pula Soekarno dan Hatta pernah bersimpang jalan dalam perpolitikan Indonesia sehingga negeri kita hampir pecah dibuatnya? U Thant, mantan guru, telah mencuat jadi tokoh dunia dengan menggantikan posisi sekjen PBB, Dag Hammorskjold, yang wafat tahun 1961. Selama 10 tahun U Thant memimpin badan dunia ini sampai 1971. Di bawah U Thant PBB dikagumi orang karena integritas dan diplomasi sekjennya yang cerdik tetapi lembut. U Thant wafat di New York pada 22 November 1974 dalam usia jauh lebih pendek ketimbang U Nu. Bila dilihat dalam perspektif pembangunan demokrasi yang sehat dan kuat, junta militer Myanmar telah tercabut sepenuhnya dari kultur kenegarawanan U Nu dan U Thant. Ini adalah sebuah kecelakaan sejarah yang menimpa negeri berbilang suku itu.

Kini di bawah rezim tangan besi Jenderal Than Shwe (1992--sekarang) Myanmar sedang dihadapkan pada pilihan: meneruskan junta dengan tetap miskin dan dikucilkan dunia atau kembali kepada demokrasi dengan memberikan kekuasaan kepada Suu Kyi dengan partai Liga Nasional Untuk Demokrasi. Partai ini pernah memenangkan pemilu dengan 80 persen kursi di parlemen tahun 1990, pada saat junta memberi peluang untuk itu, sementara partai dukungan junta hanya mendapatkan dua persen. Angka ini sudah dengan gamblang mengatakan: hai junta yang mati rasa, serahkan kekuasaan kepada rakyat, ingat U Nu, ingat U Thant, dua negarawan yang pernah mencuatkan nama Myanmar di forum internasional. Memang sejarah sering bergerak secara zigzag ketimbang linear, bukan?

Ralat
1. Dalam Resonansi 25 September 2007 tentang Suparmin tertulis; rumahnya yang hancur kena gempa terletak di Nglipar, Gunung Kidul. Yang benar terletak di Bantul. Parmin sekarang mengungsi ke rumah orang tuanya yang juga kena gempa tapi bisa direnovasi. Rumah di Bantul tidak akan dibangun lagi karena, katanya, penuh trauma.


2. Pernyataan adanya Lurah Desa Kedungpoh dan aparatnya masuk penjara tidak benar. Yang benar adalah Lurah itu sudah mengundurkan diri karena didemo masyarakat. Keterangan ini saya peroleh langsung dari Dukuh Kedungpoh Pak Subandi yang saya datangi tanggal 30 September 2007).

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >