|
Selain Hatta dan Adam Malik sebagai wakil presiden pada periode yang lalu, baru Jusuf Kalla (JK) yang berani berkata terus terang kepada seorang presiden. Wakil presiden selain yang tiga itu sangat menenggang perasaan presiden, termasuk Sri Sultan Hamengkuwono IX terhadap Presiden Soeharto, sekalipun dia paham betul kesalahan sang bos.
Dengan merujuk kepada era Bung Karno, kepada Sultan yang sekarang pernah secara langsung saya sampaikan kalimat ini: "Sekiranya HB IX dulu mau berterus terang kepada Bung Karno tentang kebijakannya yang menyimpang, tentu Indonesia tidak akan seburuk ini." Jawaban HB X, "Itulah ayah saya, sambil beliau mengatakan, engkau harus lebih berani." Saya tidak tahu apakah HB X melaksanakan nasihat ayahnya atau tidak, bukan lagi urusan saya.
Coba Anda baca dengan cermat nama-nama si pemberani di atas: Hatta, Adam Malik, dan Jusuf Kalla, semuanya berasal dari subkultur sabrang dengan semangat egalitariannya yang masih bertahan. Adapun si sabrang yang telah kehilangan semangat berani menghadapi atasan juga tidak kurang jumlahnya, tetapi tidak cukup etis bagi saya untuk menyebutnya di sini, sekalipun saya punya daftarnya.
Apa kata JK tentang SBY? Dalam ceramahnya di depan sekitar 1.041 kader Partai Demokrat (PD) di Hotel Sahid Jaya pada 3 Maret yang lalu, JK mengatakan kalimat ini: "Saya sampaikan kepada SBY, apa pun yang Anda katakan pada tahun 2009, kata awalnya harus 'Saya telah melaksanakan'. Itu yang dikatakan seorang incumbent.' Kalau masih 'Saya akan', rakyat akan bertanya, 'Saudara lima tahun ini bikin apa saja kalau masih akan-akan'" (Lih. Kompas, 4 Maret 2007, hlm 2).
Sebuah keterusterangan yang segar bagi kepentingan demokrasi, sekalipun bagi subkultur nonsabrang kritik itu boleh jadi dirasa kurang sedap. Bahkan, bagi sejumlah orang sabrang yang punya rasa tenggang rasa berlebihan, cara JK mungkin dinilai sudah di luar kewajaran sambil menggerutu: "Kok jadi begini, bukankah duet itu dulu bersemboyan bersama kita bisa, sekarang JK malah bersikap begitu."
Bagi saya manusia sabrang yang secara kultural telah merasa kalah akibat pemberontakan daerah dulu, harus secepatnya memulihkan rasa harga dirinya, demi demokrasi. Tanpa sikap berani berterus terang dalam batas-batas kesopanan dan konstitusi, jangan berharap demokrasi akan tegak di nusantara ini. Warisan kultur yang serba feodal masih cukup tebal dan kental di kalangan sejumlah elite Indonesia, sekalipun mulut berbusa-busa bicara demokrasi. Anda jangan bermimpi akan sebuah demokrasi yang kuat dan sehat jika para pendukungnya bermental setengah budak. Demokrasi memerlukan manusia-manusia merdeka penaka rajawali, bukan manusia kelelawar yang matanya redup di siang bolong, tetapi manusia ini santun dalam bertutur, sopan dalam pergaulan.
Jika JK telah berterus terang tentang SBY, JK juga harus berterus terang tentang dirinya. Bukankah karena dorongan kuat JK, SBY yang semula sangat ragu, akhirnya BBM dinaikkan dengan dampaknya yang sangat luas bagi lautan kemiskinan di Indonesia, apa pun alasan yang dipakai untuk pembenarannya? Jasa JK memang besar dalam proses peredaan konflik di Indonesia. Sebagai seorang pengusaha yang cepat berpikir dan bertindak, JK harus dicatat sebagai seorang wakil presiden yang telah membuang mitos ban serep yang selama ini begitu melekat dalam posisi wakil presiden. SBY sangat diuntungkan oleh terobosan-terobosan JK, sekalipun barangkali sering merasa terganggu oleh cara manusia sabrang yang satu ini.
Indonesia yang tidak normal ini memerlukan pemimpin yang mau berjibaku untuk kepentingan hari depannya. Jika perlu agak sedikit gila seperti Ali Sadikin, yang dinilai agak berhasil membenahi Jakarta pada masanya. Jakarta yang saban tahun menjadi langganan banjir, yang terbesar terjadi awal 2007, era terakhir bagi Gubernur Sutiyoso, benar-benar memerlukan seorang gubernur yang 'gila' itu.
Sebagai catatan pungkasan, sebuah Indonesia akan kokoh jika kekuatan subkultur Jawa dan subkultur sabrang ditempatkan dalam posisi saling melengkapi, bukan saling berhadapan seperti masa Bung Karno dan Bung Hatta yang akhirnya berantakan. Keretakan keduanya ternyata berakibat terlalu buruk bagi bangsa ini secara keseluruhan. Itulah sebabnya berulang kali saya katakan bahwa para elite bangsa ini harus dibekali pengetahuan yang cukup untuk saling mengenal kekuatan dan kelemahan subkultur masing-masing. Ini pulalah yang pernah saya sampaikan kepada JK agar pandai-pandai bermain politik di atas panggung subkultur yang kaya dan beragam, tetapi jelas tidak selalu mudah.
|