Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jan 23 2007
Cabut Mandat SBY-Kalla? PDF Print E-mail
Tuesday, 23 January 2007

Keresahan dan ketidakpuasan publik terhadap situasi dan kondisi bangsa yang belum juga membaik telah memancing reaksi yang beragam dari anggota masyarakat. Mereka yang masih sabar dalam proses berdemokrasi ingin membiarkan kepemimpinan SBY-Kalla bertahan sampai batas waktu yang ditentukan konstitusi sampai lima tahun. Jika rapor kinerjanya ternyata banyak angka merahnya, pemilulah yang akan mencabut mandatnya, bukan demonstrasi jalanan. 

Jika dibandingkan dengan rezim Presiden George W Bush dengan petualangan politik luar negerinya yang imperialistik yang telah mengucilkan Amerika dari pergaulan dunia, SBY-Kalla bukanlah petualang. Sebenarnya mereka punya peluang emas untuk memenuhi janji pemilu karena tidak muncul kontroversi besar selama lebih dua tahun berkuasa. Adapun musibah yang datang berutun selama pemerintahan ini, janganlah ditafsirkan secara mistis lantaran alam telah beroposisi, seperti yang saya dengar di kalangan sejumlah pihak yang risau dengan keadaan.

Adapun Bush tampaknya akan membayar mahal petualangannya. Dalam pemilu presiden Amerika tahun depan, besar kemungkinan calon Partai Republik akan kalah fatal sebagai akibat langsung dari petualangan di atas, khususnya karena kelakuan buruk dan busuk Bush yang telah memorakporandakan Irak. SBY-Kalla tidak melakukan petualangan yang serupa itu, seperti mengulangi jejak konfrontasi terhadap Malaysia, misalnya. Jangankan untuk melakukan politik gagah-gagahan, SBY-Kalla tampaknya sedang lelah menghadapi masalah domestik yang semakin ruwet dan memprihatinkan.

Berbeda dengan Bush yang koppig (keras kepala), SBY sebenarnya berpenampilan sipil yang terkesan tidak tegas dan ragu-ragu, bukan sebagai mantan jenderal. Jika disandingkan dengan Sutiyoso atau Wiranto, sekalipun sudah pensiun, aroma militernya masih belum hilang, dan mungkin tidak akan pernah hilang. Di sinilah terletak kekuatan SBY dan sekaligus merupakan titik kelemahannya. Dengan penampilan yang sopan disertai kalimat-kalimat yang teratur bila bertutur, SBY tampak memukau.

Tentu di sebuah bangsa yang compang-camping seperti Indonesia sekarang ini, citra yang anggun semata jelas tidak memadai, jika tidak diikuti oleh langkah-langkah terobosan untuk memberikan peta baru tentang Indonesia yang sarat dengan beban masalah. Oleh sebab itu, tekad SBY untuk menggunakan bahasa 'terang dan tegas' sedang dinantikan oleh anak-anak bangsa ini secara keseluruhan.

Jika peta baru ini tidak juga kunjung menjadi kenyataan, sementara lautan kemiskinan tidak semakin menyusut, maka adalah logis legitimasi moral dan sosial SBY-Kalla akan melorot tajam pada saatnya, sekalipun secara konstitusional legitimasi itu masih dimiliki. Dalam dialog delegasi Kopebang dengan Presiden SBY didampingi para menterinya akhir 2006 di Istana Merdeka, mungkin saya agak ekstrem mengatakan kalimat ini di akhir pertemuan, ''Jika keadaan bangsa dan negara kita tidak juga kunjung membaik, maka tidak mustahil Indonesia pada akhirnya akan masuk ke dalam museum sejarah.'' Kontan Presiden menjawab, ''Semoga itu tidak akan terjadi, kita harus bangkit segera.''

Apakah jawaban ini merupakan ungkapan lain dari bahasa 'terang dan tegas' itu? Mari kita tunggu dalam beberapa minggu ini. Karena waktu bergulir demikian kencang, memang ruang gerak SBY-Kalla menjadi semakin sempit. Tahun 2009 adalah saat penentuan, apakah mandat mereka akan diperpanjang atau dicabut rakyat untuk tidak dipilih lagi, akan sangat bergantung pada kinerja keduanya dalam melaksanakan amanah konstitusi untuk menyejahterakan rakyat dan menegakkan keadilan secara nyata. Adapun gerakan untuk mencabut mandat sebelum itu, di samping tidak konstitusional, besar kemungkinan akan berakhir dengan kegagalan, kecuali jika apa yang disebut people's power benar-benar tumpah ruah ke Jakarta, seperti yang berlaku tahun 1966/1967 dan tahun 1998.

Namun, gerakan-gerakan yang bertujuan untuk sebuah perubahan radikal sepatutnya disikapi SBY dengan cara positif, yaitu dengan mengubah secara radikal pula gaya kepemimpinan yang terkesan lamban selama ini menjadi lebih berani dengan bahasa dan tindakan yang benar-benar 'terang dan tegas'. Bangsa ini sudah dalam keadaan setengah terkapar karena menanti dan menanti perbaikan yang belum juga kunjung tiba, sementara negara-negara tetangga sudah semakin melaju dan melaju dengan kepemimpinan nasional yang lebih berani dan efektif.

Atau, memang bangsa dan negara kepulauan ini terlalu besar dan luas untuk diurus dari Jakarta? Tetapi, mengapa rezim penjajah bisa mengurusnya, sekalipun dengan cambuk dan cemeti? Di alam kemerdekaan, bahasa cambuk dan cemeti harus diubah dengan bahasa arif tetapi tegas, sesuatu yang terasa lemah sekarang ini. Tenggang waktu tiga tahun tidak lama, tetapi masih bisa berbuat yang maksimal untuk mengurangi jumlah orang miskin dalam angka sekitar 40 juta itu.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Optipix MAC
Autodesk Entertainment Creation Suite Premium 2012
Autodesk Revit MEP 2011
Apple Logic Express 9
Bigasoft BlackBerry Ringtone Maker
Autodesk Quantity Takeoff 2012
Adobe Illustrator CS5
Bento 2 for MAC
Autodesk AutoCAD Civil 3D 2010 32 & 64 Bit
Acronis Migrate Easy 7