|
Dalam kamus Bahasa Indonesia atau Kamus Dewan Bahasa Malaysia, perkataan resah hampir sama saja artinya dengan perkataan risau, gelisah, dan cemas, dan mungkin juga perkataan gundah dapat pula dimasukkan dalam kategori yang sama. Saya memilih perkataan resah, karena terasa lebih tajam, dalam dan menyentuh. Walhi resah karena membayangkan nasib masa depan Pulau Jawa yang semakin terancam karena pola pembangunan yang sama sekali tidak menghiraukan lingkungan.
Jauh sebelum peringatan keras Walhi tentang nasib Jawa dengan judul ''Pulau Jawa Terancam Punah'' (lih.Republika 28 Des.2006 hlm.22), Prof. Soemitro Djojohadikusumo pernah pula mengatakan Pulau Jawa akan menjadi padang pasir, jika kecenderungan pembangunan tetap saja tidak hirau dengan lingkungan yang semakin rusak. Pragmatisme egoistiklah sebenarnya yang telah membuahkan malapetaka beruntun, tidak saja dipulau yang sudah sesak ini, tetapi juga di tanah sabrang, kondisinya setali tiga uang. Berapa rakyat yang sudah mati karena banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya, pada dasarnya berhulu dari filosofi pragmatisme yang jauh dari kearifan itu. Jika peringatan Walhi ini tidak juga dihiraukan, lalu siapa yang akan disumpahi oleh generasi yang akan datang yang tinggal mewarisi kebobrokan bapak-bapaknya yang berpikiran serba pendek destruktif?
Mari kita ikuti lebih rinci data bencana terbaru di Pulau Jawa yang disampaikan Ketua Walhi Jakarta, Slamet Daroyni. ''Tahun 2004 jumlah hutan di Pulau Jawa hanya tersisa 2.926.949 hektare dengan 21,51 persen atau 629.705 hektare berada dalam kondisi kritis karena rusak berat...tidak heran jika Pulau Jawa terus menerus dilanda bencana...banjir bandang awal tahun 2006 yang melanda kawasan Jember, Banjarnegara dan Purworejo merupakan bukti ketidakmampuan alam dalam menanggung beban. ''Jawa yang luasnya hanya 6,9 persen dari seluruh daratan Indonesia, tetapi dihuni oleh sekitar 60 persen penduduk negeri ini, tampaknya memang sedang memasuki tahap SOS (save our soul/selamatkan jiwa kami).
Pertanyaannya adalah: masihkah ada telinga yang mau mendengar jeritan ini? Wakil rakyat? Jauh panggang dari api. Energi bangsa terlalu banyak terkuras oleh berita perselingkuhan dan tambah bini, sementara lingkungan sekitar semakin memburuk dan membusuk. Mengapa sebagian elite bangsa ini terus saja mengalami mati rasa dari hari ke hari?
Di sekitar tempat tinggal kami saja, di kelurahan Nogotirto, Yogyakarta, tanah persawahan sudah semakin habis dijual penduduk untuk lokasi perumahan, gudang, pabrik, warung dan lain-lain, padahal tanahnya subur. Keadaan serupa dapat kita jumpai di berbagai bagian pulau Jawa, dan sampai batas-batas tertentu juga melanda tanah sabrang. Itu belum lagi kita berbicara tentang pembalakan kayu secara liar di pulau-pulau lain di nusantara. Apakah Sumatra yang pernah disebut Pulau Harapan tempo doeloe pada saatnya nanti hanyalah sebuah ilusi setelah hutannya dibabat secara serakah oleh mereka yang telah mati rasa? Bagaimana nasib Kalimantan, Papua, Sulawesi, Riau Lautan, dan ribuan pulau yang lain di nusantara yang terus dibencanai oleh anak-anaknya sendiri yang tidak bermoral?
Sebagian memang kerusakan hutan itu dilakukan oleh rakyat miskin yang terjepit oleh penderitaan. Tetapi skalanya tidak seberapa dibandingkan dengan pembalakan liar yang dilakukan pengusaha hitam, tentu via kongkalikong dengan aparat, bukan? Inilah Indonesia, sebuah negara kepulauan yang sebenarnya masih cantik, tetapi karena perbuatan amoral dari sebagian anaknya, kecantikan itu semakin redup, pupus dan kusam.
Akhirnya, peringatan Walhi mohon jangan dianggap angin lalu, sebab bencana demi bencana telah terlalu banyak makan korban dan akan terus makan korban. Diperkirakan tahun 2007 situasinya akan semakin parah, kecuali yang berkuasa dan masyarakat luas di negeri ini mau memasang mata dan telinga untuk membaca dan mendengar seruan ini: SOS! Bukankah kata Walhi, ''83 persen wilayah kita rawan bencana?''
|