Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jan 09 2007
Ditabrak dan Terima Kasih Pak Pangai PDF Print E-mail
Tuesday, 09 January 2007

Jumat, 5 Januari 2007, sekitar jam 11.45, saya ditabrak pengendara sepeda motor, persis menjelang ujung Jl. Simanjuntak bagian utara, Yogyakarta, ketika hendak menyeberang setelah turun dari bus kota Damri yang sedang berhenti pada lampu merah. 

Kelengahan saya adalah yang dilihat hanyalah yang di depan, yang di belakang terabaikan dengan perkiraan tidak akan ada kendaraan yang akan mendahului bus ketika berada di depan lampu merah. Baru saja melangkah di depan bus untuk cari becak menuju masjid Syuhada, tanpa dinyana sebuah sepeda motor yang sudah berumur menabrak saya dari samping kanan.

Saya terjatuh, motor roboh, pengendaranya terjerembab. Celana saya sobek di bagian lutut yang sudah berdarah, tetapi saya cepat bangun dalam keadaan tertatih-tatih. Pengendara motor mengatakan mengapa saya tidak menengok ke belakang saat hendak menyeberang. Karena tubuh saya merasa sakit, kami akhirnya berdamai saja, lalu bersalaman untuk berpisah. Saya tidak sempat bertanya lagi tentang kondisi motornya, tetapi tampaknya tidak ada kerusakan berat.

Di samping luka lutut, siku kanan, dan betis kiri saya juga sedikit cedera. Dalam kondisi yang agak oleng saya berusaha mendapatkan obat. Akhirnya saya mendapatkannya di warung fotokopi Angkasa, di seberang Jl. Simanjuntak, sisi kiri jika kita datang dari arah utara. Semua luka saya olesi dengan obat merah itu. Sekalipun terasa perih, setidak-tidaknya saya merasa sudah aman untuk meneruskan perjalanan dengan becak ke Syuhada untuk sebuah urusan agak penting, di samping shalat Jumat. Kepada karyawan Angkasa, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan obat luka yang telah memberi rasa aman itu.

Mengapa saya harus "nekat" seperti ini? Mengapa tidak pakai mobil saja untuk menempuh jarak sekitar tujuh km ke arah timur dari Nogotirto itu? Jawabannya sederhana saja: karena sifat kampung masih tetap setia di usia saya 72 tahun ini. Ceritanya begini. Dari rumah ke jalan Godean saya naik sepeda, kemudian dititipkan untuk dilanjutkan dengan bus kota sampai ke tempat kejadian di atas. Padahal mobil sudah saya siapkan dari pagi. Entah apa pula sebabnya, timbul perasaan malas untuk mengeluarkannya dari garasi. Ketika saya pamit, isteri saya bertanya, naik apa? Naik sepeda, jawab saya. Mengapa tidak diantar tukang (yang kebetulan sedang bekarja di rumah yang sedang dibangun), katanya. Jika saran isteri saya dengarkan, tentu sifat "nekat" itu tidak akan muncul di sini.

Apa urusan agak penting ke Syuhada itu? Ini berkaitan dengan Resonansi yang berjudul "Tugimin, Sepeda Tua, dan Masjid Syuhada" (Republika, 27 Juni 2006). Saya mencari Tugimin yang menjadi "pemain utama" dalam Resonansi itu. Sebelumnya saya sudah pesan pada satpam masjid, agar Tugimin datang ke rumah. Setelah ditunggu berhari-hari, tidak juga muncul. Maka saya putuskan untuk mencarinya ke Syuhada, dan berjumpa. Setelah dipanggil, saya sampaikanlah berita berikut:

Di bandara Sukarno-Hatta, pada 21 Desember 2006, saya disapa oleh seorang pengusaha bernama H. Ibrahim Pangai, S.H., Dirut P.T. Windu Jaya Utama, yang berkantor di Jakarta. Pak Pangai hari itu dalam perjalanan bisnis ke Surabaya. Tanpa diperkirakan, Pak Pangai merasa tersentuh oleh cerita tentang Tugimin yang sudah mengabdi di Syuhada sejak tahun 1961 dengan gaji Rp 95 per bulan. Tugimin mau dihajikannya.

Tentu saja saya sangat senang menyambut niat baik itu. Dalam rangka itulah saya mencari Tugimin ke Syuhada. Adapun tentang tabrakan tidak saya ceritakan kepada sahabat kita ini, tetapi Ketua Takmir Drs. H. Barmawi Mukri, S.H., memang saya perlihatkan luka di lutut dan celana yang sobek. Tugimin saya minta untuk mengucapkan terima kasih kepada Pak Pangai atas segala kebaikannya untuk menghajikan pekerja sosial Syuhada yang sudah berlangsung selama 46 tahun ini.

Sebuah sepeda perempuan tua masih tetap setia mengantarkannya ke mana pun harus bertugas untuk kepentingan masjid. Ada pun saya ditabrak, mungkin sebagai ongkos kelalaian seorang sepuh seusia saya ini, sebab sebelum berangkat tidak ada yang ingin saya lakukan kecuali menemui Tugimin yang kulit wajahnya telah semakin menghitam dihantam terik matahari. Terima kasih Pak Pangai!

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Perspective MAC
Lynda Windows 7 Essential Training
Adobe Contribute CS5 for Mac
Office Time MAC
Nuance ScanSoft PaperPort 11 Professional
Microsoft Visio Standard 2010
Autodesk AutoCAD Electrical 2010 32 & 64 Bit
Quite A Box Of Tricks MAC
FileMaker Pro 11 Advanced
Apple Final Cut Express 4 for Mac