|
Harian Republika, 5 November, di halaman muka dan 11, memuat berita tentang kematian Paul Tibbets, kolonel AU Amerika, pilot pengebom Hiroshima dengan pesawat B-29, pada 6 Agustus 1945 dengan bom uranium bernama Little Boy. Tibbets yang meninggal dalam usia 92 tahun tidak pernah merasa menyesal atas perbuatannya di akhir PD (Perang Dunia) II itu. Yang paling bertanggung jawab atas ledakan bom itu tidak lain Presiden Harry S. Truman dan menteri luar negerinya, James F. Byrnes, dari Partai Demokrat.
Tiga hari kemudian pesawat B-29 Bock's Car dipiloti Charles Sweeney menjatuhkan bom plutonium atas Kota Nagasaki, sasaran yang tidak direncanakan. Sasaran pertama adalah Kota Kokura, penyimpanan persenjataan Jepang, tetapi karena ditutupi kabut, Nagasaki yang dihancurkan. Baik Hiroshima maupun Nagasaki bukanlah sasaran militer penting. Jadi, tindakan ini sangat biadab. Tapi, petualangan militeristik Jepang juga jangan diulang. Korban manusia di kedua kota naas itu sekitar seratus ribu sampai 110 ribu.
PD II adalah perang terdahsyat sepanjang sejarah manusia dengan korban di seluruh dunia sekitar 50 juta sampai 60 juta sipil dan militer. Bayangkan betapa besarnya jumlah manusia yang jadi mayat, belum lagi yang cedera. Biaya perang lebih dari satu triliun dolar. Sangat ngeri, bukan? Tetapi, itulah nafsu ingin kuasa manusia yang dimulai diktator Jerman, Adolf Hitler, yang merasa terhina oleh isi perjanjian Versailles 1919 pasca-PD I.
Ternyata kemerdekaan dibangun di atas puluhan juta tengkorak manusia, seperti angka di atas menunjukkan. Tentu tidak secara langsung, tetapi tanpa PD II, kemerdekaan itu akan terlambat datangnya. Keikutsertaan Jepang dalam paksi Hitler dengan agenda menguasai Asia berujung dengan kekalahan total Jerman-Jepang dan sekutunya dengan cara yang sangat hina.
Bagi Jerman, ini yang kedua kali. Belum rampung perang, Hitler sudah putus asa, bunuh diri, dengan peluru atau minum racun, pada 30 April 1945. Kekasihnya, Eva Braun, sejak 1936 baru dikawininya tengah malam 28-29 April, juga minum racun. Sebuah petualangan telah selesai dengan kekalahan Jerman setelah Eropa diobrak-abriknya sejak 1939.
Di Timur, Kaisar Hirohito juga menyerah kepada pihak sekutu 15 Agustus 1945. Kaisar ini sebenarnya tidak begitu suka perang, tetapi kecenderungan militeristik tentara Jepang menyebabkan Hirohito tidak berdaya, sekalipun berujung pula dengan kehinaan. Indonesia cepat menyatakan kemerdekaannya, hanya dua hari setelah kapitulasi Jepang. Vietnam baru 2 September 1945 mengumumkan kemerdekaan, tetapi tidak berjalan lancar. Vietnam lebih menderita, Prancis tetap saja ingin meneruskan penjajahan. Setelah dihalau tahun 1954, Amerika Serikat (AS) datang menggantikan. Baru tahun 1975 AS terusir oleh kekuatan Ho Chi Minh yang perkasa. Jangan ditanya berapa ratus ribu rakyat yang terbunuh.
Aljazair di Afrika Utara juga berperang menghalau penjajahan Prancis selama bertahun-tahun. Baru merdeka 1962 di bawah pimpinan Ahmed Ben Bella, seorang pejuang tangguh. Setelah merdeka, dia ditangkap tahun 1965 via kudeta oleh Kolonel Boumedinne, bekas bawahannya. Setelah Boumedinne wafat pada 1978, pembatasan terhadap Ben Bella diperlonggar, sekalipun tetap dipasung dalam tahanan rumah. Pada 30 Oktober 1980, Bella dibebaskan, tetapi harus meninggalkan Aljazair, baru kembali pada 1990.
Inilah nasib para pejuang melawan asing, tetapi kemudian harus pula bentrok dengan sesama anak bangsa dengan meninggalkan luka yang dalam. Dibandingkan dengan dua bangsa di atas, Indonesia jauh beruntung, hanya empat tahun terlibat revolusi mempertahankan kemerdekaan. Tetapi dilihat dari sisi nasib pemimpin, Ho Chi Minh tetap menjadi pahlawan sampai meninggal, sementara Bung Karno dan Ben Bella harus menderita di ujung hayatnya. PD II telah membuka jalan lebar bagi bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk memperoleh kemerdekaan, dengan senjata, diplomasi, atau gabungan keduanya. Namun, tragedi domestik tetap saja berlaku.
Dibandingkan dengan Vietnam yang sedang membangun fundamental ekonominya dengan kecepatan tinggi, Indonesia dan Aljazair, dua bangsa Muslim, masih sibuk dengan persoalan domestiknya yang berketiak ular. 'Ala kulli hal, kita bersyukur karena tidak lagi dijajah secara politik dan militer oleh pihak asing, tetapi penjajahan ekonomi dan kultural mungkin tidak kurang dahsyatnya. Mampukah kita bertahan? Akan sangat tergantung kualitas kepemimpinan masing-masing negara yang merdeka pasca-PD II. Sebuah negara selamanya memerlukan kepemimpinan yang kuat tetapi visioner.
|