|
Albert Einstein (1879-1955), kelahiran Jerman yang pada 1940 menjadi warga negara Amerika, lebih dikenal sebagai fisikawan dengan teori relativitasnya. Jarang kita tahu bahwa Einstein di hari-hari tuanya juga seorang pemikir filosofis yang tajam dan reflektif. Komentarnya tentang agama, seni, ilmu, dan moral masih tetap relevan dengan suasana dunia di permulaan abad ini. Sebuah hasil renungan yang mendalam memang dapat melintasi bilangan kurun dan abad.
Dalam salah satu karyanya berjudul Out of My Later Years (New York: Philosophical Library, 1950), kita akan menemukan pandangan-pandangan singkatnya tentang berbagai masalah aktual yang dihadapi dunia dan umat manusia. Kita kutip bagian tulisannya yang muncul tahun 1937, tidak lama jelang meledaknya Perang Dunia II (1939-1945).
"Semua agama, seni, dan ilmu adalah cabang-cabang belaka dari pohon yang sama, bertujuan untuk memuliakan hidup manusia, mengangkatnya dari lingkungan yang semata-mata eksistensi fisikal dan membimbing individu ke arah kebebasan. Bukanlah hanya karena kebetulan universitas-universitas yang lebih tua berkembang dari sekolah-sekolah kependetaan. Baik gereja maupun universitas --sepanjang keduanya menjalankan fungsinya yang benar-- mengabdi kepada kemuliaan individu. Semuanya berupaya untuk memenuhi tugas besar ini dengan jalan menebarkan pengertian moral dan kultural, menolak penggunaan kekuatan kejam dan kasar." (Hlm 9).
Simak baik-baik ungkapan 'penggunaan kekuatan kejam dan kasar' (brute forces). Bukankah 'kekuatan kejam dan kasar' seakan-akan telah menjadi norma dunia modern dengan jubah demokrasi dan hak-hak asasi manusia? Bahwa demokrasi dan hak asasi manusia itu baik dan perlu ditegakkan, kita sepenuhnya sepakat. Tetapi, jika semuanya dipakai sebagai kedok untuk menutupi nafsu menjajah untuk menguasai kekayaan bangsa lain, jelas merupakan pelanggaran moral yang sangat serius dan tidak dapat dimaafkan. Oleh sebab itu, harus dilawan dengan cara kita masing-masing, tetapi tidak memakai "kekuatan kasar dan kejam."
Einstein memuji Mahatma Gandhi dengan perlawanan non-violent-nya terhadap brutalitas Eropa. Inilah lukisan Einstein tentang Gandhi: "Seorang pemimpin rakyatnya, tanpa dukungan otoritas luar manapun, seorang politikus yang keberhasilannya tidak terletak atas keahlian, juga tidak karena penguasaan peralatan teknikal, tetapi semata-mata atas kekuatan kepribadiannya yang meyakinkan." (Hlm 240).
Jika kita jejerkan dengan pemimpin yang haus darah, lapar kekuasaan yang di mata Einstein adalah pertanda kebobrokan, maka contoh yang diperagakan Gandhi memang patut dibanggakan. Kita bisa membayangkan betapa sengit dan dahsyatnya sikap yang akan diambil Einstein dan Gandhi sekiranya mereka sempat menyaksikan drama brutalitas terhadap Afghanistan dan Irak, dua bangsa malang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam menghadapi para penjarah yang kasar dan kejam, dengan tidak menafikan kondisi domestik keduanya yang juga sarat masalah.
Rahim dunia sekarang ternyata telah menjadi mandul untuk melahirkan pribadi-pribadi kokoh penaka karang, seperti Gandhi dan Einstein, untuk melawan segala bentuk kekejaman, kekasaran, dan sikap semau gue. PBB yang bertugas untuk memelihara perdamaian dunia menjadi tidak berkutik berhadapan dengan negara adikuasa yang hobinya merampok kedaulatan negara lain. Keputusan Dewan Keamanan dengan 16 anggota, tetap dan tidak tetap, untuk menjatuhkan sanksi atas Program Nuklir Iran sementara Israel tidak diberi sanksi apa-apa adalah pertanda bahwa dunia modern semakin tidak adil dan tidak beradab. Kita tidak tahu ungkapan semacam apa yang akan ke luar dari mulut dan tangan Einstein sekiranya dia sempat menonton gelombang kebiadaban dan brutalitas yang dilakukan rezim Bush dan para pendukungnya terhadap bangsa-bangsa lemah di muka bumi.
|