Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Dec 04 2007
Godaan Perdagangan dan Hiburan PDF Print E-mail
Tuesday, 04 December 2007

Sudah agak lama otak saya ''terganggu'' oleh pernyataan Alquran dalam surat Aljum'ah ayat 11 yang artinya: ''Dan apabila mereka melihat perdagangan dan permainan/hiburan, mereka segera berkerumun ke sana dan meninggalkan engkau berdiri [sendirian di atas mimbar]. Katakan, apa yang ada di sisi Allah lebih baik dari permainan dan perdagangan itu. Dan Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik.'' 

Dari kitab-kitab tafsir, kita diberi tahu bahwa ketika Nabi sedang menyampaikan khutbah Jumat di Madinah, sebagian jamaah yang tidak lain dari para sahabat itu, malah bergegas keluar meninggalkan nabi saat berdiri di atas mimbar untuk mengerumuni kafilah dagang yang baru datang dari Suriah dengan aneka barang dagangannya yang menggoda.

Ada informasi dari hadis Jabir yang menyebutkan bahwa jumlah jamaah yang masih setia mendengarkan khutbah Nabi hari itu tinggal 12 orang, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Jabir. Sebagian besar yang lain berlari mengejar barang dagangan dan hiburan yang berada di luar masjid, dan mereka tega meninggalkan nabi akhir zaman itu sendirian berdiri di mimbar. Peristiwa inilah yang menjadi sebab turunnya ayat 11 itu di awal periode Madinah.

Barang dagangan dan hiburan memang sangat menawan perhatian manusia pada umumnya, tidak terkecuali sebagian sahabat Nabi, sebagaimana ayat di atas menegaskan, dari masa silam sampai hari ini, dan seterusnya.

Pedagang atau saudagar adalah kekuatan pendorong dan penggerak dinamika kehidupan ekonomi masyarakat manapun di muka bumi. Kita tidak bisa membayangkan sebuah masyarakat yang sepi dari kegiatan perdagangan. Nabi kita pun pada mulanya adalah seorang pedagang yang berhasil dan dipercaya oleh saudagar kaya Khadijah, yang kemudian menjadi istrinya yang setia selama kurang lebih 27 tahun, sampai ummul mu'minin itu wafat sebelum Nabi hijrah ke Madinah tahun 622/tahun ke-13 kenabian.

Alquran adalah kitab suci yang turun di tengah-tengah gemerincingnya suara timbangan para saudagar Kota Makkah, juga tidak terkecuali Madinah, sebagai pusat-pusat perdagangan penting ketika itu. Wahyu ini turun tidak di tengah-tengah kesunyian padang pasir atau di pedesaan Badwi yang jauh dari suasana kegiatan komersial dan transaksi dagang yang hiruk-pikuk.

Tetapi, perlu dicatat bahwa saudagar Makkah ketika itu adalah para kapitalis yang tidak hirau karena tunakepekaan terhadap nasib mayoritas penduduk miskin yang tertindas. Alquran dalam banyak ayat, terutama surat-surat Makkiyah, menggambarkan ketimpangan sosial-ekonomi yang parah ini. Dan, untuk mengubah situasi buruk dan busuk itulah di antara tugas Nabi yang terpenting, sehingga keadilan dirasakan oleh seluruh sektor masyarakat, tanpa kecuali, beriman atau tidak beriman.

Alquran adalah wahyu yang sudah sejak dini berurusan dengan lingkungan kota dengan segala permasalahannya, termasuk masalah hiburan dan perdagangan yang dapat menyebabkan orang lupa daratan dan lupa lautan. Sebagian sahabat tidak kebal terhadap godaan duniawi itu, sehingga Allah menegur mereka secara persuasif dengan ayat di atas: ''Apa-apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dari permainan dan perdagangan.'' Implisit dalam ayat tersembunyi pertanyaan: Mengapa kamu tega meninggalkan Nabi berdiri di mimbar saat berkhutbah, sedangkan kamu telah menjadi kader beliau yang sarat dengan idealisme selama ini?

Yang saya tidak habis pikir adalah: Seorang nabi yang lagi berkhutbah dilecehkan begitu saja oleh sementara sahabatnya, demi dagang dan hiburan. Tetapi, kita harus dengan jujur mengatakan bahwa dunia bisnis memang sangat memikat. Tidak jarang orang akan berani menghadang bahaya, demi dagang. Yang diingatkan agama adalah agar kita jangan larut di sana, sehingga lupa pada tujuan dan makna hidup yang hakiki: Mencari ridha Allah!

Jika kejadian di atas dibandingkan dengan keadaan jamaah Jumat di Indonesia, kita tentu akan sedikit terhibur, kualitas keislaman kita tidaklah terlalu rendah. Sebagai ilustrasi, seorang Hamka, misalnya, sedang memberikan khutbah Jumat di Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, sementara di sekitar masjid para saudagar juga menawarkan aneka barang dagangannya yang murah meriah, dapat dipastikan bahwa tidak akan ada jamaah yang lari ke luar untuk berebut dagangan itu sampai shalat Jumat usai. Bukankah dari sisi pandangan ini, jamaah kita lebih berdisiplin? Memang pernah saya dengar seorang jamaah Jumat di sebuah masjid di Solo hengkang ke luar saat khatib berkhutbah terlalu panjang dan bertele-tele. Jadi, bukan karena mengejar barang dagangan dan hiburan. Allahu a'lam!

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Apple iLife 09
Autodesk Revit Structure 2010 32 & 64 Bit
MacFamilyTree MAC
Roxio Toast 10 Titanium Pro for Mac
Alive PDF Merger
Adobe Creative Suite 4 Design Premium MAC
Autodesk Entertainment Creation Suite Premium 2012
Paragon Partition Manager 10 Professional
Autodesk Navisworks Review 2010 32 & 64 Bit
Autodesk Design Suite Standard 2012
Autodesk AutoCAD Inventor Suite 2010 32 & 64 bit
Acronis Disk Director 11 Home