|
Bulan Mei 2006 Dr Rizal Sukma dari CSIS menghadiahi saya sebuah karya terbaru Francis Fukuyama, America at the Crossroads: Democracy, Power, and the Neoconservtive Legacy. (New Haven and London: Yale University Press, 2006, 194 hlm plus catatan dan indeks).
Seperti tergambar pada judulnya, di mata pemikir sosial politik Amerika yang punya darah Jepang ini, negara adikuasa di bawah rezim Bush ini sedang berada di persimpangan jalan, terutama karena kesalahan fatal dalam politik luar negerinya yang menyerbu Irak dengan alasan-alasan yang dicari-cari.
Invasi itulah yang menjadi faktor utama mengapa Fukuyama harus mengucapkan sayonara kepada teman-teman lamanya dari kubu neokonservatif, baik yang turut dalam rezim imperialistik itu, maupun yang berada di luarnya. Fukuyama, penulis buku The End of History and the Last Man (1992) yang kontroversial tapi laris itu, memang tidak melihat alasan logis apa pun mengapa Bush harus bertualang di Irak yang telah membunuh rakyat negeri itu dan tentara Amerika dalam jumlah puluhan ribu.
Bukan saja itu, akibat invasi itu, perang saudara telah pula merebak di Irak, rakyat dari berbagai aliran tiap hari terlibat dalam pesta maut. Hukum gantung terhadap Saddam Husein akhir tahun yang lalu malah semakin memperparah situasi yang memang sudah mendidih. Amerika memang tidak pernah belajar dari pengalaman pahitnya di Vietnam yang menggantikan posisi penjajah Prancis di negeri Ho Chi Minh itu pada 1954, kemudian harus angkat kaki sebagai pihak yang kalah perang pada 1975.
Sekalipun Irak yang terpecah tidak sama dengan Vietnam yang relatif bersatu di bawah Ho Chi Minh, tidaklah mudah bagi Bush untuk menundukkan Negeri 1001 Malam itu, sekalipun pasukan ditambah lebih banyak lagi. Bush pada akhirnya pasti gagal merealisasikan mimpinya untuk 'mendemokrasikan' Irak, istilah lain dari tindakan menguasai Irak yang kaya dengan minyak itu. Dunia mengetahui betul betapa busuknya akal bulus Bush ini untuk menguasai negara lain.
Menurut Fukuyama, ada tiga argumen rezim Bush untuk melancarkan perang terhadap Irak, tetapi sebagian besar palsu, tak terbukti. Pertama, Irak dituduh memiliki senjata pemusnah massal dan dalam proses untuk menambahnya; kedua, Irak terkait dengan Alqaidah dan organisasi teror lainnya; ketiga, Irak adalah sebuah rezim diktator tiranik yang harus dirobohkan sehingga rakyat Irak menjadi bebas. (Lih hlm 78-79).
Keputusan untuk memerangi Irak memang terkait dengan Tragedi 11 September 2001 yang menyebabkan Bush menjadi megalomaniak (merasa selalu dihantui oleh ancaman). Irak dinilai cukup potensial untuk mengancam kepentingan Amerika berdasarkan alasan satu dan dua di atas. Tetapi karena semuanya palsu, Bush lalu menumpukan perhatian terhadap argumen ketiga. Pertanyaan serius segera muncul di sini: apa hak Amerika untuk memerangi negeri lain, sekalipun berada di bawah rezim tiranik? Bahwa Saddam seorang diktator, semua orang tahu. Tetapi, mengapa Amerika sebelumnya begitu getol melindungi diktator Shah Iran yang tidak kurang busuknya dibandingkan Saddam?
Bagi seorang Bush, pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak penting, pokoknya sebuah preemptive strike (pukul dulu, urusan di belakang) harus dilakukan. Maka, berlakulah apa yang berlaku. Amerika dengan dukungan Inggris dan beberapa negara lain telah mengobarkan perang imperialis yang menyebabkan Irak berantakan dan berkeping-keping. Amerika terkucil dari pergaulan dunia, tetapi tetap saja nekat, karena hati nurani memang telah tumpul.
Sudah dapat dipastikan petualangan Amerika di Irak akan berujung dengan sebuah kegagalan dengan meninggalkan negeri itu berdarah-darah, entah sampai kapan. Maka benarlah Fukuyama bahwa citra Amerika di mata dunia semakin suram dan kejam: "Citra dominan Amerika bukanlah Patung Liberty, tetapi foto-foto penyiksaan (terhadap tawanan Irak) di penjara Abu Ghuraib." (Hlm 187). Alangkah sukarnya penguasa belajar dari sejarah!
|