|
Dari sudut pandangan filsafat moral, yang betul adalah doktrin ''kebenaran adalah kekuatan'', tetapi dalam kenyataan politik dunia yang sering berlaku sejak dahulu kala adalah kebalikannya, yaitu ''kekuatan = kebenaran''.
Peta hitam ini sudah berusia ribuan tahun, dimulai pada saat Qabil membunuh adiknya Habil, karena paras calon istri sang adik lebih ayu daripada paras calon istrinya sendiri, saudara kembar Habil. Qabil mengandalkan kekuatan fisiknya untuk menghabisi nyawa adik kandungnya sendiri dengan mengkhianati kebenaran. Di sini kebenaran telah ''dikalahkan'' oleh kekuatan.
Alquran mengabadikan kisah itu dalam surat Almaidah ayat 27-32. Sekalipun Qabil sepintas lalu tampak sebagai pemenang, pemihakan kemanusiaan tidak pernah beranjak, tetap kepada Habil yang tulus dan bertakwa. Cerita ini menunjukkan bahwa fenomena pembunuhan sama usianya dengan usia manusia.
Oleh sebab itu, agar dunia ini tidak semakin kelam dan penuh onar, Allah mengirimkan para nabi dan rasul membawa cahaya untuk menyinari manusia agar jangan terus bertualang dalam dosa dan dusta, karena risikonya hanya satu: Harakiri peradaban. Ternyata kalkulasi otak manusia semata tidak berdaya mengurangi kejahatan, jika tidak didampingi wahyu yang kira-kira memberikan peringatan keras kepada akal: ''Engkau terbatas, akulah pendampingmu ke jalan yang lurus, jalan kebenaran, dan jalan keadilan.''
Sebenarnya Adam telah menunjukkan jalan keluar kepada Qabil dan Habil agar keduanya bersedia berkurban. Kurban Habil berupa ternak yang yang sehat dan baik diterima Allah, sedangkan kurban Qabil berupa hasil pertanian yang buruk ditolak. Karena kurban Habil yang diterima, maka yang berhak mengawini saudara kembar Qabil adalah Habil. Dari sinilah bermulanya pangkal sengketa itu yang berujung dengan dibunuhnya Habil.
Para pengikut Qabil terus bergentayangan sepanjang sejarah. Praktik hitam dan kejam inilah yang diteruskan oleh Bush dan para pendukungnya. Mari kita tukikkan perhatian kita kepada kondisi dunia di awal abad ke-21, sebuah abad yang semakin mempertontonkan kepercayaan hitam berupa ''kekuatan = kebenaran''. Korban terbesar adalah bangsa-bangsa Muslim yang tak berdaya, Palestina, Afghanistan, dan Irak. Ketiga bangsa ini punya masalah-masalah domestik yang ruwet, seperti perpecahan, penguasa zalim, dan bermacam persoalan yang berketiak ular, tak habis-habisnya.
Palestina sudah 59 tahun menjadi bangsa teraniaya oleh Israel dengan dukungan kuat Amerika berdasarkan pseudo-argumen: Apa yang baik bagi Israel, baik bagi Amerika. Darah rakyat Palestina sudah terlalu banyak tertumpah, demi meraih kemerdekaan penuh.
Sayangnya akhir-akhir ini polarisasi antarfaksi politik di sana malah semakin tajam, dan sering terjadi bentrokan bersenjata yang sangat menggerogoti persatuan. Yang untung adalah Israel yang memang tidak ingin melihat sebuah Palestina merdeka. Penyakit perpecahan tampaknya sudah menjadi fakta keras di kalangan bangsa Arab umumnya. Islam seakan-akan telah kehilangan daya rekat yang tangguh karena yang tersisa adalah Islam sebagai warisan sejarah, bukan pedoman hidup.
Nasib Afghanistan tidak kurang kelamnya. Bangsa miskin ini di era modern pernah diduduki Uni Soviet dan membentuk pemerintah boneka. Boneka ini ditumbangkan oleh rakyat Afghan sendiri dengan bantuan Amerika dalam kerangka perang dingin ketika itu.
Tetapi nasib malang datang lagi, saat Taliban ambil alih kekuasaan dengan mendirikan pemerintahan para mulla di sana. Pada tahun 2001 terjadilah Tragedi 11 September yang sangat menggoncangkan jagat raya. Usamah bin Ladin dituduh sebagai otaknya yang bersembunyi di Afghanistan. Tidak ayal lagi Amerika memimpin koalisi bangsa-bangsa untuk menggempur negeri miskin ini. Rezim Taliban runtuh, tetapi tidak sepenuhnya kalah.
Sekalipun yang resmi berkuasa adalah bangsa Afghan, kendalinya berada di Washington. Amerika untuk sekian kalinya mempertontonkan peta ''kekuatan = kebenaran''. Tidak peduli orang lain sengsara, petualangan imperialis tidak boleh dibendung oleh siapa pun, ''karena aku paling perkasa di muka bumi.''
Irak yang kaya minyak kemudian mendapat giliran untuk diluluhlantakkan. Rezim otoritarian Saddam digulingkan dengan 1.000 dalih. Sadam digantung pada akhir 2006, tetapi keadaan tidak semakin aman. Sekarang Amerika bahkan telah menambah lagi 21.000 jumlah tentarannya. PBB tidak dapat berbuat apa-apa. Dunia Muslim pun paling banter hanya bisa berteriak, sedangkan kebiadaban Amerika semakin beringas saja.
Akhirnya selama orang masih percaya bahwa ''kekuatan = kebenaran'', selama itu pulalah planet bumi ini akan tetap menjadi neraka bagi umat manusia, dan pengikut Qabil akan tetap saja bertualang membuat onar dan menebarkan maut. Tetapi tentu masih ada keyakinan ini: ''Jika memang peradaban yang berwajah adil dan ramah yang dirindukan benar-benar telah dihadapkan kepada jalan buntu, maka iman kita mengatakan bahwa Langit pasti tidak akan tinggal diam untuk membela pilar-pilar keadilan dan kebenaran dengan cara dan mekanismenya sendiri.'' Siapa tahu usia kita masih sempat menyaksikan tentang bagaimana bentuk solusi yang akan ditunjukkan itu.
|